Empat Sifat Manusia Menurut Imam Al-Ghazali yang Menentukan Arah Hidupmu

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara ciptaan Allah. Kesempurnaan ini bukan karena bentuk fisik atau kecerdasan semata, melainkan karena manusia dianugerahi perangkat kehidupan yang lengkap: akal, hati, nafsu, dan ruh.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin : 4).

Namun, kesempurnaan itu bukan berarti manusia otomatis menjadi makhluk mulia. Sebab, di dalam diri manusia bersemayam berbagai potensi yang bisa mengantarkannya menjadi lebih tinggi dari malaikat, atau justru terjerembab lebih rendah dari hewan.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimiya’us Sa’adah menjelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat empat kecenderungan: sifat bahīmiyyah (sifat hewan ternak), sifat sabu’iyyah (sifat hewan buas), sifat syaithaniyyah (sifat setan), dan sifat malakiyyah (sifat malaikat). Keempat sifat ini saling tarik-menarik dan berkompetisi di dalam diri manusia. Kemenangan salah satu di antara mereka akan menentukan arah hidup dan tingkat kebahagiaan seseorang.

Pertama, Sifat Bahīmiyyah (Hewani)

Sifat ini muncul dari dorongan naluriah untuk memenuhi kebutuhan jasmani: makan, minum, tidur, dan kenikmatan seksual. Jika sifat ini terlalu dominan, manusia hidup hanya untuk memuaskan perut dan syahwat. Hidupnya berkisar antara dapur dan ranjang, seolah tak ada nilai lain selain kesenangan fisik. Allah mengingatkan dalam surah Muhammad ayat 12:

الَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir bersenang-senang (di dunia) dan makan sebagaimana hewan ternak makan, dan nerakalah tempat tinggal mereka.”

Bukan berarti manusia harus menolak kebutuhan jasmani, sebab Islam mengajarkan keseimbangan. Namun ketika kesenangan dunia menjadi pusat hidup, manusia kehilangan kemuliaannya sebagai makhluk berakal.

Kedua, Sifat Sabu’iyyah (Kebuasaan)

Sifat ini mendorong manusia untuk menaklukkan, menguasai, dan menundukkan yang lain. Ia lahir dari ambisi, rasa iri, dan keinginan untuk selalu di atas. Manusia yang dikuasai sifat ini akan merasa puas jika bisa mengalahkan atau merendahkan orang lain, baik dalam hal harta, kedudukan, maupun keilmuan. Mereka menganggap dunia adalah arena pertempuran, bukan ruang persaudaraan. Padahal Nabi Muhammad pernah bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Ambisi itu diperbolehkan, akan tetapi kesombongan adalah racun yang mematikan. Sifat buas yang tak dikendalikan akan menggerogoti hati hingga manusia menjadi tiran bagi sesamanya.

Ketiga, Sifat Syaithaniyyah (Setan)

Ini adalah kecenderungan untuk menipu, menebar keburukan, dan menentang kebenaran. Sifat ini membuat manusia bangga dalam kemaksiatan dan merasa cerdas ketika menipu atau memperdaya.

Sifat ini adalah bentuk kesombongan intelektual, ketika akal digunakan bukan untuk mencari kebenaran, tapi untuk membenarkan hawa nafsu. Dalam hal ini, Allah telah memperingatkan hambanya melalui firmanNya dalam surah Al-Baqarah (2): 168:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Setan tidak selalu berwujud makhluk gaib. Kadang, setan itu adalah bisikan dalam diri yang membisikkan: “Tidak apa-apa, yang penting kamu bahagia.”

Keempat, Sifat Malakiyyah (Malaikat)

Inilah sifat yang menjadi puncak kemuliaan manusia: kecenderungan untuk taat, beribadah, menebar kebaikan, dan mencari ridha Allah. Manusia yang dikuasai sifat ini merasa tenang saat berzikir, bahagia saat menolong orang lain, dan damai ketika mendekat kepada Tuhannya.

Allah menggambarkan golongan ini dalam firman-Nya, QS. Ar-Ra’d : 28:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Sifat malaikat tidak berarti manusia harus meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai ladang amal menuju akhirat.

Keempat sifat ini tidak akan pernah hilang dari diri manusia. Yang dituntut bukan menghapus salah satunya, melainkan menyeimbangkan dan menundukkan semuanya di bawah kendali akal dan iman.

Imam Al-Ghazali menegaskan, manusia yang mampu menyeimbangkan keempat sifat itu akan mencapai kebahagiaan sejati (as-sa’adah al-haqiqiyyah). Ia tidak diperbudak nafsu, tidak diperdaya setan, dan tidak tertipu oleh dunia sebagai mana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Perjalanan hidup manusia sejatinya adalah perjuangan batin: menundukkan sifat hewani, mengendalikan sifat buas, menolak bisikan setan, dan menumbuhkan sifat malaikat dalam jiwa. Hanya dengan begitu manusia layak menyandang gelar ahsani taqwīm yaitu makhluk yang menjadi sebaik-baiknya ciptaan.

3

Seorang Guru yang mengabdi di Yayasan Walisongo Pecangaan, Jepara

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.