



Kita semua sepakat bahwa iman bukanlah sesuatu yang selalu berada pada satu titik yang sama. Iman itu fluktuatif, bisa naik dan bisa turun. Ada masa ketika hati terasa sangat dekat dengan amal kebaikan, namun di waktu lain, hati terasa berat untuk menjalankan ibadah. Kondisi naik-turun ini adalah sesuatu yang sangat manusiawi, dialami oleh setiap orang tanpa terkecuali.
Kesadaran bahwa iman bersifat dinamis itulah yang seharusnya membuat kita tidak mudah putus asa. Syekh Nawawi al-Bantani, dalam karnyanya Nashoihul Ibad, memberikan sebuah nasihat untuk selalu mengingat lima perkara ini.
Pertama: sibuk duniawi dan lupa menyiapkan bekal akhirat. Banyak orang larut dalam rutinitas dunia, pekerjaan, gawai, hiburan, dan urusan rumah tangga hingga melalaikan amal sebagai bekal akhirat. Padahal, Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an surah Surah Al-Asr bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran. Kesibukan dunia seharusnya tidak menghapus prioritas akhirat, karena hidup hanyalah persinggahan singkat.
Bekal akhirat tidak harus besar, tetapi harus konsisten. Senyum, sedekah kecil, dzikir, dan shalat tepat waktu adalah investasi abadi. Pesan Nabi Muhammad saw. mengingatkan agar mempersiapkan bekal sebelum datang kematian. Maka, solusi utamanya adalah mengatur ulang prioritas seperti mendahulukan kewajiban dan menjadikan aktivitas dunia sebagai ladang pahala.
Kedua: menghias rumah dunia, jangan lupa lentera kubur. Peringatan kedua ini seperti cermin indah yang memantulkan wajah kita, tapi di baliknya tersembunyi bayang gelap. Kita rajin menghias rumah agar nyaman untuk ditempati, tapi lupa bahwa rumah dunia ini pada hakikatnya hanyalah tempat singgah sementara. Tidak ada satu pun yang ikut menyertai perjalanan terakhir kita, kecuali amal saleh, itulah lentera abadi yang akan menerangi di liang lahat.
Lentera itu sebenarnya tidak harus berupa sesuatu yang besar atau sulit. Ia bisa hadir melalui amal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas dan konsisten. Sedekah jariyah, misalnya, menjadi cahaya yang terus menyala, bahkan sekedar doa tulus untuk sesama juga dapat menjadi cahaya yang menenangkan kelak di liang lahat.
Ketiga: sibuk mengumpulkan harta, lupa hisab Allah yang tak terhindarkan. Peringatan ketiga mengingatkan kita bahwa di balik kesibukan menghitung dan mengumpulkan harta, ada satu perhitungan yang sering luput dari perhatian yakni, hisab.
Perhitungan-Nya bukan hanya melihat jumlah, tetapi juga sumber dan penggunaannya. Harta yang halal akan tetap dimintai pertanggungjawaban dengan penuh ketelitian. Pertanyaan yang diajukan bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak yang kita manfaatkan untuk kebaikan.
Bayangkan jika timbangan di hari perhitungan (yaum al hisab), setiap rupiah yang ditahan dari hak orang lain akan terasa seperti karung pasir yang menarik ke bawah. Saat itulah manusia menyadari bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada jumlah yang dimiliki, melainkan pada keberkahan dan keikhlasan dalam membagikannya.
Ketiga, Cinta Keluarga sebagai pintu menuju surga. Cinta kepada istri dan anak adalah fitrah yang indah dan karunia Allah yang patut disyukuri. Kehangatan rumah tangga, tawa anak-anak, kebersamaan di waktu senggang—semuanya adalah nikmat yang menenangkan jiwa.
Namun, Islam mengingatkan bahwa keluarga bukan hanya tempat berbagi bahagia dunia, melainkan amanah besar yang harus dijaga agar selamat di akhirat. Allah berfirman dalam surah Al-Qur’an (At-Tahrim: 6): “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” Ini menegaskan bahwa cinta sejati kepada keluarga bukan sekadar memberi kenyamanan, tetapi membimbing mereka menuju keselamatan abadi.
Rasulullah saw. juga bersabda dalam hadis riwayat Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rumah tangga tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim).
Maka mencintai keluarga berarti menghadirkan shalat berjamaah di rumah, membiasakan tilawah, serta saling menasihati dalam kebaikan. Keluarga bisa menjadi sebab lalai, tetapi juga bisa menjadi jalan bersama menuju surga, tergantung bagaimana cinta itu diarahkan.
Kelima, kendalikan nafsu agar mendapat ridha ilahi. Peringatan kelima ini seperti rem cerdas pada mobil laju, mencegah tabrakan sebelum terlambat. Kita sering mengikuti kehendak diri sendiri (nafsu) tanpa ragu. Akibatnya, kita lalai terhadap perintah sederhana dari Allah. Bahkan, dalam Q.S. Yusuf ayat 53, nafsu ammarah (nafsu jahat) digambarkan sebagai musuh dalam diri yang licik.
Dalam hal ini kita perlu mengendalikan nafsu secara pelan-pelan. Layaknya anak kecil, beri ia makan sehat, ajak main, hadiah taat dengan peluk hangat. Mulai lati nafsu dengan, misalnya, puasa sunnah agar ia berubah dan tunduk pada kita. Jangan biarkan nafsu menjadi tuan yang menguasai kita.
Kelima peringatan tersebut tentu patut untuk kita renungn dan yakini bahwa semua itu bukan beban, melainkan kompas agar hidup tetap seimbang menuju akhirat. Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, zuhud adalah membersihkan hati dari cinta berlebihan agar cahaya Ilahi bersinar.
Perubahan tidak perlu drastic, cukup langkah kecil yang konsisten, mengendalikan diri, menghidupkan shalat berjamaah, dan membiasakan amal sederhana, hingga menjadi karakter. Melalui keseimbangan ini kita dapat meraih kebahagiaan akhirat tanpa meninggalkan dunia, dan hidup pun terasa lebih tenang serta terarah.
Ulumni Griffith University Queensland Australia, dan UIN Malik Ibrahim Malang. Saat ini menjadi Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Gondang Mojokerto