



Di saat kemeriahan Idul Fitri yang mulai memudar dan berganti kembali pada suasana kesibukan kerja, esensi penyucian jiwa yang menjadi ruh hari kemenangan tentu tidak boleh ikut hilang. Secara esensial, Idul Fitri adalah titik balik manusia menuju keadaan ‘fitrah’ yang tertata dan terkoneksi dengan Sang Pencipta. Pertanyaannya, bagaimana kita menjaga ritme spiritual tersebut di tengah hiruk-pikuk duniawi saat ini?
Secara syariat, penyucian melalui Ramadan ini disempurnakan melalui penunaian zakat fitrah yang diwajibkan bagi setiap umat Islam, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, guna membersihkan diri dari hal-hal yang menodai nilai ibadah puasa. Namun secara esoteris (kebatinan), makna Idul Fitri dapat kita selami lebih dalam lagi dengan meminjam kacamata ilmu hikmah, salah satunya melalui pembacaan atas Kitab Mamba’ Ushul al-Hikmah.
Di kalangan awam, karya-karya ilmu hikmah klasik yang lekat dengan warisan intelektual Syekh Ahmad bin ‘Ali al-Buni sering di salah pahami, dan secara serampangan dituduh semata-mata sebagai kitab sihir. Pandangan ini merupakan kesesatan berpikir yang mengabaikan kedalaman tradisi spiritual Islam.
Kajian akademik membuktikan bahwa tradisi penulisan wifiq atau rajah di dalam Kitab Mamba’ Ushul al-Hikmah sesungguhnya adalah bentuk improvisasi dari doa dan harapan, yang berfungsi sebagai media simbolis untuk dzikir.
Huruf-huruf alfabet dan angka-angka numerik yang disusun dalam kitab tersebut, secara intra-estetik berfungsi sebagai media penghubung transendental bagi manusia untuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Tujuan utamanya tidak lain adalah untuk ibadah dan pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah SWT, sekaligus sebagai jalan tolak bala dan memohon keselamatan.
Lantas, di mana letak persinggungan antara spirit Kitab Mamba’ Ushul al-Hikmah dengan perayaan Idul Fitri?
Jawabannya terletak pada konsep “keteraturan kosmos” dan “pembersihan jiwa”. Dalam ilmu hikmah, agar sebuah doa atau wifiq dapat memiliki daya pancar spiritual, sang pengamal diwajibkan melakukan riyadhah (latihan batin), seperti berpuasa, menjauhi maksiat, menyepi (khalwat), dan mendawamkan zikir di waktu-waktu tertentu. Huruf dan angka yang disusun secara presisi merupakan simbol dari upaya manusia menyelaraskan dirinya dengan sunnatullah di alam semesta.
Hal ini beresonansi kuat dengan filosofi ibadah puasa Ramadhan yang bermuara pada Idul Fitri. Puasa menata ulang jiwa manusia yang sebelumnya berantakan akibat hawa nafsu. Lapar dan haus adalah riyadhoh untuk menundukkan ego.
Ketika Idul Fitri tiba, seorang Muslim ibarat sebuah susunan wifiq (rajah) yang telah sempurna ditulis di atas lembaran jiwa yang bersih; rapi, selaras dengan kehendak Ilahi, dan siap memancarkan energi rahmat bagi alam semesta.
Lebih jauh lagi, untaian takbir “Allahu Akbar” yang disunnahkan untuk terus didengungkan di hari raya, serta doa silaturahmi perajut ukhuwah seperti “Taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima amalan kami dan kalian) yang diajarkan sejak masa salaf, adalah formula-formula dzikir verbal yang sangat agung. Zikir ini menanamkan kesadaran bahwa keagungan hanyalah milik Allah.
Pada akhirnya, iman adalah kunci terpenting untuk meraih ketenangan jiwa. Seseorang yang berilmu dan senantiasa berdzikir, apabila jiwanya telah menemukan ketenangan (fitrah) di hari raya, maka ia akan mampu menebarkan lebih banyak maslahat bagi masyarakat. Inilah titik temu antara agama dan humanisme yang dikedepankan dalam prinsip moderasi Islam.
Idul Fitri mengingatkan kita bahwa “azimat” paling kuat dan ampuh untuk menghadapi kompleksitas kehidupan modern bukanlah rajah mistik yang dikalungkan di leher, melainkan hati yang bersih (qolbun salim), jiwa yang moderat, serta lisan yang senantiasa basah oleh dzikir dan doa kemaslahatan untuk sesama.
Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah, IAIN Parepare