



“Jangan mempertanyakan agama” merupakan salah satu ucapan yang tampaknya bernada saleh, rendah hati, dan protektif. Ucapan ini sering dilontarkan atas nama rasa hormat, iman, atau ketulusan spiritual. Dalam hal ini, pertanyaan digambarkan sebagai hal yang berbahaya karena dapat melemahkan keyakinan, mengganggu keharmonisan komunitas, atau menjauhkan individu dari Tuhan.
Namun, di balik kekhawatiran yang tampaknya religius tersebut, sebetulnya terdapat masalah politik yang mengintai. Perintah untuk tidak mempertanyakan agama jarang hanya tentang melindungi yang sakral, dan lebih sering itu tentang melindungi otoritas.
Hubungan antara agama dan pertanyaan selalu kompleks. Hampir setiap tradisi agama besar muncul melalui tindakan mempertanyakan. Para nabi mempertanyakan berhala, penguasa yang tidak adil, adat istiadat yang diwariskan, dan korupsi moral. Para pemikir agama awal memperdebatkan teologi, etika, metafisika, dan hukum dengan intensitas yang luar biasa.
Dalam tradisi intelektual Islam, perbedaan pendapat bukanlah fitur yang kebetulan. Perbedaan dan perdebatan dibangun ke dalam struktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Para ahli hukum berbeda pendapat, para teolog berdebat, para filsuf menantang asumsi yang berlaku, dan para mistikus menafsirkan kembali pengalaman spiritual.
Oleh karena itu, sejarah agama adalah sejarah interpretasi, bukan sejarah keheningan. Lalu, mengapa mempertanyakan menjadi ancaman? Jawabannya sering kali terletak bukan pada agama itu sendiri, tetapi pada politik yang melingkupinya.
Begitu agama terikat pada otoritas institusional, identitas sosial, atau legitimasi politik, mempertanyakan dapat mulai terasa mengganggu. Kritik tidak lagi diperlakukan sebagai keterlibatan intelektual tetapi sebagai pembangkangan. Dalam kondisi seperti itu, “jangan mempertanyakan agama” lebih berfungsi sebagai mekanisme kontrol alih-alih sekadar prinsip spiritual.
Mempertanyakan mengungkapkan bahwa interpretasi tidak pernah netral. Setiap pernyataan agama muncul melalui bahasa manusia, konteks sejarah, dan struktur kekuasaan. Mengajukan pertanyaan berarti mengungkap fakta bahwa tak ada otoritas yang berbicara dari mana pun. Bahkan klaim yang disajikan sebagai absolut dimediasi melalui institusi, ulama, tradisi, dan kepentingan politik. Kekuasaan tak dapat menikmati pengungkapan semacam ini.
Politik yang menghalangi kritik agama menjadi sangat terlihat ketika pertanyaan-pertanyaan tertentu diizinkan sementara yang lain dilarang. Pertanyaan tentang moralitas pribadi mungkin didorong, tetapi pertanyaan tentang otoritas institusional menjadi tabu.
Individu diminta untuk memeriksa diri mereka sendiri, tetapi bukan sistem yang mengatur mereka. Keterbukaan selektif ini mengungkapkan perbedaan penting, yaitu bahwa problemnya sering kali bukan mempertanyakan dirinya sendiri, tetapi siapa atau apa yang dipertanyakan.
Pada titik ini, agama berisiko menjadi perisai terhadap pengawasan dan bukan jalan menuju kebenaran. Masyarakat modern memperintensifkan ketegangan ini. Dalam banyak konteks, agama tidak lagi berfungsi semata-mata sebagai bimbingan spiritual, melainkan juga sebagai identitas.
Bagi komunitas yang dibentuk oleh kolonialisme, marginalisasi, atau kecemasan budaya, agama menjadi terkait dengan kelangsungan hidup kolektif. Kritik kemudian dapat dianggap bukan sebagai keterlibatan intelektual tetapi sebagai pengkhianatan. Hasilnya adalah suasana defensif di mana melindungi agama menjadi identik dengan menekan pertanyaan yang menggugat.
Namun, sikap defensif ini menciptakan bahayanya sendiri. Ketika pertanyaan dilarang, interpretasi menjadi stagnan. Bahasa agama menjadi kaku, meski realitas sosial terus berubah. Isu-isu etika yang kompleks direduksi menjadi slogan, sementara ambiguitas dan nuansa menghilang.
Yang lebih penting, otoritas yang tak tergoyahkan menciptakan lahan subur untuk manipulasi. Para pemimpin yang tidak dapat ditantang dan dipertanyakan menjadi semakin mampu menggunakan agama untuk melegitimasi kepentingan pribadi atau politik.
Sejarah berulang kali menunjukkan pola ini. Di berbagai tradisi, otoritas agama terkadang digunakan untuk membenarkan kekerasan, membungkam perbedaan pendapat, memperkuat hierarki, atau mempertahankan kekuasaan. Perkembangan ini bukan muncul karena orang terlalu banyak bertanya. Perkembangan ini justru muncul karena bertanya sudah menjadi tidak mungkin.
Keterlibatan kritis padahal tidak selalu menjadi musuh iman, dan dalam banyak kasus, justru itulah yang menjaga iman tetap hidup. Bertanya kepada agama tidak secara otomatis berarti menolaknya. Ada perbedaan mendalam antara kritik dan sinisme. Kritik mencari pemahaman; sinisme mengabaikan makna sama sekali.
Seorang penganut suatu agama yang bertanya barangkali memeluk agama lebih serius daripada seseorang yang menerima semuanya secara pasif. Pertanyaan yang jujur muncul dari pengakuan bahwa kebenaran cukup penting untuk dikejar dengan jujur.
Secara paradoks, agama seringkali menjadi lebih lemah ketika diperlakukan sebagai terlalu rapuh untuk bertahan dari pengawasan. Iman yang tidak dapat bertahan dari pertanyaan berisiko berubah menjadi ideologi, sesuatu yang dipertahankan melalui rasa takut daripada keyakinan. Tradisi yang hidup bertahan bukan karena menghilangkan keraguan, tetapi justru karena melibatkannya.
Oleh karena itu, frasa “jangan mempertanyakan agama” menyingkapkan lebih dari yang dimaksudkannya. Ia mengungkap kecemasan tentang otoritas, identitas, dan kendali, mencerminkan keinginan politik untuk menstabilkan makna di dunia di mana interpretasi selalu diperdebatkan. Namun, agama itu sendiri tidak pernah sepenuhnya statis. Ia hidup melalui interpretasi, perjuangan, refleksi, dan pembaruan.
Mungkin bahaya sebenarnya bukanlah orang mengajukan terlalu banyak pertanyaan, tetapi mereka yang berhenti mengajukan pertanyaan sepenuhnya.
Karena ketika pertanyaan menghilang, agama mungkin tetap terlihat sebagai ritual dan identitas, sedangkan vitalitas intelektual dan etisnya mulai memudar. Maka, yang bertahan bukanlah lagi tradisi hidup yang mampu menghadapi kebenaran, tetapi struktur yang terlindungi yang takut untuk diperiksa. Apa pun atau siapa pun yang takut akan pertanyaan pada akhirnya mulai takut akan kebenaran itu sendiri.
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com