Titik Temu Sunni-Syiah dalam Syair Tolak Balak, Li Khamsatun [1]

Dalam masa wabah Covid-19 di Indonesia seperti ini, banyak ijazah doa tolak balak yang kembali dibacakan di lingkungan Nahdliyyin. Salah satunya adalah pembacaan syair Li Khamsatun Utfi Bihā Harra al-Wabā…

Syair ini cukup dikenal banyak orang di Jawa, karena semenjak zaman dulu sering dilantunkan dalam bentuk pujian sebelum salat wajib dilaksanakan. Syair ini adalah ijazah dari K.H. Hasyim Asy’ari. Sebenarnya saya menerima saja dan juga mengamalkan shalawat tersebut.

Di beberapa waktu belakangan ini saya melihat banyak tulisan di media sosial yang mulai memperdebatkan beberapa hal, antara lain di akhir syair itu pada bait kedua, apakah yang benar wa al-fātimah (menggunakan artikel definite al) atau hanya tertulis wa fātimah (tanpa al). Pertanyaan lain, apakah ijazah K.H. Hasyim Asy’ari tersebut di atas bersanad atau tidak? Bersanad maksudnya apakah doa tersebut sampai pada Rasulullah Muhammad? Ingat bahwa genealogi itu sangat penting di kalangan NU.

Pada mulanya saya menikmati perdebatan tersebut. Namun, karena beberapa hari ini saya juga sedang menulis sebuah artikel dalam bahasa Inggris tentang peranan masyarakat sipil dan kapasitas negara dalam penanggulangan Covid-19. Karenanya, saya juga ingin melihat narasi Islam Indonesia tentang pandemik dan wabah itu seperti apa sebenarnya dan tertarik untuk menelisik lebih jauh.

Dalam kesempatan riset lewat internet, saya mendapatkan buku yang ditulis oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah, yang berjudul Defence Against the Plague (Dāfi‘ al-Balā’i wa Mi‘yāru Ahl al-Istifā’, judul bahasa Arab). Buku ini asalnya ditulis dalam bahasa Urdu, pertama diterbitkan pada tahun 1902 M.

Dalam buku ini, saya membaca kutipan syair “lī khamsatun utfī bihā harra al-balā’ al-hātimah #al-mustafā wa al-murtadlā wa abnahumā wa al-fātimah”, memakai al juga. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menceritakan bahwa dalam keadaan pandemi semua orang-kelompok dalam Islam, Sunni, Syiah dan sebagainya berdoa, baik dalam bentuk salat maupun doa.

Beliau juga berkunjung ke lingkungan Syiah di mana di pintu-pintu rumah mereka ada tulisan syair di atas. Hazrat Mirza mengatakan bahwa guru beliau waktu masa kecil adalah seorang Syiah dan guru ini sering mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mengobati epidemi adalah dengan cara tawallā dan tabarra’ pada Ahlul Bait.

Menurut cerita Hazrat Mirza selanjutnya, ketika di Bombay terjadi wabah pertama kali, maka orang-orang Syiah pada mulanya menganggap bahwa wabah ini merupakan mukjizat Imam Husein, karena wabah tersebut hanya terjadi pada komunitas Hindu yang sedang berkonflik dengan komunitas Syiah. Namun ketika wabah tersebut juga menyerang komunitas Syiah, panggilan untuk Imam Husein berhenti. Artinya, syair tersebut juga populer di kalangan masyarakat Syiah di India.

Lalu apakah syair ini disebutkan juga di dalam kitab-kitab yang lain? Menurut beberapa tulisan di media sosial, syair tersebut juga ditemukan kutipannya di dalam sumber-sumber lain sebagaimana disebut dalam tulisan-tulisan di media sosial.

Menurut informasi sahabat saya, Kiai Ahmad Ishomuddin, dalam status Facebooknya (31 Maret 2020), bahwa Badiuzzaman Said Nursi, guru sufi dari Turki, menuliskan syair ini di kitabnya yang al-Mulāhiq fī Fiqh al-Da’wah al-Nur. Ketika membaca nama Said Nursi yang ada dalam benak saya adalah beliau banyak menulis karya-karyanya dalam bahasa Turki, bukan bahasa Arab.

Setelah kitab ini saya lihat judul aslinya adalah Lahikalar dan penerjemahnya adalah Ihsan Kasim Salihi. Saya berhasil melacak edisi 6 dari kitab ini yang diterbitkan Sozler Publcations yang berpusat di Nasr City, Kairo. Jika dilihat halaman 81 dari kitab ini, Said Nursi mengutip syair ini dalam rangka menjawab pertanyaan Sayyid Ra’fat, di mana di dalam kitab ini tidak dikemukakan pertanyaannya, yang ada hanya judul Hawla Ali al-‘Iba’.

Ada dua hal yang dijawab oleh Said Nursi pada Sayyid Ra’fat dalam kesempatan ini, namun saya akan kemukakan di sini jawaban kedua saja yang memuat kutipan syair tolak balak di atas. Syair tersebut diletakkan dalam konteks hadis Nabi riwayat dari Aisyah yang berkaitan dengan ayat “innamā yurīdu Allah li-yadhaba al-rijsa ahl al-bayti wa yutahhirukum tathīra” (Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan kotoran para Ahlul Bait dan Allah mensucikan dengan kesucian, Q.S. al-Ahzāb [33].

Kita tahu bahwa ayat itu diperebutkan oleh ulama Sunni dan ulama Syiah tentang siapa yang dimaksud di Ahlul Bait dalam ayat ini. Ibnu Katsir panjang lebar mengulas ayat ini. (Lihat Ibn Katsir dalam Tafsir Ibn Katsīr, Vol. 1, Cetakan Mu’assah Qardoba, 2000, h. 154-161).

Hal yang menarik di sini adalah Said Nursi meletakkan syair tolak balak di atas untuk di bawah konteks kesucian Ahlul Bait (lihat al-Mulāhiq, h. 81). Di sini ada catatan kaki dan saya memiliki kesan bahwa catatan kaki ini tidak dibuat oleh Said Nursi langsung namun mungkin oleh penerjamah dan editor kitab ini.

Pandangan saya ini berdasarkan redaksi catatan kaki yang berbunyi, “Warada fī Majmū’at al-Ahzāb al-Kamusyakhanawī, Vol. 2, Sahīfah 5050 Fī al-Du‘ā Daf’ al-Tā‘ūn” (Syair tersebut juga ada di dalam kitab Majmū’at al-Ahzāb yang dikumpulkan oleh al-Kamusyakhanawi, Vol. 2 halaman 505 tentang doa tolak balak).  [MZ]

To Be Continued

0

Alumnus S3 Freie Universitat Berlin, Jerman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Lainnya