



Ada tamu yang kita sambut karena kita telah bersiap menyambut mereka. Kita membersihkan rumah, menyiapkan makanan, menata ruangan, dan menanti kedatangan mereka dengan rasa senang. Namun, ada tamu lain yang datang tanpa undangan, tanpa peringatan, dan tanpa memedulikan apakah kita sudah siap atau belum.
Penderitaan termasuk dalam kategori kedua ini. Ia memasuki kehidupan manusia melalui penyakit, kehilangan, kegagalan, pengkhianatan, kesepian, atau kematian orang yang kita cintai. Kita tidak memintanya, tetapi cepat atau lambat, ia akan menemukan pintunya untuk masuk ke dalam kehidupan kita.
Respons pertama kita biasanya adalah penolakan. Kita bertanya mengapa hal ini terjadi, mengapa ia menimpa kita, dan apakah kejadian itu bisa dicegah. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat dimengerti karena penderitaan mengacaukan narasi yang biasanya kita gunakan untuk memahami hidup kita.
Kita membayangkan hari esok sebagai kelanjutan dari hari ini, dan kita membangun identitas kita di seputar hubungan, harta benda, cita-cita, serta kemampuan fisik yang tampak relatif stabil.
Namun demikian, penderitaan meruntuhkan keyakinan tersebut. Ia mengingatkan kita—sering kali dengan cara yang keras—bahwa apa yang tampak abadi mungkin hanyalah sementara.
Penderitaan tidak serta-merta datang membawa sebuah pelajaran. Perbedaan ini penting. Sungguh ceroboh secara intelektual maupun moral jika kita meromantisasi rasa sakit, seolah-olah setiap tragedi diam-diam dirancang untuk membuat kita lebih bijaksana.
Ada penderitaan yang dampaknya sungguh menghancurkan. Ada luka yang tak bisa dijelaskan tanpa merendahkan martabat orang yang menanggungnya. Kematian seorang anak, pengalaman perang, penyakit parah, atau kehilangan yang mendalam tidak sepatutnya terlalu cepat diubah menjadi pelajaran filosofis yang praktis.
Kendati demikian, penderitaan bisa menjadi guru. Ia menjadi guru bukan karena rasa sakit itu sendiri memiliki kebijaksanaan, melainkan karena rasa sakit mampu menyingkap apa yang selama ini disembunyikan oleh kenyamanan.
Ketika kehidupan sehari-hari terganggu, kita terkadang dipaksa untuk menelaah kembali berbagai anggapan yang sebelumnya luput dari perhatian. Masa sakit bisa menyingkap betapa besarnya ketergantungan identitas kita pada produktivitas.
Kehilangan bisa memperlihatkan betapa kuatnya keterikatan kita pada keabadian. Kegagalan bisa menunjukkan betapa dalamnya rasa berharga diri kita dikaitkan dengan pengakuan orang lain. Kesepian bisa menyingkap betapa minimnya kemampuan kita untuk menghuni dunia batin kita sendiri.
Dalam pengertian ini, penderitaan adalah sebuah perjumpaan dengan keterbatasan. Kehidupan modern mendorong kita untuk membayangkan bahwa hampir segala hal dapat dikendalikan jika kita memiliki cukup pengetahuan, uang, teknologi, disiplin, atau tekad.
Namun, penderitaan justru sering kali datang tepat di titik di mana kendali kita berakhir. Kita tidak bisa memaksakan kasih sayang orang lain, mencegah segala penyakit, menjamin masa depan, ataupun bernegosiasi dengan kematian.
Kesadaran ini pada awalnya mungkin terasa memalukan, tetapi bisa juga menjadi bentuk pembebasan. Mungkin kebijaksanaan bermula ketika hasrat untuk mengendalikan segalanya memberi jalan bagi kemampuan untuk menjalani hidup secara bermakna bersama hal-hal yang tak dapat dikendalikan.
Spiritualitas Islam menawarkan bahasa yang penting bagi transformasi ini melalui praktik shabr. Meskipun biasanya diterjemahkan sebagai kesabaran atau ketahanan, shabr memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar ketahanan pasif.
Konsep ini menyiratkan kemampuan untuk tetap teguh secara etis dan spiritual saat keadaan menjadi sulit. Mempraktikkan “sabar” bukan berarti menyangkal rasa sakit atau berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja.
Hal ini berarti menolak membiarkan penderitaan mendikte keseluruhan karakter moral seseorang. Seseorang bisa berduka tanpa menjadi kejam, mengalami kehilangan tanpa kehilangan rasa syukur, dan bertahan dalam ketidakpastian tanpa menyerahkan seluruh harapan.
Tradisi sufi memperdalam pemahaman ini dengan mempertanyakan keterikatan ego pada kendali dan keabadian. Diri manusia pada umumnya menginginkan dunia selaras dengan hasratnya. Ia menginginkan kepastian saat hidup menawarkan ketidakjelasan, keabadian saat segalanya berubah, dan kepemilikan saat segalanya pada akhirnya akan berlalu.
Penderitaan menyingkap kerapuhan hasrat-hasrat tersebut. Ia menempatkan diri manusia di hadapan kenyataan yang tak sepenuhnya dapat dikuasai, dan dengan demikian, penderitaan bisa menjadi sarana untuk menumbuhkan kerendahan hati.
Namun, nilai spiritual dari penderitaan tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap acuh tak acuh terhadap mereka yang menderita. Mengatakan kepada seseorang yang sedang kesakitan bahwa penderitaannya pada akhirnya adalah hal yang baik bisa jadi merupakan tindakan kejam, padahal yang mereka butuhkan pertama-tama adalah belas kasih.
Sebelum rasa sakit menjadi objek penafsiran, ia semestinya menjadi kesempatan untuk hadir mendampingi. Terkadang, tanggapan paling religius terhadap penderitaan bukanlah menjelaskannya, melainkan duduk di samping orang yang sedang menderita.
Mungkin inilah salah satu pelajaran terdalam dari sang tamu tak diundang. Penderitaan menata ulang “rumah” diri kita. Ia mengubah apa yang tampak penting, menyingkap kerapuhan harta benda kita, dan mengingatkan bahwa hidup tidak bisa sekadar direduksi menjadi soal kendali atau pencapaian.
Ketika tamu itu akhirnya pergi, rumah tersebut mungkin tak lagi terlihat sama. Sejumlah ilusi mungkin telah sirna, beberapa kepastian mungkin telah retak, dan bentuk-bentuk rasa syukur yang baru telah dimungkinkan.
Oleh karena itu, kita tidak perlu mencari-cari penderitaan. Kita juga tidak perlu berpura-pura bahwa setiap luka memiliki tujuan yang jelas. Namun, ketika penderitaan tak terelakkan lagi hadir dalam hidup kita, kita bisa bertanya pada diri sendiri: akan menjadi sosok seperti apakah kita saat menghadapinya?
Mungkin pertanyaannya bukanlah mengapa tamu itu datang, melainkan apa yang tidak rela kita lepaskan selama ia berada di sini: rasa welas asih, martabat, kesabaran, serta kemampuan kita untuk tetap menjadi manusia seutuhnya.
Ada tamu-tamu yang datang tanpa diundang. Mereka mungkin meninggalkan luka, tetapi mereka juga bisa memberi kita pemahaman baru tentang rumah yang kita sebut sebagai kehidupan.
Alumnus Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com