Anis Hidayatie Penulis; Guru SMP Islam 1 Pujon, Malang

Hingga Ujung Nyawa [2]: Secercah Sinar Harapan

1 min read

Betul begitu adanya, istri Pak Burhan satu deret denganku, asal Probolinggo. Suaminya baru keluar dari ICU, setelah lolos dari serangan jantung. Ditempatkan di HCU pula. (High Care Unit–HCU) adalah unit pelayanan rawat inap bagi pasien dengan kondisi stabil dari fungsi respirasi, hemodinamik, dan kesadaran namun masih memerlukan pengobatan, perawatan dan pemantauan secara ketat.

Satu ruang dengan suamiku, hanya beda deret bangsal. Kami saling mengabarkan jika ada sesuatu. Gantian berjaga, jika aku tertidur atau dia yang ketiduran. Seperti kali itu, Bu Hindun, begitu biasa kupanggil namanya, sedang lelap usai duhuran di tempat tunggu dia tunaikan.

Ku usap sedikit ujung kakinya, memberitahukan, “Bu ada panggilan.”

“Oh, iyakah? Tertidur rupanya saya” Sembari geragapan merespon,

Bergegas dia betulkan hijab yang menutupi rambutnya, “Saya ke sana dulu ya, bu.”

“Iya, nanti tolong dilihatkan suami saya ya? Sedang apa dia.” Titip pesan ini selalu mengiringi ketika aku atau dia dipanggil.

Jawaban Iya, mengiringi langkahnya pergi. Hitungan sekian menit, sudah hilang sosok tubuh bu Burhan dari hadapan. Menuju ruang HCU, menemui petugas.

Tak berapa lama kulihat wajah bu Burhan kembali. Senyum tersungging, ceria wajahnya menandakan bahagia.

“Alhamdulillah bu, suami saya sudah boleh pindah ke kamar biasa. Ini saya mau ngurus surat-suratnya. Saya tinggal lagi bu ya?”

“Ya bu, saya turut bahagia. Silahkan diurus bu saya akan jaga barang-barang ibu.”

Optimisme seketika menyeruak untuk kesembuhan suamiku. Meski untuk ukuran sakitnya jarang yang bisa lolos dari lubang maut. Dalam benak ini tersirat membandingkan,” Kalau pak Burhan yang sakitnya mematikan saja bisa sembuh apalagi suamiku?”

Beberapa kasus serangan jantung yang menimpa orang terkenal tetiba mampir. Terkini Ashraf Sinclair, dia meregang nyawa tidak lama sesudah kejadian itu tiba. Membuat Bunga Citra Lestari, istrinya yang juga seorang penyanyi menjadi janda.

Baca Juga  Cermin Muslim: Sintesis Nalar, Perbuatan, dan Realitas Sosial

Membaiknya kondisi Pak Burhan membinarkan harapan. Cerita istrinya, Pak Burhan dibawa ke UGD tanpa sebab, tetiba ambruk ketika sedang di tempat kerja, Kantor notaris. Dia karyawan di sana.

Yang membawa ke UGD juga teman kerjanya. Bu Burhan dihubungi untuk segera datang ke RS Saiful Anwar ini sesudah suaminya ditolong. Menandatangani beberapa berkas, sebelum tindakan penangan dilakukan tim dokter. Lalu pindah ke ICU 12 jam kemudian, sesudah selesai penangan di UGD dan menuju HCU lewat 24 jam kemudian.

Detil cerita itu dikisahkan padaku ketika pertama Bu Burhan datang ke ruang tunggu pasien HCU kelas 3. Kuberikan tempat disisiku, sama-sama sendiri menunggui. Tak ada yang menemani. Anaknya, anakku sama sama harus sekolah. Tidak mungkin mengajaknya ikut menunggui.

Itulah yang membuat kami dekat, saling berbagi tugas. Saling menolong, terutama untuk hal-hal seperti menjaga barang di ruang tunggu. Juga menyambut tamu yang datang menjenguk. Meminta pembesuk menunggu jika salah satu dari kami tidak ada.

Dalam bayangan imajinasiku, keluarnya pak Buhan dari HCU memberi cahaya. Ada kesempatan, ada peluang untuk membuat suamiku keluar dari HCU pula. Pindah ke ruangan. Deret rencana segera kusiapkan, demi keinginan melihat satu target lain dari penantian. Membawa suamiku pindah ke ruang pemulihan biasa untuk segera pulang.

Bersambung …. [AA]

Baca juga “Hingga Ujung Nyawa” episode 1

Anis Hidayatie Penulis; Guru SMP Islam 1 Pujon, Malang