Apakah Muslim Harus Selalu Anti-Barat? Memikirkan Kembali Politik Oposisi Budaya

Dalam sebagian besar wacana keislaman kontemporer, “Barat” telah menjadi simbol, alih-alih tempat belaka. Ia telah menjadi simbol untuk sekularisme, kekuasaan kolonial, dan kemerosotan moral. Pada gilirannya, “dunia muslim” sering kali dibayangkan sebagai kebalikan moralitas Barat ini: murni, spiritual, dan tahan terhadap kerusakan modernitas.

Namun, pembingkaian biner semacam itu memunculkan pertanyaan politis: haruskah seorang muslim selalu anti-Barat agar tetap autentik dalam keimanan mereka? Atau apakah sikap ini telah menjadi refleks politik yang mengaburkan potensi etika dan intelektual Islam itu sendiri yang lebih dalam?

Secara historis, perlawanan terhadap Barat lahir dari trauma, bukan ideologi. Pengalaman kolonial di Asia, Afrika, dan Timur Tengah mereduksi banyak masyarakat muslim menjadi objek imperium, di mana kekuatan Eropa membongkar institusi tradisional, menggantikan sistem pengetahuan lokal, dan memaksakan epistemologi asing.

Oleh karena itu, sentimen anti-Barat merupakan seruan untuk martabat dan definisi diri, sebuah penolakan untuk dijajah, tidak hanya secara politik tetapi juga secara intelektual. Tokoh-tokoh seperti Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, dan para pemikir selanjutnya seperti Ali Syariati dan Ismail al-Faruqi memandang kritik anti-Barat sebagai bagian dari proyek tajdid (pembaruan) dan islah (reformasi) yang lebih luas.

Namun, dunia pascakolonial telah memperumit biner tersebut. Barat saat ini bukan lagi entitas peradaban tunggal yang bersatu, dan “peradaban Islam” pun beragam dan terpecah-pecah. Muslim di London atau California hidup sebagai warga negara Barat sekaligus umat Islam.

Universitas-universitas di Amerika Serikat telah menjadi pusat-pusat studi Islam terkemuka. Ilmuwan, seniman, dan filsuf muslim berkontribusi pada budaya global melalui lembaga-lembaga yang—dulunya—dianggap “Barat”. Di dunia yang saling terhubung ini, menjadi anti-Barat berisiko menjadi malas secara intelektual, sebuah sikap bawaan yang mengacaukan kritik dengan identitas.

Persoalan yang lebih mendalam terletak pada apa yang mungkin disebut “kecemasan epistemik” dalam pemikiran muslim modern: ketakutan bahwa mengadopsi ide-ide Barat, seperti hak asasi manusia, demokrasi, feminisme, atau sains modern, tentu saja berarti mengkhianati Islam.

Kecemasan ini dapat dimaklumi, karena banyak proyek Barat memang berupaya menghapus bentuk-bentuk pengetahuan umat Islam. Kendati begitu, penolakan total terhadap Barat justru dapat mereproduksi logika kolonial yang sama yang ingin dilawannya, yaitu mendefinisikan Islam hanya sebagai oposisi terhadap Barat, alih-alih sebagai tradisi yang hidup dan memperbarui diri.

Alih-alih anti-Baratisme, yang dibutuhkan adalah keterlibatan kritis, yaitu dialog yang tidak memuja maupun menjelek-jelekkan peradaban Barat. Intelektual muslim seperti Syed Naquib al-Attas dan Ziauddin Sardar telah lama memperjuangkan “islamisasi pengetahuan”, bukan sebagai tembok budaya, melainkan sebagai negosiasi epistemologis.

Tujuan islamisasi semacam itu bukanlah menolak sains Barat, melainkan mempertanyakan asumsi-asumsi metafisiknya, keterputusannya antara fakta dan nilai, reduksi materialisnya terhadap kehidupan. Demikian pula, filsafat Barat dapat dibaca bukan sebagai musuh, melainkan sebagai mitra dalam mempertanyakan apa artinya menjadi manusia di era keterasingan teknologi.

Sejarah pemikiran Islam—dari penerjemahan filsafat Yunani di bawah kekuasaan Abbasiyah hingga dialog Ibn Rusyd dengan karya-karya Aristoteles—tidak pernah tentang penolakan terhadap pemikiran “asing”.

Sejarah intelektual Islam adalah tentang penyaringan, penafsiran ulang, dan pengintegrasian pengetahuan ke dalam kerangka spiritual Islam. Yang menjadikan keterlibatan itu islami bukanlah asal usul gagasan, melainkan orientasi intelektual terhadap prinsip dasar Islam, yakni tauhid.

Jadi, menjadi anti-Barat berarti salah memahami model profetisme. Misi Nabi Muhammad bukanlah reaksioner, melainkan transformatif. Nabi tidak mendefinisikan Islam dengan menentang Romawi atau Persia, melainkan dengan mengartikulasikan visi moral yang melampaui keduanya.

Demikian pula, umat Islam saat ini menghadapi budaya global yang dibentuk oleh teknologi, kapitalisme, dan media Barat. Pertanyaannya bukanlah bagaimana cara menghindarinya, melainkan bagaimana cara menghuninya secara etis, yaitu bagaimana cara membawa etika kenabian berupa keadilan, welas asih, dan moderasi ke dalam ekonomi digital, krisis ekologis, dan masyarakat multikultural.

Reorientasi ini membutuhkan kritik diri. Banyak gerakan muslim telah mengadopsi retorika anti-Barat sebagai penanda kesalehan, sekaligus mereplikasi otoritarianisme, patriarki, dan materialisme yang sama yang mereka klaim ingin lawan.

Kemandirian intelektual sejati tidak datang dari oposisi, melainkan dari kreativitas, dari keberanian untuk menghasilkan gagasan yang berakar pada wahyu dan relevan dengan kondisi kiwari. Muslim yang percaya diri tidak takut berdialog dengan orang lain, karena berdiri di atas fondasi tauhid, yang memandang semua pengetahuan pada akhirnya berasal dari sumber ilahi yang sama.

Pada akhirnya, pertanyaan “apakah muslim harus selalu anti-Barat?” mengungkap ketegangan yang lebih mendalam, yaitu apakah Islam akan tetap menjadi identitas reaktif atau berkembang menjadi peradaban moral yang proaktif.

Masa depan pemikiran Islam mungkin bergantung bukan pada penolakan terhadap Barat, melainkan pada transendensi logika biner antara Timur dan Barat secara menyeluruh. Di era keterkaitan global ini, tantangan sesungguhnya adalah beralih dari oposisi menjadi reorientasi.

2

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.