Gawai, Distraksi, dan Krisis Kehadiran dalam Ibadah

Abad kedua puluh satu telah menyingkapkan paradoks yang belum pernah terjadi sebelumnya. Belum pernah sebelumnya manusia begitu terhubung, tetapi sekaligus begitu jauh secara spiritual. Masjid, gereja, kuil, dan tempat ibadah lainnya mengalami penurunan kehadiran umat, terutama di kalangan generasi muda.

Pada saat yang sama, benda-benda kecil bercahaya di tangan, yaitu ponsel pintar, tablet, dan jam tangan pintar, telah menjadi objek perhatian baru, bahkan penghormatan. Maraknya distraksi digital tidak hanya mengubah cara orang hidup dan berpikir, tetapi juga cara mereka beribadah.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar sekularisasi atau keimanan, tetapi tentang pembentukan kembali kesadaran itu sendiri: apa yang terjadi pada ibadah ketika pikiran tak lagi bisa diam?

Secara historis, ritual keagamaan dirancang sebagai teknologi perhatian. Salat, meditasi, dan liturgi melatih pikiran untuk berdiam, untuk fokus, untuk berserah diri pada kehadiran. Semua itu menumbuhkan apa yang Al-Qur’an sebut khusyuk, suatu keadaan kerendahan hati dan konsentrasi di hadapan Tuhan.

Namun, di era digital, perhatian telah menjadi sumber daya yang langka. Gawai modern dirancang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga untuk menangkap dan memonetisasi distraksi.

Notifikasi, feeds yang terus digulir, dan hiburan tanpa akhir memecah pikiran menjadi tak dapat lagi fokus. Hasilnya adalah ekonomi perhatian yang berkembang pesat dalam kegelisahan, kebalikan dari ketenangan kontemplatif yang dibutuhkan dalam ibadah.

Krisis perhatian dan kehadiran ini bukan hanya psikologis, melainkan spiritual juga. Ketika jamaah membawa ponsel mereka ke masjid atau gereja, mereka juga membawa seluruh dunia: pesan, kecemasan, iklan, dan algoritma.

Hening sejenak di sela-sela pembacaan ayat menjadi kesempatan untuk melirik layar. Bahkan ketika ponsel dimatikan, tarikan gravitasinya tetap ada, getaran hantu pikiran, dorongan untuk memeriksa dan menggulirnya.

Dalam lingkungan dan keadaan yangn demikian, ruang sakral menjadi keropos, diserbu oleh kebisingan dunia. Ibadah bukan lagi perjumpaan dengan yang tak terbatas dan malah menjelma tugas singkat lainnya di sela-sela notifikasi.

Para sosiolog menggambarkan kondisi ini sebagai “gangguan suasana sekitar”, suatu kondisi di mana individu selalu setengah hadir, terus-menerus menyadari sesuatu yang terjadi di tempat lain.

Ibadah, yang bergantung pada kehadiran bertubuh, berjuang untuk bersaing dengan logika media digital yang hiper-stimulatif. Tubuh mungkin berlutut dalam doa, tetapi pikiran bergulir ke tempat lain. Ritual kehilangan potensi transformatifnya ketika ia menjadi tindakan pertunjukan alih-alih penghayatan.

Implikasi dari pergeseran ini melampaui spiritualitas individu. Ibadah kolektif secara historis telah menjadi perekat kehidupan komunal. Salat Jumat, misa Minggu, atau pertemuan Sabat bukan hanya tindakan pengabdian tetapi juga solidaritas sosial.

Ketika orang-orang berhenti hadir, atau hadir dalam keadaan teralihkan, komunitas melemah. Iman menjadi terprivatisasi dan terestetiskan, direduksi menjadi seperangkat perasaan alih-alih disiplin bersama. Dengan demikian, “krisis kehadiran” bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang erosi kehadiran sebagai praktik sosial.

Namun demikian, menyalahkan gawai semata akan terlalu simplifikatif. Bagaimanapun, teknologi mencerminkan hasrat budaya yang lebih dalam. Obsesi terhadap konektivitas menunjukkan kecemasan akan isolasi. Hasrat akan stimulasi mencerminkan ketakutan akan keheningan.

Dalam konteks keagamaan, hal tersebut dapat dilihat sebagai gejala dislokasi spiritual yang lebih dalam, yakni hilangnya sakinah sebab terus-menerus diganggu oleh kehidupan modern. Perangkat tersebut tidak menciptakan gangguan; ia justru memperkuat hati yang sudah gelisah.

Walakin, ada sesuatu yang secara kualitatif berbeda tentang gangguan digital. Tidak seperti bentuk kesibukan yang lama, gawai masa kini dirancang dengan psikologi presisi untuk membajak perhatian.

Para insinyur Silicon Valley secara terbuka berbicara tentang penggunaan “pengondisian perilaku”, lingkaran umpan balik dopamin, dan gulir tak terbatas untuk membuat pengguna terus tenggelam di dalamnya.

Ini bukanlah teknologi yang netral, melainkan arsitektur yang adiktif. Dalam konteks ini, ibadah menjadi sebuah tindakan perlawanan. Mematikan gawai pintar bukan sekadar masalah etiket, melainkan deklarasi politik dan spiritual bahwa jiwa bukanlah komoditas yang dapat dieksploitasi oleh algoritma.

Pembingkaian ulang ini mengajak komunitas-komunitas keagamaan untuk memikirkan kembali pedagogi ibadah mereka. Alih-alih sekadar memarahi jamaah karena menggunakan gawai, para pemimpin dapat mengajarkan kebijaksanaan digital sebagai bentuk takwa, menjaga perhatian secara sadar.

Keheningan, kelambatan, dan ritual fisik dapat dinilai kembali sebagai tindakan kontra-budaya. Para mistikus awal Islam, Kristen, dan lainnya semuanya menganggap perhatian sebagai esensi iman. Guru sufi al-Ghazali menulis bahwa “hati itu seperti cermin: ia memantulkan kebenaran hanya ketika dibersihkan dari gangguan.” Saat ini, cermin itu berkabut oleh cahaya biru layar.

Pada saat yang sama, media digital juga menawarkan peluang baru untuk keterlibatan spiritual. Khotbah yang disiarkan langsung, aplikasi Al-Qur’an, dan platform pembelajaran daring telah memperluas akses ke pengetahuan agama dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya.

Bagi mereka yang terisolasi oleh jarak, ruang virtual dapat tetap memelihara komunitas. Oleh karena itu, tantangannya bukanlah menolak teknologi, melainkan menghuninya secara sadar, yakni merancang praktik digital yang menumbuhkan kesadaran, alih-alih mengikisnya.

Misalnya, beberapa gereja telah mulai menciptakan “Sabat digital”, yang mendorong jemaah untuk melepaskan diri sejenak dari aktivitas seharian untuk beristirahat dalam keadaan kontemplatif. Yang lain menggunakan aplikasi meditasi atau zikir yang mengingatkan pengguna untuk merenung, alih-alih menggulir layar.

Pada akhirnya, krisis kehadiran bukan hanya tentang masjid yang kosong atau jamaah yang terdistraksi. Ini tentang peradaban yang telah kehilangan seni penghormatan. Kebutuhan akan stimulasi yang terus-menerus mencerminkan ketidakmampuan kolektif untuk merenungkan apa yang sakral, tidak produktif, dan tak terlihat.

Dalam budaya di mana perhatian sama dengan nilai, ibadah—tindakan yang tidak menghasilkan apa pun yang nyata—tampak irasional. Kendati begitu, justru irasionalitas inilah yang menjadikannya sublim. Berdoa, bermeditasi, atau sekadar duduk diam dalam kekaguman berarti merebut kembali umat manusia dari tirani efisiensi.

Tugas ke depan bukanlah nostalgia akan bentuk kesalehan pra-digital, melainkan pengembangan asketisme digital, yaitu penggunaan teknologi secara sadar tanpa tunduk tersungkur dalam kuasanya.

Hal ini tentu menuntut penemuan kembali makna sakralitas dari keheningan. Beribadah hari ini berarti mempraktikkan kehadiran di dunia yang terdistraksi, memilih kedalaman daripada instanisme, keheningan daripada kebisingan, dan sukma serta makna daripada akses internet.

Gawai tidak akan hilang, begitu pula gangguan yang ditimbulkannya. Meskipun demikian, jika ibadah dapat kembali mengajarkan cara memperhatikan—kepada Tuhan, kepada lingkungan, kepada sesama, dan kepada diri sendiri—hal itu mungkin masih dapat memulihkan apa yang telah dilupakan dunia modern: bentuk koneksi yang paling mendalam bukanlah nirkabel, melainkan eksistensial.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.