

Kita hidup di era di mana dakwah hanya dengan sekali klik atau sentuh. Di TikTok, seseorang menjelaskan tafsir surah al-Falaq dalam 60 detik. Di Instagram, seorang influenser fesyen berbagi refleksi tentang harga diri dan cinta ilahi. Di YouTube, seorang mantan selebritis kini berkhotbah tentang manisnya tobat.
Dakwah telah menjadi digital: cepat, mudah dibagikan, dan sering kali diproduksi dengan estetika. Namun, di balik kamera, ring light, captions, dan kolom komentar, sebuah pertanyaan diam-diam muncul: Apakah kita membuat konten untuk Allah atau untuk algoritma?
Berkah dan Problem Dakwah Digital
Mari kita mulai dengan kabar baik. Medsos telah menjadi platform yang ampuh untuk menyebarkan pengetahuan Islam. Generasi milenial dan Gen Z—yang mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di halaqah tradisional—mempelajari tentang tauhid, disiplin spiritual, dan sirah nabawiah dari ponsel mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang dulunya terpendam kini dapat dieksplorasi secara anonim dan aman.
Demokratisasi dakwah sungguh menggairahkan. Hal itu dengan jelas mendobrak monopoli otoritas keagamaan, memungkinkan umat Islam pada umumnya dapat berbagi perjalanan dan refleksi mereka. Seorang perempuan muda di Jakarta dapat mengunggah video tentang perjuangannya dengan hijab, dan seseorang di Paris menjadi merasa tidak sendirian.
Namun, saat kita menelusuri pelbagai video, kolom komentar, dan reaksi yang tak terhitung jumlahnya, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apa sebenarnya yang kita bangun di sini, jembatan menuju Tuhan atau sebuah merek pribadi?
Para kreator konten Islam sering kali berjalan di atas tali. Di satu sisi, ada keinginan tulus untuk berbagi iman dan memberi manfaat bagi sesama. Di sisi lain, daya tarik visibilitas, jumlah suka (likes), dan pengaruh tak bisa luput dari perhatiannya. Bahkan, jumlah suka dan tayangan mulai terasa seperti validasi. Batas antara dakwah dan ketenaran digital menjadi kabur.
Tidak ada yang salah dengan memiliki platform. Nabi bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” Namun, apa yang terjadi ketika ayat tersebut menjadi video singkat untuk bisa viral, pesannya menjadi barang dagangan, dan pengingatnya dioptimalkan untuk memantik interaksi?
Ketika metrik mendorong konten, kita mungkin secara tidak sadar lebih mengutamakan apa yang menarik daripada yang benar, apa yang estetis daripada yang tulus. Kita mulai mengedit bukan hanya video kita, tetapi juga nilai-nilai kita untuk ditampilkan dan dicitrakan.
Ini bukan berarti semua influenser muslim tidak autentik, sama sekali tidak. Banyak yang melakukan pekerjaan luar biasa dengan integritas dan dampak yang murni. Akan tetapi, kita mesti tetap waspada, karena dunia digital menghargai perhatian, bukan menyoroti niat.
Salah satu efek dakwah digital yang lebih halus adalah munculnya “estetika spiritual”. Kesederhanaan menjadi sebuah gaya dan menjadi sebuah merek. Sajadah difoto dalam cahaya keemasan. Bacaan Al-Qur’an dipadu dengan musik ambient. Meskipun visualisasi ini dapat menginspirasi, hal itu juga dapat mereduksi Islam menjadi target konsumsi digital, indah tetapi hampa.
Dalam iklim sedemikian, kita berisiko “menampilkan” religiositas alih-alih melakukannya. Kita mungkin berakhir dengan mengkurasi iman kita seperti kita mengkurasi postingan kita: rapi, tersaring, dan rentan disukai (likeable). Padahal, spiritualitas sejati sering kali berantakan, mentah, dan di luar sorotan kamera. Ia hadir di malam-malam ketika kita menangis dalam sujud, keraguan yang kita gumuli, permintaan maaf yang kita sampaikan setelah berbuat salah kepada seseorang.
Islam bukanlah cuplikan sorotan. Islam adalah perjalanan kembali kepada Tuhan seumur hidup, eksistensial, dan dengan gemetar.
Antara Ikhlas, Viralitas, dan Algoritma
Inti dari semua ini adalah pertanyaan tentang keikhlasan. Di era digital, keikhlasan sulit diukur. Kita tidak bisa menandainya, dan paling penting ia tidak bisa menjadi tren. Namun, keikhlasanlah yang memberi bobot pada amal kita di hadapan Allah.
Tradisi Islam mengajarkan kita bahwa bahkan amal kecil, yang dilakukan murni karena Allah, lebih baik daripada segunung amal yang dinodai ego. Ini berarti bahwa pengingat yang dibisikkan kepada seorang teman mungkin lebih dicintai Tuhan daripada video viral yang dibagikan kepada jutaan orang.
Lalu apa yang harus kita lakukan? Meninggalkan semua platform medsos? Beralih ke dunia luring belaka? Tidak harus. Namun, kita mesti secara berkala kembali ke kompas batin kita dan bertanya: Apakah saya membagikan ini untuk Allah, atau untuk pujian? Apakah saya memberi makan jiwa atau ego? Apakah saya masih akan melakukan ini jika tidak ada yang melihat selain Tuhan?
Medsos berjalan dengan algoritma. Islam berjalan dengan niat. Yang satu mencari visibilitas; yang lain akuntabilitas. Yang satu menghargai apa yang populer; yang lain apa yang murni.
Sebagai kreator konten muslim—atau bahkan hanya sekadar berbagi—kita harus ingat: algoritma tidak akan ada di kuburan kita, tidak akan membantu kita di dalam sana, tetapi amal dan niat kita yang akan ada.
Mari kita terus berbagi cahaya, tetapi kita pastikan cahaya tersebut datang dari dalam diri. Mari kita sampaikan kebenaran meskipun tidak mendapatkan suka. Mari kita berkarya, bukan untuk mengesankan, tetapi untuk mengekspresikan pengabdian kita. Ketika kita jatuh ke dalam ego (seperti yang sering kita semua alami), mari kita kembali dengan kerendahan hati dan pertobatan.
Pada akhirnya, Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi viral, melainkan Dia meminta kita untuk menjadi tulus. Membuat konten tentu masih oke, tetapi mari kita jangan lupa untuk meluangkan waktu di luar layar, tanpa filter, dan dengan hati yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya.
Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com