Marvel, Multiverse, dan Sufisme: Apa Kata Islam tentang Realitas Alternatif?

Dalam beberapa tahun terakhir, Marvel Cinematic Universe telah memopulerkan konsep “multiverse”, sebuah realitas di mana dunia paralel yang tak terhitung jumlahnya berada, masing-masing dengan versi sejarah, pilihan, dan takdirnya sendiri.

Bagi banyak orang, gagasan semacam itu terdengar aneh dan tak masuk akal karena menyiratkan bahwa hidup tidak terbatas pada satu jalan. Namun, di luar pertempuran superhero yang penuh warna, multiverse menimbulkan pertanyaan filosofis yang mendalam: Apa yang nyata? Mungkinkah ada dimensi lain di luar apa yang dipersepsikan? Dan apa yang dapat kita pelajari dari khazanah Islam tentang jaring realitas yang tampaknya tak terbatas ini?

Daya Tarik Kemungkinan Tak Terbatas

Ketertarikan pada multiverse bermula dari hasrat akan kemungkinan alternatif. Bagaimana jika pilihan yang berbeda telah dibuat? Akankah hidup lebih bahagia di dimensi yang berbeda? Kerinduan ini mencerminkan kegelisahan eksistensial: manusia mendambakan kebebasan dari batasan narasi tunggal.

Dalam arti tertentu, multiverse Marvel menjawab kecemasan manusia yang mendalam tentang takdir dan kendali. Ia menawarkan ilusi yang menenangkan: di alam semesta lain, segala sesuatunya berjalan lebih baik atau setidaknya berbeda dari alam semesta yang kita jalani ini.

Namun, pemikiran Islam menyikapi kerinduan ini secara berbeda. Alih-alih menyebarkan eksistensi ke dalam dunia-dunia mungkin yang tak terhitung jumlahnya, Islam tampaknya menekankan penciptaan tunggal yang bertujuan, yang dipersatukan di bawah hikmah ilahi.

Al-Qur’an berulang kali menyebut “Rabb al-‘alamin” (Tuhan Semesta Alam) bukan untuk menyiratkan realitas kacau yang tak terbatas, melainkan untuk menegaskan bahwa semua alam, baik yang kasat mata maupun yang tak kasat mata, berada dalam tatanan yang harmonis di bawah perintah Tuhan.

Menariknya, kosmologi Islam klasik tidak menafikan keberadaan dimensi jamak. Para filsuf dan sufi sering berbicara tentang ‘alam al-syahadah (dunia kasat mata) dan ‘alam al-ghayb (dunia gaib), serta ‘alam al-barzakh (alam peralihan setelah kematian).

Metafisika sufi memperkenalkan lebih banyak lapisan, seperti ‘alam al-malakut (alam malaikat) dan ‘alam al-jabarut (alam kekuasaan ilahi). Ini bukanlah alam semesta fiktif, melainkan gradasi realitas ontologis, masing-masing dengan hukum dan tujuannya sendiri.

Dari perspektif ini, Islam mengakui semacam “multiverse”, tetapi tidak seperti yang dibayangkan Marvel. Alam-alam tersebut tidak mewakili garis waktu alternatif di mana Iron Man bertahan hidup atau Thanos menang, melainkan semuanya menandakan dimensi yang membentuk jalinan spiritual eksistensi. Mereka saling terhubung, terstruktur, dan bertujuan, alih-alih cabang-cabang kebetulan yang arbitrer.

Makrifat dan Lapisan-Lapisan Realitas yang Tersembunyi

Inti dari sufisme terletak pada makrifat, pengetahuan spiritual yang melampaui pemahaman intelektual-kognitif belaka. Bagi para sufi, realitas berlapis-lapis seperti tabir; kebanyakan hanya memahami kulit luarnya.

Melalui disiplin spiritual, tabir-tabir tersebut dapat diangkat, menyingkapkan kesatuan yang lebih dalam di balik multiplisitas yang tampak. Jalaluddin Rumi pernah mendedahkan bahwa dunia adalah “mimpi di dalam mimpi”, mengisyaratkan bahwa apa yang disebut “realitas” mungkin hanyalah bayangan dari kebenaran yang lebih terang.

Dalam hal ini, gagasan sufistik tentang penyingkapan (kasyf) beresonansi dengan daya tarik modern perihal realitas-realitas alternatif. Keduanya menunjukkan bahwa dunia yang kasat mata bukanlah keseluruhan cerita.

Sementara multiverse Marvel melipatgandakan realitas ke luar, sufisme menyelami ke dalam. Pencariannya bukanlah untuk melarikan diri ke garis waktu lain, melainkan untuk menyadarkan diri akan kehadiran ilahi yang menopang semua garis waktu.

Batas-Batas Teologis dan Rasa Ingin Tahu Manusia

Apakah Islam memperbolehkan spekulasi tentang dunia atau makhluk lain? Al-Qur’an menyatakan: “Dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu mengetahuinya” (QS. al-Nahl [16]: 8), menyisakan ruang besar bagi misteri.

Alam semesta, sebagaimana disiratkan fisika modern, mungkin menyimpan rahasia di luar pemahaman manusia. Namun, teologi Islam menetapkan batasan: dunia apa pun yang ada, semuanya tetap berada di bawah kedaulatan Tuhan. Tidak seperti kosmos Marvel, di mana alam semesta bertabrakan dalam pertempuran yang kacau, kosmologi Islam membingkai multiplisitas dalam kesatuan ilahi, yakni tauhid.

Mungkin pertanyaan yang lebih mendalam adalah mengapa multiverse begitu memikat. Hal ini mencerminkan rasa fragmentasi manusia modern di mana identitas terpecah di ruang digital, kehidupan tercerai-berai oleh pilihan yang tak terbatas. Orang-orang mencari makna dalam realitas yang terasa tidak stabil, berharap versi lain dari diri mereka lebih bahagia di tempat lain.

Sebaliknya, spiritualitas Islam menunjukkan gagasan yang berlawanan: alih-alih terpencar di dunia-dunia hipotetis yang mungkin (possible worlds), spiritualitas Islam mengajak untuk menyatukan diri, mencapai keutuhan melalui mengingat Tuhan.

Multiverse Marvel, dalam banyak hal, menurut saya merupakan metafora untuk kekacauan kontemporer: pilihan tak terbatas, distraksi tak terbatas, tanpa pusat utama. Sufisme merespons dengan sebuah visi tandingan: sebuah alam semesta yang berlapis makna, di mana keragaman dunia menemukan koherensi dalam Yang Esa. Makrifat dalam sufisme bukanlah tentang melarikan diri ke garis waktu yang lebih baik, melainkan tentang kebangkitan menuju keabadian.

Pada akhirnya, entah melalui kisah-kisah superhero atau teks-teks spiritual, pertanyaannya tetap sama: Apa itu realitas? Jawabannya, setidaknya dari perspektif metafisika Islam, bukanlah fragmentasi tanpa akhir atau takdir buta, melainkan eksistensi yang bertujuan dan berlandaskan kebijaksanaan ilahi. Dan mungkin itu lebih menakjubkan daripada multisemesta sinematik mana pun.

0

Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada—tinggal di anggaarifka.blogspot.com

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.