Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Menghindari dan Mengobati Kesedihan bersama al-Kindi

3 min read

Al-Kindi, yang acap dianggap sebagai filsuf muslim pertama, dalam salah satu karyanya berjudul Risālah fī Ḥīla li-Daf al-Aḥzān, menerangkan filsafat praktis bagaimana cara seseorang dapat terhindar dari kesedihan.

Pertama-tama, al-Kindi mengidentifikasi apa itu kesedihan. Ia mendefinisikannya sebagai borok psikis yang menyeruak karena kehilangan objek yang dicintai atau tidak mendapatkan objek yang dihasrati. Al-Kindi melihat bahwa kesedihan dapat menimpa siapa saja dan di mana saja ketika seseorang merasa kehilangan sesuatu yang diidam-idamkan.

Sebagaimana definisi al-Kindi mengenai apa itu kesedihan, kita dapat menilik bahwa di dalam definisi tersebut ia secara implisit menyebutkan penyebab kesedihan, yakni kehilangan sesuatu atau tidak mendapatkan sesuatu yang didambakan, apa pun itu.

Jika kehilangan sesuatu yang dicintai atau tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan merupakan penyebab dari kesedihan, apakah mungkin bagi kita terhindar dari kesedihan? Karena kita tahu bahwa apa yang kita miliki tidak selamanya kita miliki dan terutama apa yang kita inginkan tidak selalu bisa kita dapatkan.

Hal ini terjadi, sebagaimana pandangan al-Kindi, karena kita hidup di dunia yang di dalamnya semua hal selalu bergerak, berubah, dan tidak ada yang tetap, sehingga segala hal tidaklah menetap permanen. Bahkan, keinginan kita atau hasrat kita terhadap sesuatu juga senantiasa berubah-ubah. Apabila kita menumpuk keinginan-keinginan kita atas sesuatu yang pada akhirnya ternyata tidak bisa kita dapatkan, artinya kita menumpuk kesedihan demi kesedihan di dalam jiwa kita, di mana hulubalang borok tadi akan berdatangan.

Menjadi lumrah bagi kita tertimpa kesedihan karena kita hidup di dunia yang terus berputar. Al-Kindi menasihati bahwa jika kita kehilangan objek yang didamba dan tidak mendapat objek yang dicinta, kita seharusnya memersepsi dunia intelektual (‘ālām al-‘aql) dan mendapatkan hal-hal yang tidak kita miliki dari sana.

Baca Juga  Determinasi Teknologi: Membincang Pesantren di Tengah Pandemi

Jika kita melakukan itu, maka kita aman dari seseorang yang merampas milik kita atau mengambilnya dari kita atau kehilangan apa yang kita cintai dari mereka, karena hal-hal intelektual ini tidak tersentuh oleh kelainan bentuk atau dipengaruhi oleh kerusakan. Oleh karenanya, objek-objek itu dapat dicapai dan tidaklah fana.

Benar bahwa yang membuat seseorang sedih adalah ia terjerat oleh alam indriawi ini, dan ia berseru, “Aku tidak ingin sedih, aku ingin bahagia,” tetapi ia lupa bahwa apa yang dicari tidak ada di dalam dunia yang terus berputar ini. Ia mencari di dunia apa yang tidak ada di dalamnya, dan tentu saja siapa pun yang mencari apa pun yang tidak ada di dunia sama saja mencari sesuatu yang tidak ada, sia-sia.

Kendatipun memang ia bisa mendapatkan apa yang ia cari, perlu diingat bahwa apa yang ia sudah dapatkan tidak akan selamanya ia genggam, entah hal tersebut yang akan meninggalkannya, atau dia yang akan meninggalkan hal tersebut. Al-Kindi menyarankan agar manusia yang mencari sesuatu di dunia ini untuk hanya mencari apa yang benar-benar dapat diakses baginya. “Kita seharusnya tidak menyesali apa yang telah hilang dari kita dan harus mencari di antara hal-hal indrawi hanya apa yang dapat kita akses,” tandas al-Kindi.

Al-Kindi memberikan beberapa tips bagaimana caranya mengobati kesedihan. Pertama-tama ia menegaskan bahwa manusia adalah apa yang ada menempel di jiwanya, bukan di raganya. Ia mengingatkan, “Sesungguhnya kita ada karena jiwa, bukan karena tubuh kita; tubuh kita hanyalah alat bagi jiwa untuk mengungkapkan eksistensinya. Aspek luaran menjadi suci karena kesucian jiwa, maka memperbaiki esensi diri kita, yaitu jiwa, lebih baik dari memperbaiki alat.”

Baca Juga  Ustaz “Gimmick” dan Bisnis Agama

Dengan makna yang sama, sebenarnya al-Kindi hendak menyatakan bahwa apabila seseorang sedang sedih, itu berarti jiwanya sedang tidak sehat, karena kesedihan tersebut muncul dari keadaan jiwa, yang mana sebenarnya jiwa itu sendiri juga dipengaruhi oleh tubuh, atau keinginan atau hasrat dari aspek luaran terhadap sesuatu. Ketika kenyataan menjawab negatif, yaitu ia tidak mendapat yang didambakan, jiwa terpuruk, dan kesedihan menyeruak, kemudian tampak pada raut muka atau ekspresi ragawi lainnya.

Agar terhindar dari kesedihan, kata al-Kindi, seseorang mesti memahami penyebab dari kesedihan tersebut, apakah ia muncul dari perbuatannya sendiri atau dari perbuatan orang lain. Kedua-duanya hanya bisa diantisipasi dengan cara menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan tersebut.

Andaikan hal itu sudah dilakukan tetapi kesedihan tetap menimpanya, maka ia mesti mengingat bahwa itu semua merupakan konsekuensi yang mesti diterima, karena sebab-sebabnya begitu jelas. Yang terpenting adalah bahwa keinginan seseorang untuk tidak merasakan kesedihan (entah karena kehilangan atau gagal) adalah sama dengan ia menginginkan ia tidak hidup di dunia yang terus berputar, karena memang kesedihan merupakan akibat dari sifat fana segala sesuatu yang ada di dunia.

Manusia hendaknya tidak bersedih karena kehilangan apa yang ia cintai atau gagal mendapat apa yang ia inginkan; sebaliknya, manusia harus mampu membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan yang mulia dan rela terhadap segala keadaan agar ia selalu bahagia.” —al-Kindi

Pada akhirnya, seseorang mesti menyadari, sebagaimana al-Kindi telah ingatkan, bahwa apa yang ada di dunia ini senantiasa berubah, dan tidak ada kebahagiaan permanen yang bisa diperoleh dari dan di dalam dunia ini. Oleh karena itu, al-Kindi menyarankan agar manusia mencari kebahagiaan di dunia intelektual, di mana segala sesuatu ajek karena ia bersifat spiritual, dan bersifat spiritual karena ia ajek.

Baca Juga  Refleksi Maqashid Syariah dan Dimensi Nomos Islam (2)

Menjadikan kenikmatan duniawi yang semu sebagai tujuan utama merupakan kebodohan, sebagaimana al-Kindi katakan, “Orang yang mengalami sakit, teperdaya, dan bodoh adalah orang yang menginginkan kenikmatan duniawi dan menjadikan hal itu sebagai tujuan utamanya.”

Jelas sekali bahwa manusia acap terperangkap dalam lingkaran setan, yakni ia bersedih karena hal ihwal dunia(wi), tetapi malah menjadikan sumber kesedihannya itu sebagai tujuan utama. Padahal, ia seharusnya lekas menuju ke alam intelektual (‘ālām ‘aql) di mana tidak ada kerusakan and tidak ada perubahan.[]

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com