Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Menghilangkan Kesulitan dan Memaknai Hidup (1)

2 min read

Hakikatnya, kadar kesulitan yang menimpa setiap orang pasti setara dengan kesanggupannya. Adanya kesulitan bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk memelihara kelestarian hidup manusia itu sendiri. Jangan cepat-cepat berburuk sangka kepada Allah Swt. Banyak hal yang harus kita pahami dari persoalan kesulitan ini.

Memahami karakter kesulitan dalam kacamata yang benar, insyallah akan cukup meringankan kita dalam menyikapi kesulitan itu sendiri. Kegentaran hanya akan melahirkan pribadi-pribadi lemah yang akan digilas oleh kerasnya perputaran zaman. Semua manusia yang hidup di dunia ini pasti akan menemui kesulitan dalam hidupnya. Allah Swt. berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155).

Kita tidak perlu berangan akan dibebaskan dari kesulitan sama sekali. Sebab, kenyataannya semua orang telah memiliki jatah agenda kesulitan sendiri-sendiri. Karena kesulitan adalah sunnatullah, yaitu suatu hukum yang telah Allah tetapkan secara permanen.

Mau atau tidak mau, suka atau terpaksa, manusia pasti akan berhadapan dengan kesulitan selama masih hidup di dunia. Karena Allah Swt. telah menetapkan sebagai bagian dari liku-liku hidup manusia, dan cepat atau lambat ujian pasti akan datang.

Allah Swt tidak pernah berbuat zalim kepada hambaNya, hanya hamba sendiri yang tidak mematuhi ajaran dan petunjuk-Nya. Sehingga hamba mendapat kesulitan dalam kehidupannya. Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia dapatkan siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

Tentu saja, di balik setiap kesulitan ada karunia kemudahan. Semua orang tentu ingin mengejar kemudahan. Islam mengajarkan, letak kemudahan itu di balik kesulitan. Dengan demikian, jika ingin mengejar kemudahan, kita harus berani menyongsong kesulitan. Dan, bagi mereka yang mendapatkan ujian kesulitan hidup, hendaknya menjadikan kesabaran sebagai hiasan kehidupannya.

Baca Juga  Jemaah Tarawih dan Pentingnya Membangun Kesadaran Bersama di Tengah Pandemi

Dengan membangun sebuah keyakinan bahwa kesulitan itu akan segera berganti kemudahan, hal itu mudah bagi Allah Swt. Maka dari itu, kita harus selalu melakukan pendekatan-pendekatan terus kepada Allah melalui ibadah mahdah dan ghairu mahdah serta memperbanyak zikir dan do’a kepada-Nya.

Tak hanya itu, bagi mereka yang diberi kemudahan dan kesejahteraan hidup, hendaknya mampu menunjukkan keteladanan nyata sebagaimana Rasulullah Saw. dan para sahabat contohkan, yaitu kemauan untuk berbagi dengan sesama, dan kepedulian, tolong-menolong, serta membantu terhadap orang-orang sekitar yang berada di bawah garis kemiskinan.

Jangan dilupakan, kesadaran bahwa yang dimiliki sekarang dalam wujud kekayaan atau lainnya, sejatinya hanya titipan belaka. Itu artinya, jika Yang Maha Memiliki mengambilnya, tidak akan merasa kehilangan sedikitpun karena hanya titipan. Kapan saja Sang Pemilik berkehendak akan menarik dan mencabutnya. Dan, kesiapan dalam bentuk yang sedemikian ini agak sulit dipraktikkan oleh mereka yang merasa memiliki segalanya.

Sekali lagi, bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, dan barang siapa yang melepaskan kesulitan saudaranya yang mukmin, maka Allah Swt akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa melepaskan kesulitan orang mumin dari kehidupannya di dunia ini, maka Allah akan melepaskan kesulitan orang tersebut pada hari kiamat.” (HR. Muslim).

Secara tidak langsung, hadits di atas telah mengingatkan bahwa begitu pentingnya berbagi kebaikan kepada sesama manusia. Karena banyak orang yang menyangka hidup sebagai orang cerdas penuh dengan kemudahan tanpa kesulitan. Padahal orang-orang cerdas juga menghadapi kesulitan kehidupannya sendiri.

Salah satu kesulitan yang dilewati oleh orang cerdas adalah kesulitan ketika berbasa basi. Ini dikarenakan orang cerdas ingin membicarakan berbagai hal besar, seperti ilmu pengetahuan, seni, dan filosofi yang jarang ditemui ketika berbasa basi.

Baca Juga  Memahami Relasi Etika dan Agama dalam Kehidupan Sosial

Kebiasaan-kebiasaan ini membuat orang cerdas sering kesulitan bersosialisasi, karena hanya ingin berbicara tentang hal yang penting saja. Orang cerdas memiliki pemikiran mencari sebuah solusi, maka akan banyak proses berfikir dalam otaknya dibanding harus berbicara. Hal ini tercermin juga kebiasaan mereka yang lebih sulit berbicara.

Kenapa demikian? Karena mereka hanya ingin menyampaikan berbagai fakta yang telah didapatkan dibanding kebohongan atau perbincangan tanpa makna. Maka dari itu, perlu kita pahami bahwa hakikat kehidupan dunia hanyalah ladang akhirat untuk mempersiapkan kehidupan yang abadi dan juga hanya sekedar permainan dan senda gurau (sebagaimana sudah dijelaskan dalam al-Qur’an surah Al-Hadid [57]: 20).

Maka bisa dimengerti kenapa kita sebagai muslim yang meyakini kebenaran semua informasi yang datang dari Allah Swt. harus mengisi kehidupan ini sesuai dengan ajaran Islam. Karena hanya orang-orang yang hidup di dunia ini di bawah tuntutan dan petunjuk agama sajalah yang akan mendapat ampunan Allah Swt. dan keridhaan-Nya di akhirat kelak. Selain itu akan mendapatkan azab yang keras dari-Nya.

Oleh karena itu, setiap mukmin diperintahkan untuk beramal dan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya semasa hidup di dunia ini. Hari demi hari yang dilalui harus semakin baik dan berguna bagi kehidupan di akhirat. Jika manusia hanya menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia semata, maka mereka benar-benar menjadi orang-orang yang rugi di hari akhirat nanti. Karena itu, dalam banyak ayat al-Qur’an, bahwa manusia diingatkan agar senantiasa mempersiapkan bekal di kehidupan dunia yang singkat ini untuk kebahagiaan hari esok.

Selanjutnya: Menghilangkan Kesulitan dan Memaknai Hidup (2)

Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo