Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Si Nasruddin atau Jubahnya? Pelajaran bagi Kehidupan Sosial Kita

2 min read

Foto: https://www.alaraby.co.uk/
Foto: https://www.alaraby.co.uk/

Alkisah, pada suatu malam, Nasruddin Hoja diundang untuk menghadiri pesta tetangganya. Sebagai seorang tetangga yang ramah, Nasruddin beranjak untuk mendatanginya. Dia memilih-milih pakaian apa yang tepat untuk menghadiri pesta tersebut. Kemudian ia memilih untuk memakai satu jubahnya yang sudah tampak usang. Itulah satu-satunya jubah kesayangannya.

Ketika tiba di rumah pesta, semua orang hanya meliriknya, tak satu pun orang yang menyambut dan mengelu-elukannya. Begitu pula dengan si tuan rumah. Nasruddin menyadari hal apa yang membuatnya dicampakkan. Kemudian ia bergegas pulang. Sesampai di rumah, ia melepas jubah usang kesayangannya dan memakai sebuah jubah indah yang masih baru. Lalu ia berangkat kembali ke rumah pesta.

Sudah dapat dinyana, ketika ia masuk pintu, hampir setiap orang menyambutnya dengan senyum ramah. Malahan, si tuan rumah menyilakan Nasruddin untuk duduk di kursi spesial dengan perjamuan makanan-minuman yang lezat dan mewah. Ia duduk barang sebentar, kemudian berdiri. Lekas-lekas ia melepas jubahnya dan menaruhnya di atas meja, sehingga hanya bertelanjang dada.

Tak syak, para tamu tentu heran melihat perlakuan Nasruddin yang eksentrik seperti itu. “Hei jubah, silakan nikmati hidangan itu!” seru Nasruddin pada jubahnya. Para tamu dan si tuan rumah semakin tercengang melihatnya. Salah seorang tamu memberanikan diri untuk bertanya. “Apa yang sedang kau lakukan, Nasruddin? Apa kau sudah gila?”

Nasruddin menoleh, “Tidak, aku baik-baik saja. Kalian semua tentu masih ingat, ketika kali pertama aku datang dengan mengenakan jubah usangku, semua dari kalian tak satu pun yang mengindahkanku, tak seorang pun yang menyambutku. Tetapi ketika aku berganti jubah—jubah indah yang masih baru ini,” sembari menunjuk ke jubahnya, “Kalian menyambutku dengan ramah. Bahkan si tuan rumah menyilakanku untuk duduk di kursi spesial ini dan menyuguhkanku hidangan yang lezat dan mewah. Jadi, itu berarti kalian semua hanya menyambut jubahku. Dan si tuan rumah menyuguhkan makanan dan minuman untuk jubahku, bukan untukku.” Kemudian Nasruddin bergegas melangkah pulang.

Baca Juga  Gus Baha’ dan Kisah Pemuda yang Menjadi Wali Karena Lari dari Kesempatan Berzina

Apa yang dialami Nasruddin tersebut menyingkapkan sebuah fenomena psikopatologi sosial kepada kita. Di tengah-tengah modernitas dan kemewahan, mindset kita acapkali memandang seseorang dari pakaiannya, penampilannya, atau segala atribut dan aksesori yang dikenakannya. Padahal, benar-benar tidak cukup bahwa apa yang tampak secara lahiriah dari orang tersebut mewakili keseluruhan dirinya. Sehingga, kita tidak punya sedikit pun kemampuan untuk menjadikan penampakan lahiriah—memakai kemeja merek mutakhir, jam tangan mahal, dandanan rapi, mobil mewah, dan semisalnya—sebagai tolok ukur dari martabat, harkat, dan kemuliaan seseorang.

Di dalam Alquran Allah telah berfirman, yang artinya:

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. al Hujurāt [49]: 13).

Ayat tersebut cukup menggamblangkan bahwa kemuliaan di sisi Allah dilihat dari ketakwaan seseorang. Kalau kita menadaburi ayat tersebut, justru Allah sedang mengajarkan kepada kita agar kita melihat seseorang dari sisi Allah, yakni supaya kita hanya melihat kemuliaan seseorang dari segi ketakwaannya, alih-alih dari penampilan lahiriahnya. Di sinilah pergaulan sosial kita digembleng untuk tidak pilih kasih berteman atau berkarib dengan orang-orang yang kita kira mulia dari segi lahiriah semata.

Dalam disiplin tasawuf, penampakan lahiriah hanyalah kulit dan daging yang sama sekali tak bisa kita jadikan patokan baku untuk menilai seseorang. Sebab, tempat ketakwaan ada di dalam hati seseorang, di kedalaman ruang batinnya yang juga akan menyeruak ke sikap dan perilaku sosialnya. Hanya saja, sikap dan perilaku sosial tersebut sungguh tidak berkaitan dengan nasab keluarga, model kemeja, merek jam tangan, tempat kerja, dan harga sepatunya.

Baca Juga  Antara Taqdir dan Sunnatullah

Makanya, Mawlānā Rūmī pernah menyindir, “Saat kautemui kekasihmu, akankah kauciumi bajunya?” Apakah kita menemui bajunya, jepit rambutnya, sepatunya, dan aksesori-aksesorinya? Tentu saja tidak, kan? Sebab kita sedang menemui yang terbungkus di dalamnya, si pemakai baju. [MZ]

Angga Arifka Alumnus Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, tinggal di anggaarifka[dot]com

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *