Masdar Hilmy Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

Hidup itu Seperti Cakra Manggilingan

3 min read

Hidup itu berisi siklus perputaran. Dalam istilah Jawa, hidup itu seperti perputaran roda pedati atau cakra manggilingan. Terkadang kita berada di atas terkadang berada di bawah. Orang yang berada di atas biasanya pernah di bawah. Begitu pula sebaliknya; orang yang di bawah biasanya pernah juga di atas. Posisi “di atas” dikonotasikan pada kesuksesan, kemapanan dan kenyamanan. Kesuksesan tersebut bisa berupa jabatan, kekayaan ataupun status sosial. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya manusia menghadap Sang Pencipta.

Allah akan mempergilirkan dua kondisi di atas dalam hidup setiap peradaban manusia, bahkan dalam kehidupan individu seorang anak manusia; kadang dibatas kadang di bawah, kadang menang kadang kalah. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Āl ‘Imrān [3]: 140: “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapatkan luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapatkan luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikannya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Teori Siklus

Ayat di atas mengarisbawahi dengan tegas soal giliran dalam hidup manusia; dibatas-di bawah, senang-sedih, sukses-gagal, maju-mundur, dan seterusnya. Jika kita senang maka pasti kita akan susah. Sebaliknya; jika kita susah, pada saatnya nanti kita pasti senang. Suatu saat kita menang, dan suatu saat kita kalah. Kejayaan sebuah perdaban pasti akan diakhiri dengan kehancuran dan peradaban yang hancur pasti akan diberi kesempatan untuk berjaya. Intinya, hidup itu tinggal menunggu giliran. Persoalannya, apakah kita sabar atau tidak menunggu giliran (di atas) yang kita nantikan itu.

Tiba-tiba penulis teringat teori Ibnu Khaldūn tentang siklus peradaban. Menurutnya, setiap perdaban pasti akan mengalami siklus yang sama secara konstan: lahir, tumbuh dan berkembang, kejayaan, menurun dan mati. Begitu seterusnya. Setiap peradaban pasti mengalami siklus yang sama, termasuk perdaban Babilonia, peradaban Islam, peradaban Barat Kristen, peradaban Nusantara, dan peradaban lainnya. Jika perdaban Barat sekarang sedang berjaya dan menguasai dunia, pada saatnya nanti—entah kapan—pasti akan tunduk pada teori siklus tersebut.

Baca Juga  Sarung Sang Guru

Jika sedang di atas, seyogianya kita tidak boleh jemawa, congkak, sombong, adigang-adigung, dan lupa daratan. Pada saatnya nanti dia pasti akan menemui jalan menurun dan akhirnya berada di bawah. Pada saatnya nanti semua akan meninggalkan kita: harta benda, jabatan, kekuasaan, dan hal-hal duniawi lainnya. Oleh karena itu, ketika kita menggenggamnya, anggaplah hal itu sebagai ujian hidup kita; apakah kita kuat “dititipi” derajat atau tidak. Jija kita kuat, niscaya kita tidak menunjukkan sikap berlebih-lebihan terhadap apapun yang kita genggam. Kita bersikap biasa saja.

Kenyataannya, banyak manusia tidak tahan terhadap godaan ketika mereka berada di atas. Baru sebentar menikmati posisi sebagai pejabat, misalnya, mereka berlaku sombong, seolah-olah jabatan yang mereka duduki tidak akan lepas dari genggaman. Dikiranya mereka akan menjabat selamanya, sampai mereka mati. Artinya, orang semacam ini tidak kuat menerima titipan dari Allah. Dalam bahasa sederhana, orang semacam ini tidak kuat memikul derajat. Buktinya, jabatan atau kekayaan yang dititipkan Allah telah membuatnya “over-acting”, berlebih-lebihan dalam menyikapi titipan tersebut.

Penulis pernah mengalami berada di bawah secara ekonomi keluarga semasa kecil. Kebetulan keluarga kami bukan keluarga kaya, bukan juga miskin. Tetapi orang tua kami memiliki tujuh orang anak. Sebagai seorang guru PNS yang mengajar di SD, gaji ayah penulis tidak cukup banyak untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang berbiaya mahal. Kebetulan penulis adalah anak pertama. Di keluarga besar kakek dari pihak ibu, kondisi ekonomi keluarga penulis memang paling bawah. Yang penulis rasakan, tidak enak hidup di bawah. Selalu diremehkan, tidak dihitung, dan seringkali dicurigai hendak menghutang kepada orang lain.

Pada suatu saat ketika penulis masih tinggal di pondok pesantren, penulis membutuhkan uang untuk kebutuhan bulanan. Kebetulan orang tua sedang tidak pegang uang. Maka dicarilah solusi: hutang kepada salah seorang saudara yang mampu. Ketika ayah penulis datang kepadanya dan menyampaikan maksud mau hutang untuk keperluan penulis, dia langsung jawab tidak ada uang. Karena gagal ayah langsung pulang ke rumah. Disuruhnyalah ibu penulis sebagai saudara kandungnya dengan harapan ada perubahan sikap. Setelah ibu penulis mendatangi saudaranya, ternyata jawabannya sama: tidak ada uang. Sampai ibu penulis menangis di hadapannya memohon supaya dipinjami uang, tetap saja dia bergeming alias tidak mau meminjamkan uang.

Baca Juga  Abu Nuwas, Sang Sufi yang Akhirnya Bertobat

Ternyata selang sekian tahun berikutnya, setelah penulis berhasil diangkat sebagai dosen PNS di IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel, kondisi berbalik; kami di atas dia di bawah. Alangkah kagetnya kami semua pada suatu saat dia datang ke keluarga kami bermaksud pinjam uang kepada ibu. Dalam hati ibu sebenarnya masih tersimpan perasaan jengkel, kalaupun bukan dendam, atas sikap sudaranya yang dulu tidak mau meminjamkan uang kepadanya. Tetapi penulis menyarankan supaya dia dipinjami karena sedang membutuhkan.

Membalas kejelekan orang lain dengan kejelekan yang sama sebenarnya bukan hal yang baik dan bijak. Kalau bisa kita balas kejelekan dengan kebaikan, mengapa kita balas dengan kejelekan yang sama? Ketika kita bisa membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan, penulis merasa ada kesempurnaan hidup ini. Karena hidup itu seperti cakra manggilingan: kadang di atas kadang di bawah, kadang punya uang kadang tidak punya uang, kadang longgar kadang sempit, dan seterusnya.

Memupuk Optimisme

Sebaliknya, jika kita berada di bawah maka kita tidak boleh berputus asa, pesimistik dan kehilangan semangat hidup. Banyak di antara manusia tidak siap menghadapi perputaran hidup. Jika dia tidak siap, bisa-bisa dia ingin secepatnya mengakhiri hidupnya. Oleh karena itu, berada di bawah bukanlah akhir segalanya. Sembari tetap memupuk optimisme sambil gigih berikhtiar, kita harus berpikir positif terhadap masa depan. Siapa tahu Allah memberikan “kejutan” perubahan di saat-saat berikutnya. Sungguh, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi satu tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, bahkan detik berikutnya.

Karena itu, jangan pernah berpikir jelek terhadap nasib kita sendiri. Jangan pernah marah dengan takdir Allah. Yang kita butuhkan sebenarnya sederhana saja; tenanglah, buat rencana ikhtiar dan perubahan nasib, setelah itu kerjakan! Dengan berbekal ketekunan, optimisme dan berpikir positif, tentu saja ditambah doa, pada saatnya nanti Allah akan membantu kita keluar dari keadaan. Prinsipnya, jika kita sabar, pasti akan berbuah manis. Dalam ungkapan yang lagi populer, indah pada waktunya.

Baca Juga  Kisah Seekor Anjing Pembela Rasulullah dan Para Sahabat

Kalau boleh memilih, memang lebih baik kondisi hidup kita selalu berada di atas. Tetapi kondisi semacam ini pasti melawan teori siklus seperti dijelaskan di atas. Kita bisa merasakan berada di atas karena kita pernah merintis dari bawah. Boleh saja kita berdoa agar berada di atas selamanya. Yang jelas, ketika di atas, jangan sampai kita lupa diri, congkak, sombong, adigang-adigung adiguna, dengan menganggap remeh orang lain yang berada di bawah. Siapa tahu pada suatu saat orang tersebut akan berada di atas, sama dengan kita, bahkan lebih tinggi dari kita. [MZ]

Masdar Hilmy Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya