Anjar Azimatillah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Meninjau Kembali Relasi Manusia dengan Teknologi

2 min read

sumber: depositphotos

Teknologi, mesin-mesin canggih, revolusi industri, dan digitalisasi—apa sebenarnya semua ini? Semua ini adalah hasil dari pemikiran manusia. Namun, mengapa entitas-entitas ini begitu merasuki kehidupan kita? Apakah manusia telah mengubah peradabannya secara mendalam? Ataukah ada kekuatan di balik layar yang mengendalikan yang tak kita ketahui? Pertanyaan-pertanyaan ini memunculkan banyak tanda tanya dan kekhawatiran.

Teknologi muncul sebagai hasil dari dorongan untuk menyederhanakan aktivitas dan perilaku manusia. Inilah mengapa penemuan-penemuan yang menawarkan kemudahan ini disebut sebagai “teknologi”. Teknologi merupakan suatu hal yang dapat mempermudah tugas-tugas manusia dan bahkan mampu menyelesaikannya dalam waktu singkat.

Semua itu adalah pencapaian yang luar biasa dan telah berhasil memikat perhatian manusia untuk menggunakannya. Terima kasih kepada semua manusia yang telah memanfaatkan teknologi ini, karena kalian telah melihat manfaatnya dalam mempermudah berbagai aktivitas kalian. Namun, mari ingat bahwa teknologi juga memiliki potensi untuk mengubah seluruh hidup manusia.

Kemajuan dan perkembangan teknologi ini dapat menghilangkan pekerjaan manusia bila manusia kalah dan tak mampu beradapatasi dengan laju perkembangannya. Yang akan menang ialah dia yang produktif bersinergi dengan teknologi dan mampu mendayagunakannya.

Lalu, bagaimana relasi manusia dengan teknologi? Menurut seorang filsuf Jerman Martin Heidegger, keberadaan teknologi dapat memberikan dampak positif atau negatif. Teknologi tidak sama dengan esensi teknologi. Oleh karena itu, pentingnya teknologi tidak hanya terletak pada fungsi dan alatnya.

Pandangan Heidegger berbeda dengan pandangan umum yang memandang teknologi sebagai sarana untuk mencapai tujuan atau suatu aktivitas yang dilakukan manusia. Oleh karena itu, sejak Heidegger hingga saat ini, teknologi lebih diartikan sebagai suatu susunan otomatis dari bentuk-bentuk alat teknis. Heidegger menyebutnya sebagai “instrumentum”. Anggapan bahwa teknologi hanya sekedar alat akan memaksa manusia untuk melakukan penaklukan, pengendalian, dan manipulasi, yang pada akhirnya berujung pada agresi.

Baca Juga  Islam di Tengah Pusaran Politik Elite dan Kerakyatan

Menurut Heidegger, esensi teknologi sebenarnya bergantung pada konsep inti yang ia sebut “enframing”. Hubungan kita dengan teknologi merupakan suatu kerangka sistem yang mengunci kita dalam pola pikir yang khas.

Enframing ini semacam serangkaian perintah teknis yang mengatur tindakan manusia dengan cara yang menantang manusia untuk menciptakan sesuatu yang mengungkapkan kebenaran secara tertib. Kerangka ini cenderung memperlakukan segala sesuatu sebagai “cadangan sumber daya” yang siap digunakan (standing reserve). Perspektif kerangka ini menciptakan suatu cara hidup yang melihat manusia sebagai bagian integral dari dunia teknologi yang terpadu.

Misalnya, dalam konteks budaya digital, penggunaan gawai oleh manusia. Sejauh enframing tersebut beroperasi, hubungan kita dengan teknologi sebenarnya bukanlah hubungan nyata melainkan hubungan yang disederhanakan. Alih-alih menciptakan keterbukaan terhadap realitas, ia justru menciptakan tabir baru yang mengisolasi manusia dari realitas.

Heidegger mengatakan bahwa berpikir kerangka (gestell) merupakan salah satu metode berpikir komputasi. Hubungan yang terjalin merupakan hubungan yang tidak bebas. Ia kemudian mengajukan istilah kontras dari framing (enframing/gestell), yaitu glasseinheit, yang merupakan bentuk pemikiran meditatif.

Cara berpikir seperti yang belakang ini memungkinkan kita mengembangkan hubungan yang membebaskan dengan teknologi. Gelassenheit memerlukan sikap “melepaskan”—secara sederhana berkata “biarlah”. Seperti inilah seharusnya relasi manusia dengan teknologi.

Sikap permisif tersebut tidak boleh dipahami sebagai penolakan terhadap teknologi. Faktanya, apa yang dikatakan Heidegger adalah bahwa kita dapat menggunakan perangkat teknologi ini dengan tepat sambil membebaskan diri kita dari perangkat tersebut, bukannya terikat oleh perangkat tersebut.

Kita akui bahwa teknologi memang hebat, tetapi kita juga tidak ingin teknologi mendominasi kita. Glassenheit memungkinkan perangkat teknologi memenuhi kehidupan kita sehari-hari, tetapi juga menjauhkan kehidupan sehari-hari dari kita.

Baca Juga  Pendidikan Ideologi Liberal: Antara Sekolah dan Masyarakat

Glassenheit ialah mengatakan ya atau tidak dalam satu tarikan napas. Sehingga, hubungan yang sederhana dan mudah ini membebaskan manusia dari ketergantungan pada benda-benda teknologis. Pada titik ini, glassenheite, dengan aspek khas meditatifnya, membuat kita tetap waspada, sadar akan jebakan keadaan, dan kemudian menjadi terbuka terhadap kemungkinan hidup di dunia dengan cara yang benar-benar berbeda.

Lantas, mengapa manusia begitu kagum, bahkan tergila-gila terhadap teknologi? Tentu jawaban sederhananya adalah bahwa teknologi telah memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitasnya sampai-sampai manusia terpesona akan kecanggihan teknologi.

Gawai, bila digunakan dengan niat menambah produktivitas, akan mendatangkan manfaat besar, dan sebaliknya. Kembali lagi pada kesadaran manusia, apakah mereka akan selalu terjerumus ke dalam jurang yang dimunculkan teknologi ataukah melakukan sikap let it be agar diri manusia tidak dikendalikan.

Inilah yang terjadi pada kehidupan kiwari, dan berlangsung secara gradual sejak era Revolusi Industri yang hampir separuh produksi telah dikerjakan oleh gawai-gawai canggih yang dijalankan melalui sistem komputer dan memposisikan manusia hanya sebagai pengontrol di depan layar. Bagaimana relasi manusia dengan teknologi ke depannya? [AR]

Anjar Azimatillah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya