Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Wedhatama; Pupuh Sinom, Jalan Salik Sufi Bagi Generasi Muda (1)

2 min read

Nulada laku utama// tumpraping wrna tanah Jawi// Priyagung ing Ngeksiganda Panembahan Senapati// kapati amarsudi sudaning hawa lan napsu pinesu tpa brata// tanapi ing siyang ratri// amemangun karyenak tyasing sasama// (KGPAA Mangkunegara IV, Sinom: 1)

Kalimat pembuka dalam Serat Wedhatama pupuh Sinom menggambarkan tokoh dari Mataram Islam yakni Panembahan Senopati yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan melalui jalan bertapa atau uzlah. Pada dasarnya uzlah dan bertapa substansinya sama, sama-sama melatih jiwa untuk mengendalikan hawa nafsu. Pupuh ini ditunjukan bagi generasi muda yang mudah terombang ambing dalam kehidupan, malah cenderung lebih bersifat negatif.

Sinom diibaratkan dengan daun muda (pupus) yang berarti anak muda, usia ini sangat rawan sekali dalm hal-hal yang bersifat negatif apabila tidak dibimbing oleh Musryid yang baik. Pada usia ini seorang remaja akan mudah terbawa arus karena pikiran dan hati belum stabil mudah goyah. KGPAA Mangkunegara IV ingin membimbing generasi muda tidak terjerumus dalam hal yang bersifat negatif, dalam Pupuh Sinom generasi muda harus melakukan laku spiritual atau bisa disebut sebagai ajaran tasawuf untuk menjadi manusia yang luhur.

Samasane pasamuwan// memangun marta martani// sinambi ing saben masa// kala kalaning asepi// lelana teka-teki// nggayuh geyonganing kayun// kayungyun eninging tyas// sanityasa prihatin// puguh panggah// cegah dhahar lawan nendra// (KGPAA Mangkunegara IV, Sinom: 2)

Artinya: pada setiap pertemuan// menciptakan kebahagiaan lahir batin dengan sikap tenang dan sabar// sementara itu pada setiap kesempatan// dikala tiada kesibukan// mengembara bertapa// mencapai cita-cita hati// terpesona akan suasana syahdu// senantiasa hati dibuat peihatin// dengan berpegang teguh// mencegah makan dan tidur.

Kutipan pupuh Sinom di atas ditujukan bagi kaum muda untuk melatih jiwanya agar mendapatkan anugerah dan rahmat dari Allah Swt. Untuk mencapai kesemuanya harus dilakukan dengan bertapa, bertapa atau uzlah atau disebut juga khalwat salah satu jalan yang harus dilalui bagi sang mahluq dalam melatih dan mengelola jiwanya supaya bisa menguasai hawa nafsunya sendiri. Mengelola hawa nafsu salah satu tangga yang harus dilewati bagi seorang sufi untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Baca Juga  Cerpen: Pak Guru Budi dan Pemuda Harapan Bangsa

Bagi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, khalwat yang dikehandaki sebagai laku spiritual dalam perjalanan menuju Allah adalah khalwat hati dari segala mahluk, di mana khalwat dalam bentuk uzlah, namun dalam hatinya masih tersisa ruang bagi mahluk dan dunia materi, maka khalwatnya tidak berguna.

Dalam posisi ini maka uzlah yang harus dilakukan bagi mahluk, khususnya kaum muda adalah memanafaatkan ilmu disertai dengan memahami kondisi sosio-masyarakat, baru setelah itu ber-uzlah atas nama mereka. Karena uzlah yang baik adalah memperbaiki kondisi masyarakat, sementara batinnya berkhidmat kepada Allah Swt.

Sebagaimana dijelaskan oleh Mangkunegara dalam Serat Wedhatama sejalan dengan pendapat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Bahwasanya seorang mahluk yang menyucikan jiwanya harus senantiasa ber-mujahadah dengan selalu mengurangi hawa nafsu. Mujahadah harus dilakukan dengan hati yang ikhlas semata-mata ingin mendapatkan ridho Allah Swt. Seperti dalam Serat Wedhatama, kaum muda diajarkan untuk mengurangi hawa nafsu melalui jalan bertapa atau uzlah.

Mangkunegara IV; Raja Sekaligus Seorang Sufi

Mangkunegara IV (1811-1881 M) seorang tokoh sufi dan mempunyai bidang keahlian. Keahliannya yang paling monumental mengenai pemikirannya yang tertuang dalam serat, diantaranya: Serat-serat Piwulang, Darmalaksika, dan Wedhatama. Serta yang terakhir ini adalah serat Sufi, berisi ajaran adiluhung untuk menjadi seroang sufi. Ajaran ini terutama ditujukan bagi kaum muda supaya tidak terjerumus dalam hal-hal yang bersifat negatif.

Ajarannya tentang tasawuf meliputi dua hal, yakni Sembah dan budiluhur. Pengertian sembah dan ajaran Mangkunegara adalah terjemahan dari kata ibadah yang diambil dari al-Quran dan Sunnah. Terdapat empat ajaran sembah yang diajarankan Mangkunegara IV yakni. Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Jiwa, dan Sembah Rasa. Sembah yang diajarakan oleh Mangkunegara IV disebut sebagai tujuan atau akhir perjalanan suluk bagi sang sufi.

Baca Juga  Islam di Tengah Pusaran Politik Elite dan Kerakyatan

Ajaran lainnya mengenai budiluhur megenai ahlak tau budi pekerti yang terpuji. Menurutnya, budiluhur mempunyai kedudukan yang begitu penting di sampng sembah. Keduanya saling terakit satu sama lian sebagi satu kesatuan yang utuh. Budiluhur juga bergantung dengan sembah yang baik. Semibah raga dijayati dengan sembha kalbu, jiwa, dan rasa membuat seseorang berkemampuan tinggi dalam menguasai hawa nafsu dan berbagai sifat-sifat tercela (Hafidz, 2018:181)

Ajaran  budiluhur Mangkunegara IV senada dengan ajaran yang gaungkan oleh Mahmud Saltut,yang menyatakan bahwa hakikat agama adalah pergaulan. Dan hakikat agama dalam pergaulan adalah baiknya budi pekerti. Dengan begitu ajaran ibadah terakit erat dengan ajaran budiluhur (Mahmud Shaltut, 1996: 95). Ajaran agama dengan budiluhur menjadi satu kesatuan bagi umat Muslim ketika ingin menjadi seorang sufi yang itu sudah dilakukan oleh Mangkunegara IV sebagai raja sekaligus sebagai seorang sufi.

Selanjutnya: Wedhatama; Pupuh Sinom… (2)

Raha Bistara
Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta