Abdulloh Hamid Koordinator Divisi Media Moderate Muslim Institute (MMI) dan Dosen Teknologi Pendidikan UIN Sunan Ampel Surabaya

Guru Digital Menggantikan Model Guru Kelas, Kok Bisa?

1 min read

Hikmah Terbesar Korona adalah Merubah Peradaban. (Khoirul Anwar; CEO Times Indonesia)

Yuval Noah Harari dalam magnum opus “Sapiens” menjelaskan bahwa manusia (sapiens) adalah jenis makhluk terkuat yang bisa berbuat apa saja dan mengalahkan apa saja. Namun dengan adanya virus korona (Covid-19) ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah.

WHO merilis dalam laman who.int, bahwa Covid-19 sudah membunuh sekira 123.126 manusia di seluruh dunia. Sedangkan di Indonesia terkonfirmasi positif 5.136, pasien dirawat 4221, meninggal dunia 469, dan sembuh 446 (15/04/20). Manusia lupa ada yang “Maha Kuat” yaitu sang pencipta virus ini.

Atas kehendak-Nya bumi seolah memperbaiki diri dengan caranya, udara menjadi segar kembali, ikan berenang bebas, tidak ada polusi udara. Wabah Covid-19 ini benar-benar membuat manusia yang merasa paling hebat sadar bahwa ia makhluk yang sangat lemah. Covid-19 merubah tatanan bumi secara radikal.

Tempat ibadah sepi, sekolah dan kampus tutup, dan pertemuan-pertemuan yang melibatkan orang banyak dihentikan karena untuk memutus persebaran Covid-19 harus menerapkan social distancing dan physical distancing.

Mendikbud Republik Indonesia Nadhim Makarim sudah mengeluarkan Surat Edaran nomor 4 Tahun 2020 pada poin kedua menjelaskan tentang proses belajar di rumah menggunakan pembelajaran daring. Sekolah dilarang menyelenggarakan kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang, bahkan Ujian Nasional yang harusnya ditiadakan mulai tahun depan sudah ditiadakan setahun lebih cepat guna untuk memutus mata rantai Covid-19.

Pendidikan daring merupakan sebuah keniscayaan, agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Mau tidak mau guru harus beradaptasi dengan pembelajaran ini sehingga tercipta “guru digital”, di mana guru dan siswa tidak berhadapan tatap muka secara langsung, tapi bisa belajar kapan saja dan di mana saja.

Baca Juga  Jangan Semuanya Menjadi Penyerang (Tanggapan terhadap Tulisan Dr. Aji Damanhuri)

Jika dahulu diadakan analisis kesiapan guru digital dalam pembelajaran daring, maka hasilnya mereka sepenuhnya “belum siap”. Namun dengan kehadiran wabah Covid-19, guru/dosen mau tidak mau harus beradaptasi dengan pembelajaran daring, menyiapkan semua infrastrukturnya (laptop, HP, internet dll), belajar sambil berlari, bergerak cepat, memutar otak untuk selalu kreatif mendesain ulang kurikulum, strategi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.

Konsep pembelajaran daring sebenarnya tidak akan menjadi masalah jika para guru/dosen sudah merubah mindsetnya, pendidikan yang berpusat pada siswa (Learner-Centered Education), bukan pendidikan yang berpusat pada guru (Teacher-Centered Education).

Reigeluth (2017) menjelaskan bahwa Learner-Centered Education is the belief that humans make sanse or make meaning out of information and experience in their own way. Pendidikan berpusat pada siswa adalah keyakinan bahwa manusia mempunyai makna dari informasi dan pengalaman dengan cara mereka sendiri. Aliran pendidikan ini dibangun atas teori kognitivisme, konstruktivisme, humanisme, dan lain sebagainya.

Bagaimana paradigma pendidikan berpusat pada siswa ini penting? Setidaknya ada dua alasan penting, pertama level personal dan yang kedua level sosial. Karena perbedaan kemampuan pemahaman siswa (ada yang cepat ada yang lambat), maka pendidikan berpusat pada siswa adalah satu-satunya cara untuk memaksimalisir pembelajaran dan membantu semua pebelajar mencapai potensi mereka masing-masing (Reigeluth dan Karnopp, 2013).

Masalahnya adalah pendidikan daring masih dipahami sekadar “konsep” dan “perangkat teknis”, belum sebagai “cara berpikir” dan “paradigma pembelajaran”. Masih banyak guru digital yang mempunyai pemahaman bahwa pendidikan daring adalah mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital dengan tugas yang menggunung.

Pendidikan daring bisa mengakibatkan siswa untuk lebih kreatif dalam mengakses sumber belajar, menghasilkan karya, mengasah wawasan sehingga membentuk karakter siswa pembelajar sepanjang hayat (long life education).

Baca Juga  Nilai-Nilai Yang Membawa Ketakwaan dalam Puasa Ramadan

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menyelesaikan ketimpangan teknologi antara sekolah di desa dan kota? Kompetensi guru digital dalam pemanfaatan teknologi pendidikan? Keterbatasan paket internet untuk pemanfaatan teknologi? Hubungan guru-siswa-orang tua yang belum terintegrasi? [MZ]

Abdulloh Hamid Koordinator Divisi Media Moderate Muslim Institute (MMI) dan Dosen Teknologi Pendidikan UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *