Akhol Firdaus Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) dan Dosen UIN SATU, Tulungagung;

Angin Segar Praktik Baik Moderasi Beragama dari Desa Jajar, Trenggalek, Jawa Timur

3 min read

Jajar bisa menjadi situs penting moderasi beragama. Desa kecil di perbatasan Trenggalek dan Tulungagung itu—tepatnya di Kecamatan Gadusari, Trenggalek—telah bertahun-tahun berbenah dan menjadikan dirinya desa berhulu kebudayaan.

Banyak jenis tradisi dan kesenian tradisional sedang mengalami revitalisasi di desa ini, salah satunya adalah seni tiban. Selain itu, ada pelestarian acara megengan dalam suatu kemasan yang dinamai megengan show—rangkaian bersih desa dalam rangka menyambut bulan Ramadan.

Desa ini tergolong sebagai wilayah yang memiliki akar kesejarahan yang kokoh. Tradisi lisan dalam bentuk babad mengaitkan Jajar sebagai kawasan yang dulu di-babad (dibabat atau dibuka) oleh tokoh yang dikaitkan dengan dua tokoh dari Tembayat, Jawa Tengah.

Kedua tokoh tersebut ialah Mbah Abdurrahman dan Mbah Jayagati, yang dikaitkan dengan perjuangan Diponegoro dan diperkirakan membabat kawasan tersebut pada 1800an. Kedua tokoh itu dihubungkan dengan Dahyangan Sarean yang masih lestari hingga saat ini.

Terlepas apakah kelisanan itu bersifat historis atau tidak, yang pasti desa-desa berhulu kebudayaan biasanya berciri pengakuan warganya atas keberadaan para pembabad, dan situsnya masih dilestarikan.

Jajar pun demikian. Desa yang sedang dipimpin oleh seorang lurah yang sangat progresif ini, terus mengaitkan dirinya dengan berbagai warisan tradisi adiluhung yang dikaitkan dengan para pembabad desa.

Imam Mukaryanto, atau sangat akrab dipanggil Mbah Ime Umbokarno, Kepala Desa Jajar yang sangat progresif itu, telah bertahun-tahun menjadikan desanya sebagai situs penting pemajuan kebudayaan.

Alumnus UIN Sunan Kalijaga tersebut memiliki visi yang benar-benar memukau, karena di tengah upaya revitalisasi kebudayaan, Mbah Ime juga ‘menyulap’ Jajar sebagai tempat yang sangat ramah bagi upaya pemajuan moderasi melalui berbagai platform kegiatan lintas agama/kepercayaan.

Baca Juga  Bersahabat dengan Seorang "Ateis-Religius"

Kepala desa yang satu ini memang tergolong istimewa. Semua ikhtiar pemajuan kebudayaan yang ia lakukan diletakan di atas visi yang tajam. Konsep moderasi beragama, menurutnya, “menjadi titik tolak untuk mengedepankan desa sebagai hulu kebudayaan, tanpa menafikan kemanusiaan.”

Penegasan yang sering disampaikannya ini sekaligus menggambarkan bahwa pemajuan kebudayaan dalam bentuk revitalisasi tradisi, bisa dibungkus oleh semangat moderasi beragama dan menjadikan semua elemen agama bekerja sama atas nama kebudayaan dan kemanusiaan. Keduanya seperti dua sisi dari satu keping mata uang—tak bisa dipisahkan.

Visi besar itu kemudian ia tuangkan dalam suatu jargon: “Jajar Gumregah”. Maka, jangan pernah heran bila Anda berkesempatan berkunjung di desa ini dan melihat secara langsung bagaimana upaya-upaya pelestarian tradisi selalu melibatkan berbagai unsur lintas agama dan kepercayaan, yang bukan hanya kelompok-kelompok sosial di desa tersebut, tetapi juga kalangan lintas agama/kepercayaan dari berbagai kabupaten/kota di Mataraman, Jawa Timur.

Itulah yang menjelaskan mengapa di tengah keseriusan merevitalisasi berbagai tradisi dan kesenian tradisional yang mengakar di masyarakatnya, Jajar justru membuktikan dirinya sebagai desa yang sangat maju dalam mengarusutamakan gagasan moderasi dan dialog lintas agama/kepercayaan.

Berbagai kegiatan tradisi seperti pagelaran tiban, megengan show, bersih desa, dan sebagainya, selalu diwarnai juga dengan keterlibatan berbagai elemen lintas agama dan kepercayaan.

Dalam pagelaran seni tiban, misalnya, kita akan menjumpai bagaimana mozaik kesenian tradisi berpadu dengan semangat kerukunan yang melibatkan hampir semua representasi agama dan kepercayaan.

Sekadar catatan, seni tiban merupakan seni tradisional bernuansa adu kesaktian dan kekebalan dalam rangka minta hujan. Kesenian ini melibatkan sejumlah laki-laki yang akan bertanding menggunakan uduk (kumpulan lidi aren), dan bergantian saling menyebetkan uduk ke badan pelakunya. Semakin sering sebetan mengenai badan, sesekali berakhir luka dan berdarah bagi pelakunya. Hal itu diyakini bisa mempercepat turunnya hujan.

Baca Juga  Hingga Ujung Nyawa (4): Kerinduan Seorang Ibu

Dulu, para Indonesianis dan Antropolog mengategorikan tiban sebagai jajaran kesenian yang identik dengan kalangan abangan, seperti halnya jaranan, bantengan, reog, dan semisalnya. Selain dianggap bermuatan mistik, kesenian ini memang cenderung dimainkan oleh kalangan Islam nominal dan masyarakat akar rumput.

Kini, pandangan itu harus direvisi. Kesenian tiban—terutama yang diperagakan di Desa Jajar—lebih menggambarkan titik temu berbagai kalangan dengan orientasi keagamaan yang berbeda-beda, bahkan titik temu semua kelompok agama dan kepercayaan.

Dalam peragaan tiban, semua kalangan santri dari berbagai badan otonom Nahdhatul Ulama (NU) seperti Ansor, Banser, IPNU, dan lainnya terlibat aktif, bersama dengan kelompok-kelompok agama yang berbeda-beda, seperti kalangan Kristen, Hindu, dan bahkan Penghayat Kepercayaan.

Di Desa Jajar, perayaan tradisi dalam pertunjukan seni tiban lebih menggambarkan multivokalitas, suatu ruang bersama ketika harmoni sosial dipupuk tanpa membedakan latar keagamaan dan keyakinan setiap partisipan.

Seiring keberhasilan masyarakat Jajar menjadikan desanya sebagai ruang bersama, banyak kalangan agama dan kepercayaan telah menjadi desa ini sebagai destinasi untuk menggelar acara dialog lintas agama dan kepercayaan.

Kegiatan terkahir yang digelar di Jajar adalah “Camp Pemuda Lintas Iman” yang dihelat pada 29-30 September 2023. Acara ini diinisiasi oleh Komisi Hubungan Antar Umat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), akan tetapi semua kelompok agama dan kepercayaan juga terlibat aktif di dalamnya.

Kegiatan yang mengambil tema “Moderasi Beragama dan Teo-Ekologi dalam Mewujudkan Persaudaraan Sejati” tersebut telah menyerap partisipasi dari organisasi lintas agama/kepercayaan seperti Banser, Ansor, Aliansi Rakyat Trenggalek, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Gusdurian, Kementerian Agama Trenggalek, Fatayat, Badan Musyawarah Gereja (Bamag), dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Jawa Dipa. Yang disebut terakhir merupakan salah satu organisasi Penghayat Kepercayaan yang memiliki basis pengikut sangat besar di wilayah Trenggalek dan Tulungagung.

Baca Juga  Konsep Insan Kamil Syaikh Abdul Karim Al-Jili

Bagi si lurah Ime Umbokarno dan masyarakat Desa Jajar, kegiatan “Camp Pemuda Lintas Iman” ini sekaligus menjadi bukti komitmen mereka menjadikan Jajar sebagai ruang bersama dalam memupuk kerja sama kemanusiaan yang berbasis pada kesadaran moderasi masing-masing kelompok agama dan kepercayaan.

Ditambah, menyeret dialog lintas agama/kepercayaan pada isu pelestarian lingkungan juga merupakan prestasi karena memang sudah waktunya kesadaran keberagamaan memiliki dampak langsung pada isu-isu kemanusiaan. [AR]

Akhol Firdaus Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) dan Dosen UIN SATU, Tulungagung;