Amalia Hasanah Dosen UIN Raden Fatah Palembang

Reid Library, Perpustakaan dengan Pelayanan dan Fasilitas Mengagumkan di Australia

2 min read

Kali ini saya akan berbagi pengalaman ketika kuliah di University of Western Australia (UWA), Perth. Saya banyak terbantu dengan adanya pustakawan yang handal dan perpustakaan yang lengkap fasilitasnya sehingga saya bisa menyelesaikan studi saya tepat waktu. UWA adalah salah satu public research university terkemuka di Australia yang saat ini menduduki rangking 86 dunia berdasarkan QS World University Ranking 2020.

Reid Library yang merupakan perpustakaan utama di UWA terletak di bagian tengah kampus. Pada saat ujian tengah dan akhir semester, Reid Library buka 24 jam yang mana hanya mahasiswa dan pegawai yang bisa mengaksesnya dengan menggunakan ID card bila sudah di atas jam 10 malam.

Hal ini biasanya berlangsung selama 2 minggu hingga satu bulan di tiap masa ujian. Setiap saat, ada pustakawan yang bertugas di tiap lantainya. Bila sedang tidak waktu ujian, Reid Library hanya buka sampai jam 12 malam.

Reid Library menyediakan fasilitas yang cukup lengkap, diantaranya kantin di lantai dasar, komputer yang bisa digunakan di tiap lantainya dan tersambung ke komputer di kantor sehingga tidak perlu memindahkan data bila ingin mencetak file. Printer di sana pun bisa digunakan dengan gratis oleh dosen dan postgraduate students dengan menggunakan ID card, dan di sana banyak ruangan-ruangan kecil dan sedang yang bisa dibooking oleh mahasiswa dan dosen saat membutuhkan ruangan tersendiri untuk berdiskusi.

Selain fasilitas fisik tersebut, Reid Library juga menyediakan pelatihan penggunaan software sitasi seperti EndNote yang terjadwal setiap bulannya. Pelatihan ini dilakukan oleh pustakawan yang berpengalaman. Mahasiswa dan juga dosen bisa mengikuti pelatihan ini dengan mendaftar terlebih dahulu.

Hal ini tentu saja sangat bermanfaat, terutama bagi mahasiswa seperti saya. Apalagi EndNote bersama dengan Mendeley telah terpasang di tiap komputer yang bisa diakses di mana saja selama berada di lingkungan kampus. Selain software sitasi tersebut, terdapat banyak software lainnya yang bisa digunakan oleh mahasiswa dan dosen di komputer perpustakaan, diantaranya: Adobe Creative Cloud Suite, 3DS Max, IBM SPSS, LaTex – Texmaker, NVivo dan masih banyak lagi.

Baca Juga  ‘NU Global Action Melawan Covid-19

Reid Library membagi lantainya menjadi beberapa zona. Lantai dasar disebut collaborative zone, dimana zona ini sangat cocok untuk kerja kelompok dan berdiskusi. Di lantai dasar yang terdapat kantin dan teras yang disediakan kursi untuk makan dan minum juga terdapat microwave dan air panas dan dingin. Di zona ini, pengunjung bisa menggunakan HP selama tidak mengganggu pengunjung yang lain.

Di lantai dasar ini pula, terdapat ruangan-ruangan kecil dan sedang yang bisa digunakan oleh mahasiswa dengan sistem booking. Lantai satu disebut quiet zone dimana pengunjung harus mengaktifkan mode diam di HPnya dan bila berbicara dengan orang lain harus berbisik. Zona ini diperuntukkan untuk orang yang ingin belajar sendiri. Lantai dua dan tiga disebut silent zone dimana pengunjung yang ingin belajar secara serius dan sendiri sangat cocok berada disini. Suara kecil pun bisa dianggap mengganggu ketenangan pengunjung yang lain.

Di tiap lantainya terdapat banyak komputer yang bisa digunakan oleh pengunjungnya. Jumlah keseluruhan komputer di perpustakaan di UWA yang bisa digunakan oleh mahasiswa mencapai 500 buah. Informasi mengenai jumlah komputer yang bisa digunakan di perpustakaan bisa dilihat secara online di website perpustakaan.

Satu fasilitas yang cukup mengagumkan buat saya adalah bahwa perpustakaan bisa menyediakan buku atau jurnal yang dibutuhkan oleh mahasiswa, bahkan bila perpustakaan tidak memiliki koleksi buku atau jurnal tersebut. Saya sering meminjam buku yang koleksinya tidak dimiliki oleh perpustakaan. Biasanya perpustakaan akan mencarikan buku tersebut di perpustakaan lain di seluruh Australia, bahkan di belahan lain dunia.

salahh satu buku yang saya butuhkan untuk menganalisis data saya adalah buku Fifty Years Development of Indonesian Education. Perpustakaan akhirnya menemukan buku itu di Berlin, Jerman dan buku Pendidikan di Indonesia dipinjam dari Cornell University, New York. Untuk buku yang dipinjamkan dari luar perpustakaan, masa pinjamnya hanya 1 bulan saja.

Baca Juga  Apakah Ibadah Haji Dibuat Sebagai Ajang Pamer

Tetapi, untuk buku milik perpustakaan di lingkungan UWA mahasiswa dan dosen bisa meminjamnya selama satu semester dan bisa diperpanjang melalui akun perpustakaan milik mahasiswa dan dosen yang bisa diakses secara online, dengan syarat tidak ada yang ingin meminjam buku itu. Bila ada yang ingin meminjam buku yang sedang kita pinjam, kita wajib mengembalikan buku itu.

Buku high demand seperti itu harus dikembalikan ke perpustakaan di mana kita meminjamnya. Bila buku itu tidak termasuk buku high demand, kita bisa mengembalikan bukunya ke perpustakaan manapun yang kita mau di lingkungan kampus UWA.

Satu fasilitas lain yang disediakan oleh perpustakaan adalah alumni bisa mengakses buku dan jurnal selama buku dan jurnal itu bisa diakses secara online (dalam bentuk pdf). Hal ini tentu sangat bermanfaat terutama bagi alumni yang berprofesi sebagai dosen seperti saya, karena buku dan jurnal itu bisa diakses secara gratis.

Dari best practice yang saya sampaikan di atas, kita bisa belajar bahwa menjadi pustakawan bukanlah hal yang mudah. Mereka harus memahami mengenai tugas dan fungsi mereka. Mereka harus menyediakan waktu untuk melayani mahasiswa dan dosen yang membutuhkan informasi.

Mereka harus mengembangkan diri mengikuti perkembangan teknologi dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan. Mereka juga harus bisa menggunakan software sitasi seperti EndNote dan Mendeley, bahkan mereka harus bisa mengajarkan ke mahasiswa dan dosen untuk menggunakan software tersebut.

Lantas, bagaimana perpustakaan di lingkungan sekitar kita? [AA]

Amalia Hasanah Dosen UIN Raden Fatah Palembang