Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo

Mercon Bumbung

2 min read

sumber: boombastis.com

Bagi banyak orang, mercon adalah bagian kemeriahan Ramadan. Permainan mercon tidak hanya melibatkan anak-anak. Bahkan, banyak laki-laki yang ketika sudah jadi bapak-bapak pun masih keranjingan mercon di bulan Ramadan.

Sebelum mercon produk pabrik mendominasi seperti sekarang ini, anak-anak desa biasanya main mercon bumbung. Mercon bumbung adalah mercon dengan media potongan bambu (bumbung). Biasanya, bambu dipotong sepanjang tiga buku/ros (sekitar 1 meter), satu ujung tetap dibiarkan terbuntu oleh partisi antarbuku bambu, sedang ujung satunya dibuat bolong. Bagi yang tidak tahu seluk-beluk perbambuan, bayangkan saja dengan media pipa: Pipa sepanjang satu meter di mana satu ujungnya buntu dan ujung satunya bolong.

Ujung bambu yang buntu diberi lubang kecil yang berfungsi sebagai lubang sumbu. Cara menyalakan mercon bumbung adalah dengan memasukkan beberapa butir karbit (Kalsium Karbida/CaC2) ke dalamnya dan diberi air sedikit sekedar cukup untuk membuat karbit bereaksi dan mengeluarkan asap (Jawa: mbrekuthuk). Saat karbit mengeluarkan asap, semua lubang bambu harus disumbat, biasanya pakai kain kotor atau apa sajalah pokoknya bisa membuntu lubang. Setelah dirasa asap karbit cukup memenuhi ruang dalam bambu, kain penyumbat dilepas, kemudian lubang sumbu disulut api. Mercon bumbung akan menyalak, mengeluarkan bunyi ledakan, dar!

Pada dasarnya, tidak ada aturan waktu kapan mercon bumbung boleh dinyalakan. Tapi seakan ada kesepakatan bersama bahwa jeda antara maghrib dan isyak adalah waktu paling favorit. Karena tidak setiap rumah membuat mercon bumbung, menyalakan mercon bumbung hampir selalu melibatkan tetangga kiri kanan. Di waktu habis maghrib itu, kita akan mendengar bunyi letupan mercon bumbung dari berbagai sudut kampung, seperti sedang terjadi pertempuran. Dan memang, tidak jarang terjadi “pertarungan” mercon bumbung dengan cara menghadapkan ke titik di mana terdengar bunyi mercon bumbung dari sana.

Baca Juga  Menghormati Jenazah Walaupun Non-Muslim

Ritual pembunyian mercon bumbung bisa terasa sangat khidmat dan heroik. Ketika semua sumbat telah dibuka, api di ujung gala didekatkan ke lubang sumbu, dunia seakan berhenti beberapa detik. Semua orang, anak-anak maupun orang tua yang terlibat dalam persekutuan heroik ini, menarik napas dalam-dalam. Kuping yang ditutupi tangan karena ketakutan terhadap kerasnya ledakan yang sesungguhnya diharapkan, membuat degub jantung terdengar semakin jelas, dag-dug dag-dug! Semua orang menunggu ledakan. Jika guntur adalah Dewa Bunyi yang menguasai angkasa, maka mercon bumbung adalah kekuatan bumi yang menantang kekuasaan sang Dewa itu.

Semua orang bergerak mundur agak menjauh. Hanya si penyulut yang mengulurkan tangannya yang memegang galah api ke lubang sumbu sambil tangan satunya menutup kupingnya. Dia beringsut pelan-pelan mendekati bumbung. Gerak tubuhnya jelas memperlihatkan antara harapan dan ketakutan. Ketika ujung api yang merah itu menjilat lubang sumbu bumbung, itu adalah momentum pertaruhan. Semesta senyap seketika. Semua orang menahan nafasnya. Paru-paru menggembung. Aliran darah berhenti, menyurut-kumpul kembali ke jantung. 

Duarrr….! Mercon bumbung menyalak penuh gagah. Sang Dewa Guntur meriut seketika, atau mungkin tersinggung dan marah bahwa penantangnya telah paripurna menunaikan tugasnya. Sepersekian detik setelah ledakan, semesta bergerak kembali. Paru-paru melepaskan nafas dengan lega. Jantung dengan suka cita memompa darah kembali memenuhi kebutuhan konsumen di pelosok tubuh.

Sebegitu heroik mercon bumbung itu memuasi dahaga manusia akan sebuah bunyi. Maka, bayangkan betapa kecewanya jika seluruh harapan dan usaha ini ternyata tidak kesampaian. Ada kalanya mercon bumbung sungguh mengecewakan. Ketika semua orang bergerak mundur-menjauh, telinga ditutup setengan rapat setengah terbuka, setiap mata penuh awas memandangi ujung nyala api yang menjilat lubang sumbu, tiba-tiba pusssss…! Bunyi yang keluar bukan ledakan, tapi hanya berupa desisan persis kentut yang keluarnya diharapkan tapi baunya diingkari karena memalukan.

Baca Juga  Salafi versus NU Bicara Bidah di Madura: antara KH. Zubair Muntashor dan KH. Shinwan Adra’ie

Saat-saat seperti itu, dunia terasa runtuh. Setiap mata memandang si bumbung dengan kekecewaan meskipun senyum di bibir tetap dipaksakan. Tak jarang terdengar sumpah serapah dan pisuhan (Cuk!) keluar dari mulut beberapa orang. Si pemilik bumbung akan mencoba lagi. Dia melakukan prosesi dari awal. Andai apa yang ada di hatinya bisa di kalimatkan, mungkin bunyinya seperti ini:

“Oh bumbung, kamu tahu betapa berharganya dirimu bagiku. Aku meletakkan seluruh hidup dan kebanggaanku padamu, setidaknya di waktu antara maghrib dan isyak. Jangan kecewakan aku dan orang-orang yang saat ini mengelilingimu. Keluarkan bunyimu sekeras yang engkau bisa. Karena hanya bunyi itu yang bisa menyempurnakan berbuka ala kadarnya. Jika engkau lelah, aku bisa memakluminya. Kamu mungkin perlu istirahat satu-dua kali sulutan dengan hanya mengeluarkan bunyi kentut yang memalukan. Namun jika kamu sudah tak sanggup menunaikan tugas kehambaanmu sebagai duta suara di bulan puasa, maka aku akan memenggalmu, mengeringkanmu, dan membakarmu di tungku perapian hingga engkau bisa menjalankan fungsimu sebagai kayu bakar agar saat ufuk barat digores mega merah kami tak menanggung lapar”

Ketika mercon bumbung itu kembali hanya mengeluarkan desisan, kerumunan itu akan bubar dengan dada yang dipenuhi rasa kecewa. Semua tahu bahwa bumbung itu akan segera menjadi kayu bakar. Jika esok hari si empunya terlihat menggotong potongan bambu baru, orang-orang akan diliputi kesenangan dan harapan kembali karena selepas buka dan shalat maghrib hari itu, mereka akan berkumpul kembali menikmati bunyi ledakan. Dan, seperti sebelumnya, mereka meletakkan pada bumbung itu seluruh harapan dan kesenangan akan sebuah bunyi. Begitulah, hidup adalah sebuah perjalanan yang diseimbangkan antara harapan dan kekhawatiran.

Baca Juga  Gerakan Wahabisme yang Tak Pernah Tunduk pada Imperium Turki Usmani

Jika ada bumbung yang bermanfaat karena bunyinya, tak setiap potongan bambu hanya bernilai dari ledakannya. Setiap bambu tahu diri. Jika tak bisa memuasi telinga, dia dengan suka rela dibakar untuk memberkati perut yang perlu berbuka di bulan puasa.[]

Ahmad Inung Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *