



Allah itu Maha Asyik. Begitu kira-kira ketika guru saya menjelaskan kepada muridnya tentang kewajiban seorang suami.
Dalam kajian beberapa hadis dan ungkapan ulama, Habib Jafar Husein Hadar menyatakan bahwa kewajiban menyusui menjadi tanggungjawab para suami. Pun demikian dengan kewajiban untuk mengasuh anak.
Kata guru saya, di situlah letak asyiknya Tuhan. Media dan peralatan menyusui semuanya dimiliki oleh istri. Juga, kelebihan bentuk fisik perempuan dengan pinggul yang lebih besar, dibanding laki-laki, untuk menggendong anak juga Tuhan karuniakan kepada istri, bukan kepada para suami.
Pertanyaan, kenapa Tuhan malah membebankan tanggung jawab pengasuhan anak kepada suami, bukan istri yang secara alamiah memiliki segala kelebihan untuk melaksanakannya? Hal ini termasuk pada pembahasan memasak, menyuci pakaian, dan belanja yang keseluruhan skill yang dimiliki oleh kaum perempuan.
Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah disebutkan bahwa, mayoritas para ulama ahli fikih Syafi’iyyah, Hanabilah, dan sebagian Malikiyah berpendapat bahwa istri tidak wajib melayani suami dalam urusan rumah tangga. Ya, tidak wajib. Titik.
Tapi kalau dia mau, itu lebih baik. Tentu saja, karena kehidupan rumah tangga bukanlah sebuah ‘kontrak dagang’, tapi jalinan cinta, kasih, dan ‘kesalingan’.
Dalam Hasyiyatul Jama ‘alā Syarh al-Manhaj karya Syaikh Sulaiman bin Umar al-‘Ajili al-Azhari asy-Syafi‘i ditegaskan bahwa seorang suami wajib memberitahu istrinya bahwa pekerjaan rumah bukan kewajiban syariat bagi sang istri. Sebab, jika tidak dijelaskan, sang istri bisa menyangka bahwa semua pekerjaan itu adalah kewajiban agama.
Dari sini, ia berpotensi menjalankannya dengan rasa terpaksa, bukan dengan kerelaan. Padahal, agama ini dibangun di atas rida, bukan paksaan. Jika yang terjadi sebaliknya, rumah tangga tidak lagi menjadi tempat pulang yang menenangkan, melainkan berubah menjadi ladang tekanan.
Meskipun banyak kalangan istri hari ini menjalankan pekerjaan rumah tangga dan menyusui anak-anak tanpa ujrah (upah), pada dasarnya itu semua bukan beban syar’i mereka. Namun, jika mereka melakukan semua itu dengan ikhlas, maka pahala yang luar biasa sebagai imbalannya.
Syekh Nawawi Banten pernah menyebut bahwa menyucikan pakaian suami, memasak untuk keluarga, bahkan menyusui anak, semua itu berpahala besar bila diniatkan sebagai ibadah.
Justru yang tidak asyik adalah jika para istri rela menjalakan semua pekerjaan rumah tangga tersebut namun para suami justru malah hanya rebahan saja, merasa berkuasa penuh atau kurang memberi perhatian. Di sinilah letak ketimpangan dan bias gender yang sering disamarkan dengan istilah “kewajiban kodrati”.
Di sisi lain, siapapun pasti sepakat bahwasannya rumah tangga Rasulullah saw. dan para istri beliau (ummahatul mukminin) adalah cermin terbaik bagaimana rumah tangga dibangun bukan atas dasar “siapa harus apa”, tapi “siapa bisa apa”.
Sayyidah Aisyah memasak, benar. Tapi Nabi pun menjahit bajunya sendiri, menyapu rumah, memerah susu, bahkan memasak bersama pelayannya. Nabi juga menambatkan unta, memperbaiki sandal, menyervis kantung air, semua dengan tangan beliau sendiri.
Rumah tangga yang sehat, bukan tentang “perempuan harus begini, laki-laki harus begitu”, tapi tentang “bagaimana kita bisa saling menguatkan”. Kalau semua dikembalikan ke dalil fikih, maka bisa-bisa suami hanya wajib memberi makan dan tempat tinggal, dan selebihnya tak peduli.
Suami yang pengertian bukanlah ia yang tahu semua dalil, tapi ia yang tahu diri. Ia tak merasa kehilangan kehormatan saat mencuci piring, tak merasa kehilangan wibawa saat mengganti popok anak, dan tak merasa hina saat memasak nasi di kala istrinya kelelahan.
Ia sadar, menjadi qawwam bukan berarti menjadi raja yang dilayani, tapi menjadi pemimpin yang melayani lebih dulu. Ia bukan pencatat kesalahan, melainkan pelipur lelah. Ia bukan hakim yang menuntut istri sempurna, melainkan sahabat yang siap menanggung beban bersama.
Pun demikian, istri yang selalu membantu tak pernah merasa tinggi karena sering memberi. Ia tak menagih, tak mengungkit, apalagi mempermalukan. Ia tahu bahwa setiap lipatan baju yang ia tata, setiap kepulan asap saat memasak adalah bentuk cinta sekaligus yang tak bisa diukur dengan uang atau kata. Maka rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang saling mengerti—suami yang tahu diri, dan istri yang tak perlu diminta untuk peduli. Karena keduanya yakin cinta yang dirawat dalam ridha-Nya akan selalu tumbuh, bahkan di tengah cucian kotor dan dapur yang belum sempat dibereskan.
Guru Ngaji dan Mahasantri Ma'had Aly Lirboyo, Kediri