Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Menghilangkan Kesulitan dan Memaknai Hidup (2)

3 min read

Sebelumnya: Menghilangkan Kesulitan dan Memaknai Hidup (1)

Sekurang-kurangnya, hemat penulis, jika manusia ingin terhindar dari kehidupan yang bernuansa permainan, perhiasan, senda gurau dan sikap berbangga-bangga yang merupakan perbuatan sia-sia dari perbuatan syaitan, maka ada 4 hal yang harus diperhatikan.

Pertama, Islam mengajarkan manusia hidup untuk ibadah. Artinya, manusia dalam gaya hidupnya secara umum ada tiga macam yakni, Islam, kafir, dan munafiq. Adapun gaya hidupnya Islam yang sesungguhnya adalah makan untuk hidup, hidup untuk beribadah, beribadah untuk hidup selama-lamanya di akhirat.

Sedangkan orang-orang kafir sebaliknya. Artinya, gaya hidup mereka sama saja dengan kehidupan binatang. Kemudian gaya hidup orang-orang munafiq pada kenyataannya suka berbohong, suka memberi janji tapi ingkar janji, diberi kepercayaan dia hianat. Allah Swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56).

Akan tetapi, ibadah yang dimaksudkan dalam ayat ini bukanlah semata-mata berbentuk kegiatan ritual saja, karena ibadah dalam Islam maknanya sangat luas melainkan terkait dengan semua kegiatan hidup manusia sehari-hari yang diridhai oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya. Maka dari itu, sebelum melakukan aktifitas, sangatlah dianjurkan untuk memulai dengan “Basmalah” agar menjadi nilai ibadah disisi-Nya, sekaligus untuk mendapatkan keberkahan hidup dalam segala aktivitasnya. Jadi, intinya ibadah kepada Allah Swt. adalah menjalin hubungan dengan baik kepada Sang Khaliq.

Kedua, menjalin hubungan yang baik kepada Allah Swt. Kita tahu, hubungan hamba kepada Allah Swt. merupakan suatu keharusan mutlak bagi semua manusia dan lebih khusus kepada umat muslim, sehingga setiap muslim akan merasa dekat dengan-Nya. Bila hubungan itu sudah terasa dekat, maka dimana pun dia berada, kemana pun dia pergi dan bagaimana pun situasinya dan kondisi yang dihadapinya, seorang muslim akan selalu merasa diawasi oleh Allah Swt.

Baca Juga  Orang Muhammadiyah Hidup Enjoy di Lingkungan NU (2)

Kalau perasaan ini sudah tertanam pada jiwa manusia, maka dia tentu tidak berani menyimpang dari jalan Allah Swt. Adapun cara untuk menjalin hubungan dengan Allah Swt., yaitu mengintensifkan zikrullah dimanapun kalian berada, karena dengan membaca kalimat tauhid tersebut kita akan selalu terawasi.

Lebih dari itu, kedudukan ingatan hamba kepada Allah berbeda dengan ingatan Allah kepada hamba-Nya. Ingatan hamba kepada Allah adalah “ibadah”. Sedangkan ingatan Allah kepada hamba adalah “limpahan rahmat dan ampunan-Nya”. Apabila ingatan itu sudah dimiliki hamba, maka dia pun sudah memiliki hakikatnya (keberkahan hidup di dunia).

Selanjutnya, kedudukan syukur kepada Allah Swt., adalah “ibadah juga kepada-Nya”. Maksudnya, kita diberikan fasilitas oleh Allah Swt. berupa harta, jabatan dan lainnya, itu semata-mata untuk dipakai beribadah kepada-Nya. Lalu ibadah yang dilakukan selama ini, hakikatnya adalah persiapan kehidupan kita di akhirat kelak.

Ketiga, menjalin hubungan yang baik kepada sesama manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri-sendiri. Setiap manusia pasti membutuhkan kepada manusia lainnya. Maka dari itu, manusia harus menjalin komunikasi yang intens dan hubungan yang baik antara sesamanya.

Islam melarang manusia saling bermusuhan, saling mengadu domba, memfitnah, menggunjing, mencaci maki, mengupat dan membuka aib saudaranya sampai pada iri hati, dengki dan lain sebagainya yang merupakan aktivitas hati. Sebaliknya, manusia diharuskan agar senantiasa berbuat baik antara sesama, menjalin persaudaraan, menjaga persatuan dan kesatuan, saling tolong menolong dalam kebaikan, sayang-menyayangi, bahu-membahu, saling memberikan hadiah.

Keempat, berpegang teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Umat Islam memiliki modal yang sangat besar untuk bersatu, karena mereka beribadah kepada Tuhan yang satu (Allah Swt), mengikuti nabi yang satu (Nabi Muhammad Saw), berkiblat yang satu (Ka’bah), berpedoman kepada kitab yang satu, yakni al-Qur’an. Dan, Hadits merupakan penjelasan dari al-Qur’an.

Baca Juga  Beberapa Persoalan Menuju Muktamar dan 100 Abad NU

Jika hal ini dipahami oleh semua umat Islam, maka umat Islam tidak mudah diadu domba oleh umat-umat yang lain. Tetapi masih banyak umat Islam mudah terpancing, maka seperti inilah kenyataannya sekarang.

Al-Qur’an dan Hadits merupakan pedoman dalam perjalanan hidup manusia. Karena itu, barang siapa yang berpegang kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat selamalamanya. Ibarat pelaut, al-Qur’an dan Hadits itu merupakan kompas yang menunjuki arah perjalanan. Apabila dua pedoman ini diabaikan, maka seorang muslim akan tersesat dari jalan hidup yang benar.

Sebaliknya, bila pedoman ini dipegang erat-erat, niscaya seorang muslim tidak akan berhasil disesatkan oleh syaitan dan para pengikutnya dari jalan hidup yang benar. Telah banyak ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang pedoman hidup manusia dalam kehidupannya. Salah satu diantaranya adalah surat Thaha. Allah Swt. berfirman:

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيْعًاۢ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ  فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقٰى. وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha [20]: 123-124).

Syahdan, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Bani berkata; “Pada zaman ini, kita hidup bersama kelompok-kelompok orang yang semua mengaku bergabung dengan Islam. Mereka meyakini bahwa Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi kebanyakan mereka tidak ridha berpegang dengan perkara ketiga yang telah dijelaskan yaitu; sabilul mukminin (jalan kaum mukminin), jalan para sahabat yang dimuliakan dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya dari kalangan tabi’in dan para pengikut mereka. Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits: “Sebaikbaik manusia adalah generasiku”, dan seterusnya.

Baca Juga  Tren Program Tahfidz di Sekolah dan Maklumat Nyanyian Bebas (2)

Dengan demikian, tidak merujuk kepada salafush shaleh dalam pemahaman, pemikiran dan pendapat, merupakan penyebab utama yang menjadikan umat Islam berpecah belah menuju jalan-jalan yang baik. Maka, barang siapa benar-benar menghendaki, kembalilah kepada al-Kitab dan as-Sunnah, yaitu wajib kembali kepada apa yang ada pada para sahabat, para tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Wallahu a’lam bisshawaab.

Salman Akif Faylasuf Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo