Ahmad Lubab Dosen Pendidikan Matematika UIN Sunan Ampel Surabaya. Tinggal di Sidoarjo dan Pendukung Arsenal.

Matematikawan Islam Pada Masa Khilafah

2 min read

Foto Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī
Foto Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī

Akhir abad ke-9 hingga ke-13 merupakan penanda era pengembangan secara luas dan mendalam ilmu pengetahuan, agama, filosofi, dan budaya yang mana belum pernah digalakkan dalam sejarah dunia sebelumnya.

Di tengah perkembangan tersebut, pencapaian-pencapaian sebelumnya dari peradaban yang jauh dibawa bersama-sama, dikomparasikan dan dibangun kembali untuk menasbihkan masa keemasan penemuan-penemuan ilmiah. Alhasil, bukan hanya menjadi jaman yang menjembatani keilmuan masa kuno dan masa Renaissance di Eropa, akan tetapi juga menjadi fondasi dasar keilmuan modern global.

Kekhalifaan Dinasti Abbasiyah menjadi saksi keunggulan aspek keilmuan ini, tepatnya di masa Khalifah ke tujuh yakni al-Ma’mun al-Rasyid (786-833), putra khalifah ke-5, Harun al-Rasyid (763-809), yang memiliki concern pada ilmu pengetahuan.

Untuk mewujudkan keinginannya, beliau memerintahkan untuk mengumpulkan pengetahuan dan penemuan ilmiah di suatu lokasi yang terpusat dengan mendirikan sebuah institusi pendidikan di Baghdad yang terkenal, Baytul Hikmah atau the House of Wisdom. Bahkan dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah, dalam hal pencapaian keilmuan, era Al-Ma’mun ini sulit dicari tandingannya di antara para khalifah Dinasti Abbasiyah lainnya.

Institusi Baytul Hikmah juga diklaim sebagai lembaga pendidikan tertua yang maju bak kampus di era kekinian yang di dalamnya telah terdapat kelas, perpustakaan, laboratorium dan beberapa fasilitas lainnya.

Tidak hanya itu, keseriusan bagi ilmuwan yang giat juga dimotivasi oleh ganjaran (baca: gaji) yang sangat tinggi. Bahkan, konon diceritakan bahwa untuk ilmuwan yang menerjemahkan suatu buku ke dalam bahasa arab, akan dihadiahi emas seukuran (seberat) buku yang ia terjemahkan dan bahkan lebih banyak dari itu.

Di antara berbagai pengetahuan yang dikembangkan, Matematika merupakan proyeksi monumental yang dikontribusikan oleh matematikawan muslim jaman itu. Dari ilmu inilah kemudian lahir berbagai rumpun ilmu lain seperti fisika, kimia, astronomi, geografi dan masih banyak lagi.

Baca Juga  Hujan Februari

Firas Alkhateeb (2017) dalam bukunya Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation from The Past menyebutkan diantara ilmuwan tersebut terdapat tiga sosok yang menonjol:  Al-Khawarizmi, Omar Khayyam dan Al-Battani.

Pertama, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (775-835), seorang matematikawan terkemuka dan penemu alJabar (Algebra), pernah bekerja di institusi tersebut. Selama masa tugasnya di perpustakaan itu, ia menulis karya monumental, Kitab al-Jabr wa al-Muqabillah. Dia menjelaskan bagaimana persamaan aljabar dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah keseharian mulai dari urusan pembagian warisan hingga geografi.

Faktanya, kata aljabar sendiri berasal dari judul buku milik Khawarizmi yang berarti penyempurnaan, mengacu pada keseimbangan dua sisi dari persamaan aljabar untuk menemukan sebuah solusi.

Kontribusi hebat Al-Khawarizmi ialah memilah masalah-masalah komplek dalam matematika termasuk masalah terkait bilangan yang bukan bilangan bulat (non-integer) yang mana tidak mungkin dalam sistem romawi. Akan tetapi sistem India (1, 2, 3, 4…) mengizinkan angka negatif dan besar untuk lebih mudah diekspresikan, memudahkan masalah yang kompleks.

Sosok yang diidolakan Steve Jobs ini tidak hanya meminjam sistem dari India kuno, akan tetapi juga menambahkan sebuah tautan yang hilang yakni angka nol. Meskipun waktu itu beliau belum mampu menunjukkan nol secara matematis, beliau mampu mengimplementasikannya ke dalam studi lebih lanjut, merevolusi beberapa subjek, dan mendapatkan penemuan baru.

Kedua, Omar Khayyam yang merupakan matematikawan asal Persia, hidup pada tahun 1048 M hingga 1131 M. Meski ia lebih banyak dikenal sebagai penyair di Barat, ia merupakan ahli di bidang matematika yang sukses. Ilmuwan yang bernama lengkap Ghiyātsuddin Abulfatah ‘Umar bin Ibrahim Khayyāmi Nisyābūri ini berhasil menemukan metode untuk menyelesaikan persamaan kubik dan juga memformulasikan teorema binominal.

Baca Juga  [Review Buku] Fikih Kebangsaan Lirboyo: Buah dari Fikih dan Islam Nusantara

Penemuan tersebut terkesan teoritis dan hanya dipelajari oleh pelajar di tingkat menengah, akan tetapi hal tersebut memiliki aplikasi yang sangat penting. Melalui aljabar yang advance, subjek-subjek seperti trigonometri dan kalkulus dapat dikembangkan secara pesat.

Sementara itu, ilmuwan Muslim ketiga yang berpengaruh di abad ke-10 ialah Al-Battani, yang lebih fokus pada hal-hal praktikal. Melalui pendalaman fungsi-fungsi trigonometri dan pemahaman dasar mengenai perbintangan, beliau membantu masyarakat dalam memperkirakan posisi maupun lokasi secara tepat di bumi yang sangat penting bagi masyarakat muslim untuk menentukan arah kiblat. Terdapat pula karya berupa buku panduan dengan memberikan data ratusan kota bersamaan dengan titik koordinatnya dari setiap kota menuju Ka’bah, sekalipun dari jarak ribuan kilometer.

Oleh karena itu, di antara masjid-masjid yang didirikan ribuan tahun lalu yang mengikuti panduan Al-Battani, mengarah tepat ke Mekah. Melalui dasar-dasar trigonometri ini, ilmuwan saat ini bahkan dapat menjadikannya sebagai dasar bagaimana sistem GPS yang digunakan kebanyakan orang saat ini bekerja. Selain itu, Al-Battani juga terkenal dengan penemuannya tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. [HM]

Ahmad Lubab Dosen Pendidikan Matematika UIN Sunan Ampel Surabaya. Tinggal di Sidoarjo dan Pendukung Arsenal.