Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Siapa ‘Namus’ yang Disebut Waraqah Saat Mendengar Rasulullah Menerima Wahyu Pertama?

2 min read

Dikisahkan dalam berbagai tarikh Islam klasik bahwa saat menerima wahyu pertama kali, Nabi Muhammad merasa ketakutan ketika ditemui Jibril di Gua Hira. Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din) dengan sangat indah mengisahkan, pada suatu malam menjelang akhir Ramdhan, dalam usia keempat puluh, ketika sang Nabi sedang sendirian bertahannuts di sebuah gua di Bukit Hira’, datang kepadanya seorang malaikat.

Malaikat itu mendekapnya sangat erat, kemudian melepas dekapannya dan berkata, “Bacalah!”. Beliau menjawab, “Aku tak dapat membaca.” Sang malaikat mendekapnya lagi dengan erat, dan melepaskannya lagi, kemudian memintanya untuk membaca. Beliau mengulangi jawabannya bahwa beliau tidak bisa membaca. Untuk ketiga kalinya malaikat itu mendekapnya dengan erat, melepasnya lagi, dan berkata:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسٰنَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari “segumpal darah”. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena (qalam). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96:1-5)

Setelah sang Malaikat meninggalkannya, Nabi pulang ke rumah dengan penuh penuh ketakutan. Beliau lari dari gua dengan badan gemetaran. Ketika sampai di rumah, dia meminta istri tercintanya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Khadijah sendiri telah lama mendengar berita dari seorang Pendeta Nestor dan saudara sepepunya yang beragama Kristen, Waraqah, bahwa kelak Muhammad akan menjadi seorang Rasul Allah.

Berita itu selama ini hanya dipendam di dalam hatinya sambil berharap-harap cemas kapan suami tercintanya diangkat Allah menjadi utusan-Nya. Segera Khadijah menyelimutinya dan mencurahinya dengan cinta yang hangat dan menenangkan. Setalah merasa tenang, Nabi menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya kepada Khadijah.

Baca Juga  Al-Rahim dan Cinta yang Tak Bertepi

Dengan penuh kelembutan, Khadijah menenangkan suaminya. Ketika suaminya sudah merasa tenang, khadijah bergegas menemui saudara sepupunya, Waraqah, dan menceritakan kejadian yang baru saja dialami suaminya. Waraqah yang saat itu sudah sepuh dan buta menggumam dengan ketenangan yang berbaur dengan ketakjuban, “Quddus! Quddus! (sang Suci! sang Suci!).

Kemudian dia melanjutkan, “Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, yang mendatangi Muhammad adalah Namus terbesar, yang dulu juga mendatangi Musa. Sungguh, Muhammad adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkanlah dia!”

Sampai di sini, yang menjadi pertanyaan adalah siapa ‘Namus’ yang disebut oleh Waraqah itu. Namus adalah istilah yang diambil dari Bahasa Yunani Kuno, “nomos” (νόμος) yang secara literal berarti “kebajikan” (virtue). Ia juga bisa diartikan law (hukum), custom (adat), dan honor (kehormatan).

Ada juga yang menyatakan bahwa padanan yang lebih tepat arti kata “namus” adalah “chastity” (kesucian) daripada “honor” (kehormatan). Namus dalam pengertian kesucian ini merujuk pada sebuah kualitas moral luhur yang menggambarkan bagi siapa saja yang memilikinya berarti memiliki integritas dan tidak melakukan kebejatan seksual.

Itulah mengapa Waraqah ketika mendengar cerita Khadijah tentang apa yang baru saja dialami Nabi Muhammad, dia spontan mengucap kata “Qudus”, sebelum menjelaskan bahwa makhluk yang menemui Muhammad di Gua Hira itu adalah Namus. Bisa diasumsikan dengan sangat kuat bahwa istilah Namus yang digunakan oleh Waraqah di sini adalah Ruhul Qudus, yang mayoritas mufassir Muslim menganggapnya sebagai nama lain dari Malaikat Jibril.

Ada istilah lain dalam Bahasa Yunani Kuno yang mirip dengan “namus” atau “nomos”, yaitu “pneuma” (πνεῦμα). Pneuma dalam konteks keagamaan biasanya diartikan dengan “spirit” atau “soul” (roh atau jiwa). Konsep spirit dan soul tidak jarang digunakan secara tum pang tindih, di mana keduanya merupakan aspek immaterial yang tak kasat mata dari makhluk. Sementara, istilah “spirit” itu sendiri seringkali diartikan sebagai makhlik supernatural, entitas non-material, yang karenanya istilah spirit juga diartikan dengan “angel” atau “malaikat”.

Baca Juga  Penetrasi Media Baru dalam Dakwah

Dari sini semakin terlihat bahwa “Namus” yang disebut oleh Waraqah adalah Malaikat Jibril, pemimpin malaikat, yang biasa disebut dengan panggilalan Ruh al-Qus atau Roh Kudus atau Roh Suci atau Malaikat Suci atau Holly Spirit. Jibril atau Roh Kudus (Ruh Quds) adalah malaikat yang dalam keyakinan Islam, dan sebagian dari tradisi agama-agama Abrahamik, bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para Rasul-Nya.

Dialah Namus, Ruh Kudus atau Jibril, pemimpin para malaikat yang telah menemui Nabi Muhammad di Gua Hira, dan yang juga telah menemui Nabi Musa dan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, untuk menyampaikan wahyu dari Allah. Wallahu a’lam bi al-shawab[AA]

Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi
Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo