Prof. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya; Pengarang Buku Best Seller Terapi Shalat Bahagia, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, dll.

[Khutbah Jumat] Menggeser Gunung, Membelah Laut dengan Shalat

3 min read

اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ فَيَا عِبَادَاللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum muslimin Yth.

Hadirin yang terhormat

Saya diberi topik khutbah, “Inti dan Ruh Shalat.” Agar lebih hidup, saya ganti dengan topik, “Menggeser Bumi, Membelah laut dengan Shalat.” Saya akan memulainya dengan membacakan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d [13] ayat 31:

وَلَوْ أَنَّ قُرْءَانًا سُيِّرَتْ بِهِ ٱلْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ ٱلْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ ٱلْمَوْتَىٰ ۗ بَل لِّلَّهِ ٱلْأَمْرُ جَمِيعًا ۗ أَفَلَمْ يَا۟يْـَٔسِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن لَّوْ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَهَدَى ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۗ وَلَا يَزَالُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ تُصِيبُهُم بِمَا صَنَعُوا۟ قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِّن دَارِهِمْ حَتَّىٰ يَأْتِىَ وَعْدُ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخْلِفُ ٱلْمِيعَادَ

Arab-Latin: Walau anna qur`ānan suyyirat bihil-jibālu au quṭṭi’at bihil-arḍu au kullima bihil-mautā, bal lillāhil-amru jamī’ā, a fa lam yai`asillażīna āmanū al lau yasyā`ullāhu laḥadan-nāsa jamī’ā, wa lā yazālullażīna kafarụ tuṣībuhum bimā ṣana’ụ qāri’atun au taḥullu qarībam min dārihim ḥattā ya`tiya wa’dullāh, innallāha lā yukhliful-mī’ād.

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 31).

Baca Juga  Khutbah Jumat: Bahagia dalam Beragama, Berbangsa, dan Bernegara

Berkaitan dengan ayat di atas, ada peristiwa unik yang dialami seorang ibuyang hidup tertekan, tidak berdaya menghadapi kekerasan suaminya.Oleh temannya, si ibu disarankan untuk membaca ayat di atas setiap malam. Lalu, ia secara rutin melakukannya, sekalipun sama sekali tidak mengerti artinya. Beberapa bulan kemudian, secara mengejutkan, sang suami berangsur-angsur berubah, semakin melunak dan lebih santun. Karena itu, si ibu datang kepada saya untuk meminta penjelasankandungan ayat tersebut.

Ayat yang turun ketika Nabi masih berada di Mekah ini mempertegas ayat sebelumnya bahwa hati orang-orang kafir Mekah benar-benar membatu. Seandainya mereka menyaksikan Al-Qur’an dapat mengoncangkan gunung-gunung, membelah bumi, atau menghidupkan orang yang telah mati, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah. Akan tetapi ayat ini juga dijadikan motivasi bagi Nabi untuk melakukan perubahan, sebab dalam ayat ini juga terkandung isyarat akan terjadinya revolusi besar: bangsa Arab yang telah mati jiwanya akan dihidupkan Allah SWT.

Melunakkan hati yang keras, menghidupkan jiwa yang mati, memfungsikan kembali mata yang buta dan telinga yang tuli bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Semua makhluk ada dalam genggaman kekuasaan-Nya (bal lillahil amru jami’an).Atas usaha Nabi yang tiada henti, para pengembala unta dari penduduk pedalaman Arab (badwi)beberapa tahun kemudian menjadi pahlawan-pahlawan sejarah. Tokoh-tokoh elit penentang Nabi berbalik arah: masuk Islam dan kemudian memperkuat barisan Nabi. Mereka antara lain Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, dan ‘Amr bin al-‘Ash. Dua kerajaan besar yang amat berpengaruh di kawasan Timur dan Barat pada waktu itu, yaitu Kerajaan Persia dan Romawi bertekuk lutut pada kekuasaan Islam.

Hadirin yang sangat terhormat

Sengaja saya memilih ayat di atas untuk khutbah Jum’at pada bulan bernuansa isra’ mi’raj sekarang ini, semata-mata untuk meyakinkan kita semua, cahaya Allah yang dahsyat itu bisa diperoleh melalui shalat. Satu di antara doa dalam sujud kita adalah doa permohonan cahaya, bahkan memohon agar diri kita menjadi cahaya itu sendiri, “..waj’alni nura (dan jadikan diriku sebagai cahaya) (HR. Muslim, Ahmad dari Ibnu Abbas r.a). Shalat lima waktu benar-benar memberikan cahaya dan kekuatan iman yang menjadikan kita memiliki kapasitas berlipat untuk menghadapi tantangan apapun untuk sebuah cita-cita.

Baca Juga  Khutbah Jumat: Merdeka dari Kebodohan

Cahaya Allah tidak hanya kita butuhkan untuk menerangi diri agar terjauh dari dosa, tapi juga menerangi jiwa agar terpupus dari keputusasaan, lalu berubah menjadi hidup penuh harapan, memandang terbitnya mata hari di pagi hari sebagai lambang munculnya harapan-harapan baru. Dengan cahaya shalat, terik mentari menjadi penyemangat kerja sepanjang hari.

Shalat tidak hanya menghasilkan pengampunan atas semua dosa dan mengantarkan kita ke surga, tapi juga bisa untuk membangun surga di dada. Artinya, orang Islam jangan hanya menunggu surga di alam baka. Mengapa kita tidak meraih surga sekarang juga? Mengapa banyak di antara kita yang telah shalat, namun masih menderita, gelisah, cemas, dan putus asa. Bagaimana mungkin mereka leading dalam ekonomi dan politik dunia. Di mana cahaya shalat kita?

Hadirin yang sangat terhormat

Dengan iman yang benar, kita tidak akan merasakan lelah untuk menempuh perjalanan sejauh apapun. Iman yang tangguh menjadikan kita berani menyeberangi laut yang penuh gelombang dan mendaki ke puncak gunung yang tertinggi. Ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca dalam shalat harus dapat merubah pribadi yang lunglai dan putus asa untuk bangkit, dan yang bermental rendah diri menjadi percaya diri.

Ayat-ayat al-Qur’an dan doa-doa dalam shalat kita harus disertai renungan mendalam sehingga menghasilkan keyakinan dan optimisme yang mantap akan kekuasaan, kasih dan keperkasaan Allah untuk menolong kita dalam semua hal. Tidak perlu menangisi takdir masa lalu, dan tidak perlu cemas membangun masa depan. Dengan sentuhan tangan Allah, semua yang sulit menjadi mudah, yang berat terasa ringan, dan yang menurut perkiraan hanya impian, benar-benar menjadi kenyataan (dreams come true), sebab Allah berfirman dalam ayat di atas, “bal lillahil amru jami’an” (semua dalam genggaman Allah).

Baca Juga  [Khutbah Jumat] Menjadi Muslim yang Selektif dan Produktif

Mintakan cahaya itu untuk diri sendiri, suami, istri, anak atau untuk siapa saja melalui shalat. Sudah saatnya, kita akhiri sekarang juga kebiasaan shalat yang hanya raga tanpa nyawa, hanya gerakan tanpa renungan, atau hanya shalat robot, tanpa hati. Optimislah menghadapi semua persoalan hidup dengan cahaya al-Qur’an dan cahaya shalat. Saya yakin kita bisa menggoyang jagat dengan shalat. Geserlah “gunung,” belahlah “bumi,” hidupkan “orang mati” dengan shalat. Dengan semangat itulah, kita bisa menggenggam dunia, membangun surga di dada dan memasuki surga di alam baka. [MZ]

Khutbah ini terbit pertama kali di www.terapishalatbahagia.net

Prof. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag Guru Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya; Pengarang Buku Best Seller Terapi Shalat Bahagia, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, dll.