Perempuan dalam Lingkar Ekstremisme: Kisah Deportan ISIS

2 min read

Pada pertengahan bulan Oktober lalu saya terpilih sebagai salah satu peserta Duta Damai Jakarta yang mana kegiatan ini dibawah naungan dan tanggung jawab langsung BNPT-RI. Melalui beberapa seleksi ketat, akhirnya saya dan beberapa teman dari wilayah Jakarta mengikuti kegiatan tersebut selama empat hari tiga malam di sebuah hotel yang ada di pusat Jakarta. Yang menarik adalah salah satu pemateri saat itu berkenaan dengan kisah nyata deportan ISIS perempuan asal Indonesia. Sebut saja Nada.

Nada adalah seorang siswa SMA biasa yang tidak dominan dalam lingkungan dan sekolahnya. Kesehariannya pun normal, meski demikian, ia tidak mendapat kehangatan yang cukup dari keluarga sebab dari mereka sibuk mengurusi diri masing-masing. Perlahan ia merasa bahwa hidupnya kian tak menentu, merasa kosong, bahkan ia tidak tahu tujuan hidup.

Kemudahan informasi yang dapat kita akses dari internet diakui memang sangat membantu. Namun seiring itu pula, kita tidak dapat menegasikan kerugian besar dari keberadaannya. Kita hidup dimana orang-orang mendadak merasa menjadi para pejuang bangsa dengan gemar menyebar berita tanpa kroscek kebenarannya.

Jika dilihat dari pengguna internet yang kian meningkat, maka tidak mengherankan jika negeri ini menjadi ladang empuk bagi para penyeleweng informasi untuk menyebarluaskan berita palsu atau bahkan paham radikalisme. Nada adalah salah satu contoh nyata muslimah milenial yang terbawa arus globalisasi dengan minimnya pengetahuan dasar tentang agama. Sebab keringnya ilmu ditambah senggangnya waktu, gadget berfungsi dalam pemenuhan hasrat menggebu tentang apa yang ia cari dalam hidup.

Nada mulai berselancar di berbagai sosial media, dan apesnya ia ‘tergelincir’ masuk pada berita dan narasi-narasi yang mengarah ke pemahaman radikalis lagi ekstremis. Ia  mulai kagum dengan para “pejuang jihad” terutama dari kalangan perempuan. Nada mulai tertarik untuk menjadi bagian kelompok itu. Kesehariannya kini dipenuhi dengan mencari dan memfollow akun-akun senada. Ia mulai mengubah cara berpakaian menjadi serba tertutup, lebar, menjuntai tanah. Ia juga banyak diiming-iming balasan nikmat dunia oleh para kelompok tersebut. Bahwa tiket surga kelak akan mereka kantongi jika bergabung dalam barisannya. Akhirnya pada bulan Juni tahun 2016 ia membulatkan tekad untuk ‘hijrah’ sekaligus ‘jihad’.

Baca Juga  Tren Program Tahfidz di Sekolah dan Maklumat Nyanyian Bebas (1)

Dalam perjalanannya itu, beberapa anggota keluarganya yang memang berniat untuk memperbaiki keadaan ekonomi berhasil Nada ajak. Nada, kedua orang tua, paman, bibi dan saudara-saudaranya kemudian berangkat menuju Suriah. Mereka awalnya membayangkan suatu kebahagiaan hakiki apabila sudah berada disana dan bergabung dengan kelompok tersebut.

Sesampainya di sana, mereka ditempatkan seperti layaknya para korban bencana, berdesak-desakan dan tidak bisa dikatakan lebih baik dari keadaan mereka sewaktu di negeri sendiri. Setelah berminggu-minggu, mereka tidak menemukan tanda-tanda bahwa mereka akan diberi harta benda secara cuma-cuma, malah mereka dipaksa untuk latihan militer dan tembak-menembak. Diambang ketidakjelasan itu, akhirnya mereka memutuskan untuk segera kembali pulang ke Indonesia.

Setelah comparing berita dari berbagai sumber dan sisi, juga memaksa diri keluar dari kebiasaan membaca narasi ekstrem, akhirnya hati dan pikiran Nada terbuka serta sadar bahwa selama ini ia salah menjadikan kelompok tersebut sebagai acuan dalam meraih kebahagiaan. Ia dan keluarga kemudian mencari cara untuk bisa segera keluar dari lingkaran setan itu. Dengan kuasa dan izin Allah, akhirnya Nada dan keluarga kembali ke tanah air pada awal 2017.

Tentu pengalaman beberapa bulan di Suriah, dalam naungan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) membuat pikiran Nada berubah dan lebih dewasa.

Dari cerita di atas kita bisa mengambil hikmah bahwa sebagai manusia yang dibekali akal oleh Sang Pencipta, kita harus cerdas memilih teman bergaul, memilih memilah sosial media sebagai bahan bacaan, mempererat jalinan hangat dalam keluarga, terbuka dalam komunikasi, dan tidak mudah menelan mentah-mentah berita atau narasi yang bertebaran di jagad maya.

Korban maupun pelaku radikalisme dan ekstremisme bisa menimpa siapa saja, laki-laki maupun perempuan. Maka pondasi akidah agama adalah hal yang sangat penting selain nalar kritis dalam menilai bacaan. Dan selagi ada niatan untuk kembali kepada yang benar, maka Tuhan akan menunjukkan jalan. (mmsm)