Membaca Surah Az-Zumar Ayat 67 melalui Kacamata Tafsir Al-Qurṭubī

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kali merasa seolah mampu mengendalikan banyak hal, teknologi, ekonomi, hingga keputusan-keputusan besar yang memengaruhi dunia. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa di balik segala bentuk kekuasaan yang dimiliki manusia, terdapat kekuasaan hakiki yang sama sekali tidak dapat disaingi: kekuasaan Allah SWT. Salah satu ayat yang menggambarkan kebesaran tersebut secara sangat kuat adalah Surah Az-Zumar ayat 67:

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗسُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya. Padahal, bumi seluruhnya (ada dalam) genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Ayat ini menegaskan bahwa manusia belum benar-benar mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal seluruh bumi berada dalam genggaman-Nya dan langit digulung dengan kekuasaan-Nya. Melalui tafsir Al-Jāmi’ li Aḥkām al-Qur’ān, Al-Qurṭubī memberikan penjelasan mengenai ayat tersebut. Ia menunjukkan bagaimana ayat ini menghadirkan gambaran teologis yang kuat tentang kemahakuasaan Allah. Baginya, ayat ini bukan sekadar retorika spiritual, tetapi pernyataan filosofis dan teologis bahwa seluruh eksistensi berada di bawah kendali mutlak Tuhan.

Menurut Al-Qurṭubī, frasa ‘’bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya” tidak perlu dipahami secara fisik, karena Allah Maha Suci dari sifat-sifat jasmani. Istilah ‘’genggaman” digunakan untuk menegaskan kontrol total Allah atas seluruh makhluk. Dalam bahasa Arab, kata ‘’al-qabḍu” memang sering dipakai sebagai metafora untuk kekuasaan, kepemilikan, dan dominasi mutlak.

Dengan demikian, ayat ini tidak sedang menggambarkan tindakan fisik Tuhan, melainkan mempertegas bagaimana seluruh realitas berada di bawah otoritas-Nya tanpa pengecualian. Bagi Al-Qurṭubī, ungkapan metaforis semacam ini menjadi jembatan untuk memahami konsep ketuhanan tanpa menyamakan Allah dengan makhluk.

Penafsiran Al-Qurṭubī semakin diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah SAW menggambarkan pada hari kiamat Allah ‘’menggenggam bumi dan melipat langit’’, lalu berfirman: ‘’Akulah Raja, di mana raja-raja bumi itu?” bagi Al-Qurṭubī, hadits ini bukan penjelasan fisik, melainkan deklarasi tentang runtuhnya seluruh klaim kekuasaan manusia pada hari penghakiman. Saat segala struktur dunia runtuh, hanya kekuasaan Allah yang tetap tegak tanpa tergoyahkan.

Selain itu, Al-Qurṭubī menekankan bahwa ayat ini juga memuat kritik moral terhadap manusia. Ketika Allah menyatakan bahwa mereka “tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang semestinya”, itu berarti manusia sering lupa bahwa apa pun yang mereka miliki baik kekuatan, kekayaan, atau jabatan sama sekali tidak sebanding dengan kekuasaan Allah.

Semua bentuk prestise duniawi hanyalah pinjaman yang sewaktu-waktu dapat dicabut. Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia terlalu sering membesar-besarkan kemampuan diri, padahal seluruh alam semesta hanyalah ciptaan kecil dan ada di bawah kehendak Tuhan. Makna lain yang dibahas oleh Al-Qurṭubī adalah bahwa ayat ini datang sebagai teguran bagi kaum musyrik yang meremehkan kebesaran Allah sambil menyembah berhala yang tidak memiliki kekuatan apa pun.

Penjelasan Al-Qurṭubī semakin menarik ketika ia mengutip syair-syair Arab klasik yang menggunakan istilah “tangan kanan” sebagai simbol kekuatan dan keberhasilan. Dengan ini, Al-Qurṭubī ingin menunjukkan bahwa penggunaan ungkapan metaforis dalam ayat bukanlah hal asing dalam tradisi Arab. Artinya, pemahaman terhadap teks Al-Qur’an harus mempertimbangkan konteks budaya bahasa agar tidak terjebak dalam penafsiran literal yang menyesatkan.

Jika membaca ayat ini melalui kacamata kehidupan modern seperti saat ini, pesan Al-Qurṭubī menjadi semakin relevan. Manusia hidup di tengah era teknologi canggih, mampu menciptakan kecerdasan buatan, mengeksplorasi planet lain, bahkan mengubah genetik makhluk hidup. Namun, semua kemampuan tersebut tidak menghapus keterbatasan manusia sebagai makhluk. Ayat ini seakan mengingatkan: betapapun hebatnya pencapaian manusia, semua itu tetap berada dalam ruang lingkup kekuasaan Allah yang tidak terjangkau oleh akal, apalagi kemampuan manusia.

Lebih jauh lagi, menurut Al-Qurṭubī, ayat ini mengajarkan keseimbangan antara rasa takut dan harap. Di satu sisi, manusia diajak menyadari betapa kecil dirinya di hadapan Allah. Namun di sisi lain, ayat ini menegaskan bahwa Allah-lah pemilik kendali tertinggi yang dapat memberikan pertolongan kapan pun dan dalam bentuk apa pun. Kesadaran ini menghadirkan ketenangan spiritual bahwa tidak ada kekuatan lain yang mampu menghalangi kehendak Tuhan untuk memberi rahmat-Nya.

Pada akhirnya, Surah Az-Zumar ayat 67 dengan penafsiran Al-Qurṭubī menjadi pengingat mendalam bahwa hakikat kekuasaan sejati hanya milik Allah SWT. Segala sesuatu di dunia hanyalah manifestasi kecil dari kehendak-Nya yang tak terhingga. Dengan menyadari ini, manusia diharapkan mampu bersikap rendah hati, adil, dan penuh keikhlasan dalam menjalani kehidupan, sekaligus selalu mengembalikan segala urusan kepada Tuhan yang memegang seluruh alam semesta dalam ‘’genggaman”-Nya.

4
Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.