Ayus Mahrus el-Mawa Filolog; Pengurus MANASSA (Masyarakat Pernaskahan Nusantara); Kasi Penelitian dan Pengelolaan HAKI, Subdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kemenag RI.

Kecendekiawanan, Benarkah Arahnya Berubah?

3 min read

Nostalgia bukan hanya milik para pecinta, apalagi pujangga. Nostalgia akan kebesaran seseorang tentang dedikasinya pada ilmu pengetahuan juga termasuk di dalamnya. Mengapa? Sebab, situasi dan kondisi sosial keilmuan saat ini, konon hampir sama dengan kehadiran gagasan dan tokoh-tokoh pemikir pada era Cak Nur (Nurcholish Madjid) dan Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Masih ada sebagian orang yang merindukan masa-masa intim intelektualitas seperti itu. Ada kesan, bahwa masa-masa saat ini, ketiadaan publik intelektual, terasa kering kerontang, dalam bahasa lain, ketiadaan kecendekiawanan benarkah begitu?

Dalam hemat penulis, terdapat beberapa kemungkinan mengapa perasaan semacam itu tiba-tiba ngangenin sebagian orang. Kalau kita lihat sejarah intelektual di dunia muslim, kita dapat melihat hal itu seperti pada saat tidak munculnya kembali perdebatan antara para filsuf Muslim awal dengan para ilmuwan yang muncul kemudian.

Sebut saja Ibnu Sina, al-Ghazali, lalu muncul lagi Ibnu Rusyd. Perdebatan itu misalnya seperti dalam karya Tahāfut al-Falāsifah (al-Ghazali) dan Tahāfut al-Tahāfut (Ibnu Rusyd). Pertanyaan berikutnya, apakah selain kedua tokoh pemikir besar tersebut, tidak ada tokoh dan gagasan-gagasan brilian dalam dunia intelektual muslim dalam rentang waktu tersebut atau setelahnya? Tentu saja, jawabanya sangat mudah, sungguh banyak para pemikir, cendekiawan, ataupun intelektual pada masa-masa itu. Lagi-lagi, tidak banyak yang kenal perdebatannya selain kedua tokoh masyhur tersebut untuk materi filsafat.

Dalam konteks Indonesia, pasca-kedua tokoh popular yang pernah menawarkan gagasan yang kontroversial, “pribumisasi” ala Gus Dur dan “Islam Yes, Politik No” ala Cak Nur, misalnya, memang perdebatan lebih diwarnai hal-hal di luar pemikiran yang menyegarkan semacam itu. Bahkan, untuk pemikiran pada era itu banyak sekali buku-buku atau diskusi-diskusi yang membahas beberapa gagasan dari kedua tokoh itu.

Baca Juga  Salat Tarawih Super Cepat dan Beragam Pendapat Tentangnya

Maklum saja, kedua tokoh tersebut, memang selain brilian, juga mempunyai komunitas sendiri-sendiri. Keduanya juga dianggap mempunyai latar keilmuan keislaman Indonesia yang sama, hanya berbeda pada implementasi gerakannya. Bahkan untuk mengenang kedua tokoh tersebut, lahirlah beberapa wadah atau lembaga untuk tetap menjaga dan melakukan kontekstualisasi gagasannya.

Nurcholish Madjid Society, misalnya, atau GusDurian. Untuk kelembagaannya, kedua tokoh tersebut juga punya lagi acara-acara rutin setiap tahu. Kalau untuk Gus Dur, ada haul dan hal serupa untuk Cak Nur. Selain kedua tokoh tersebut, sebenarnya juga ada, sebut saja Maarif Institute untuk Buya A. Syafii Maarif. Hal serupa dengan para tokoh pemikir dan aktivis yang menopang keduanya, bahkan sebagian juga masih hidup. Akan Tetapi, mengapa kesannya seperti tidak ada “kecendekiawanan”, pasca-kedua tokoh tersebut?

Zaman memang telah berubah. Karena itu, ukuran kecendekiawanan pun, sepertinya berubah. Dalam lima tahun terakhir ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perubahan tersebut. Media-media online dan offline, seperti website pemikiran Islam sudah banyak, Open Journal System juga sudah marak di kampus-kampus. Media offline, seperti koran kompas atau semacamnya, masih terbit, tetapi lagi-lagi, bagi generasi intelektual saat ini, hal itu bukan ukuran utama sebuah gagasan seorang cendekiawan.

Dahulu penerbit buku saja dianggap menjadi ukuran-ukuran intelektualitas seseorang, sebutlah Mizan, Kompas atau LKiS yang belakangan. Saat ini, nama penerbit sudah tidak menentukan sebuah karya, tetapi lebih ditonjolkan pada sosok penulis yang popular, sekalipun sebagian masih menganggap penting nama penerbit.

Gagasan diskusi online, “Kecendekiawanan Dalam Jurnal Bereputasi” oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (PTKI) Kementerian Agama RI, sepertinya ingin melihat arah perubahan pemikiran dan kecenderungannya. Melihat kelima narasumber dari jurnal-jurnal bereputasi internasional, yaitu Journal of Indonesian Islam (JIIs) dari UIN Surabaya, Qudus International Journal of Islamic Studies (QIJIS) IAIN Kudus, Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) IAIN Salatiga, Studia Islamika UIN Jakarta, dan Al-Jami’ah UIN Yogyakarta, nampaknya ingin menangkap bahwa kecendekiawanan saat ini, salah satunya diukur dari karya yang dimuat jurnal bereputasi dan mendapatkan rekognisi internasional. Ukurannya, sebuah karya tulis, bukan penulis atau orangnya.

Baca Juga: Quo Vadis Jurnal Islamic Studies di Indonesia

Kecenderungan arah perubahan kecendekiawanan yang balik ke kampus melalui media jurnal ilmiah tersebut, sepertinya mendekati kecendekiawanan di dunia muslim pada umumnya ataupun dunia Barat. Sebutlah Universitas Al-Azhar di Kairo. Seorang Grand Syeikh al-Azhar sudah dapat dipastikan adalah seorang ulama, cendekiawan yang mempunyai banyak karya, sekalipun untuk karya di jurnal ilmiah, sepertinya masih belum popular, seperti di dunia Barat. Sementara di Barat, selain karya yang dimuat di jurnal ilmiah, tetapi karya-karya dalam bentuk buku.

Baca Juga  Syeikh Ali Jum‘ah Disebut sebagai “Ali Begal”: Potret Gabas Portal Islam di Indonesia

Menariknya diskusi online oleh Subdit Penelitian Direktorat PTKI, hemat penulis, karena akan melihat arah perubahan kecendekiawanan tersebut. Dapat dibayangkan, jurnal dari IAIN Kudus dan IAIN Salatiga, misalnya, selain masih dalam bentuk institut, juga nyaris tidak dikenal para tokoh atau pemikiran keislamannya. Akan tetapi, gagasan-gagasan dalam jurnal tersebut telah diakui oleh komunitas internasional. Berbeda dengan ketiga jurnal lainnya, seperti dari UIN Yogyakarta , UINS Jakarta, dan UIN Surabaya.

Ketiga UIN ini, para tokoh dan pemikirannya relatif dikenal publik. Sebutlah dari UIN Jakarta ada M. Quraish Shihab bidang Tafsir, Azyumardi Azra bidang Sejarah Islam, Nabilah Lubis bidang Sejarah dan Filologi, Oman Fathurahman bidang Fiologi, sebelumnya ada Harun Nasution, dst. lalu dari UIN Yogyakarta dapat disebut M. Amin Abdullah bidang kajian Islam, Noorhaidi Hasan bidang Islam Kontemporer, sebelumnya ada Hasbi Ash-Shiddiqi, Mukti Ali, dst.

Oleh karena itu, wajar saja bila ada keinginan nostalgia akan kecendekiawanan hari ini di tengah era disrupsi, yang serba berbeda dan berubah dari tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, mencari ilmu pengetahuan sudah terbentang di belantara online. Dalam satu jam saja, kita dapat berselancar menemukan ratusan karya ilmiah yang menarik baik dari buku ataupun jurnal, tentu saja baik berbayar ataupun gratis secara online.

Akhirnya, mari kita sambut para cendekiwan baru tanpa dikenal secara personal. Selamat datang para cendekiawan dari jurnal bereputasi. Pemikiran kalian jauh akan lebih dikenal publik dibandingkan nama penulis atau pengarangnya, sekalipun pasti seorang pengaran pun akan dikenal publik, hanya saja tidak akan setenar dan popular Gus Dur dan Cak Nur yang telah mendahuluinya. [MZ]

Ayus Mahrus el-Mawa
Ayus Mahrus el-Mawa Filolog; Pengurus MANASSA (Masyarakat Pernaskahan Nusantara); Kasi Penelitian dan Pengelolaan HAKI, Subdit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kemenag RI.