Keistimewaan Peran Anak Muda Dalam Al-Qur’an

2 min read

Kondisi era zaman modern ini menjadi penyebab terjadinya perubahan pada masyarakat yang cenderung berdampak negatif terhadap kehidupan. Tetapi dengan adanya Alquran yang diturunkan Allah Swt. menjadi pedoman bagi kehidupan manusia, serta memberikan edukasi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Keberadaan Alquran yang tidak akan pernah terbatas oleh ruang dan waktu, Ia dapat memberikan pengetahuan penting terhadap pendidikan, termasuk konteks penerapan pendidikan Islam. Selain itu, bisa memberikan solusi dan kontribusi untuk nilai pendidikan Islam.

Sebagai kitab pedoman, Alquran tidak hanya berisi tentang ajaran yang berkaitan dengan keyakinan atau akidah, melainkan juga tentang kisah. Bahwa kisah dalam Alquran telah disepakati para ulama karena memang benar adanya. Tokohnya pun benar-benar hidup serta peristiwanya benar terjadi. Oleh sebab itu, kita sebagai pemuda yang menjadi teladan dituntut untuk menyampaikan perincian dari kisah tersebut dengan melakukan sebuah research bahkan penelitian dari sumber yang diyakini dan faktualisasi, yaitu Alquran, hadist yang shahih. Hal tersebut dapat mengontruksi serta menjadi teladan untuk para generasi muda masa kini.

Kisah merupakan riwayat, kejadian, peristiwa, cerita. Konteks kisah disini adalah kisah yang terdapat di dalam Alquran. Kisah Alquran yaitu pemberitaan tentang hal ihwal umat dan nubuat (kenabian) telah terdahulu dan peristiwa yang telah terjadi. Kisah tersebut menjadi suatu tanda bukti kebenaran ajaran dan kemukjizatan Alquran sebagai teladan, peringatan. Sebagai wahyu Allah kisah dalam Alquran memiliki keistimewaan yang luhur, yaitu untuk menyampaikan pesan dengan membimbing, mengajarkan, mengingatkan manusia untuk serta mengikuti hukum-hukum Allah sesuai petunjuk Alquran.

Kisah memiliki peran sebagai edukatif yang sangat bernilai dalam proses implementasi ajaran Islam. Oleh karena itu, Kisah menjadi acuan orang Islam sebagai salah satu metode pembelajaran. Salah satu keunikan kisah dalam Alquran adalah memperhatikan aspek kebenaran, faktualitas serta memanifestasikan tujuan dari pemaparan kisah tersebut. Sehingga dapat mewujudkan target tujuan religius dan edukatif, yang mana kisah menjadi upaya pengaruh besar terhadap jiwa manusia.

Baca Juga  Sarung Sang Guru (4)

Membicarakan Alquran tentang kisah yang dimaksud adalah menyampaikan manfaat serta hikmah yang dapat diambil dari nilai-nilai pemdidikan guna bagi kehidupan. Berdasarkan hal tersebut, Rasulullah saw ketika turunnya surah Al-Kahfi mendapatkan petunjuk serta penyejuk qalbu (hati) bagi sahabatnya untuk tetap teguh, beriman dan tabah dalam menghadapi tantangan kaum quraisy serta hal-hal yang menjadi fitnah.

Bahwa sejarah manusia akan terulang kembali meskipun berbeda ruang dan waktu, namun substansi tetap sama. Oleh karena itu, pentingnya untuk memahami dan menyadari dari substansi ini, Allah meletakkan kisah ini (Ashabul Kahfi) tidak menyebutkan nama pelakunya, dimana dan waktu secara pasti. Akan tetapi jelas tujuannya agar manusia dapat mengambil pelajaran dan menjalani kehidupan sesuai hidayah yang diberikan. Sebenarnya tujuan ini telah dilatarbelakangi seorang mufassirin dalam menyikapi kisah ini seperti Ibnu Kasir atau mufassir lainnya.

Ashabul kahfi merupakan tujuh pemuda yang beriman serta mendapatkan petunjuk. Ia hidup ditengah masyarakat kafir yang menyembah berhala dengan seorang raja romawi, yaitu Digyanus yang begitu kejam. Raja memerintah rakyatnya untuk menyembah selain Allah, jika rakyat mengingkari ia akan dibunuh dan disiksa. Bahkan para pemuda ini pun diancam raja ketika mengetahui keimanan mereka. Para pemuda itu pun mengasingkan diri dalam gua, mereka berdoa kepada Allah agar mencurahkan rahmat-Nya, lalu Allah mengabulkan permohonan dan demi menyelamatkan akidah serta meninggalkan negerinya, Allah tidurkan mereka selama 309 tahun. Sebagaimana dalam surah Al-Kahfi ayat 16, yaitu :

وَإِذِ ٱعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ فَأْوُۥٓا۟ إِلَى ٱلْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِۦ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Alah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu”

Ketika seorang pemuda telah menjaga akidah dengan ikhtiyarnya (doa dan usaha), lalu Allah meneguhkan hatinya dalam kebenaran, sebagaimana telah difirmankan pada surah Al-Kahfi ayat 14 yaitu:

Baca Juga  Haji sebagai Sarana Menggapai Puncak Kesadaran

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا۟ فَقَالُوا۟ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَا۟ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهًا ۖ لَّقَدْ قُلْنَآ إِذًا شَطَطًا

“Dan kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri, lalu mereka berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak menyeru Tuhan selain Dia. Sungguh, kalau kami berbuat demikian tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran”

Ashabul Kahfi menjadi cerminan bagi manusia dalam menjalani kehidupan di zaman ini. Kisah dari beberapa pemuda Ashabul kahfi menjadi pelajaran berharga, karena pemuda memiliki jiwa pendirian teguh terhadap iman, semangat yang menggebu serta menjadi masa puncak menerima dan memberi. Ketaatan mereka kepada Tuhannya merupakan fase penting dalam kehidupan manusia yaitu fase pemuda, ini merupakan fase penawaran dan pengorbanan, fase kekuatan dan antusiasme, dan Islam pun telah fokus mempersiapkan pemuda dalam ajang mengarahkan dan melindungi mereka. Karena mereka adalah tiang, pondasi kehidupan, penegak, obor kebudayaan, lokomotif kemajuan dan kebebasan serta pendorong kemuliaan.

Berdasarkan kisah Ashabul kahfi dalam kehidupan sekarang begitu banyak seperti halnya dalam mempertahankan akidah dan potensi kehidupan, kekuatan iman, rahmat dan anugerah yang diperoleh dari Allah SWT. Hal ini menjadi sebuah tantangan yang besar untuk dapat menegakkan pondasi keimanan dengan segala upaya diusahakan untuk mengatasi kesenjangan antar generasi. Karena generasi muda saat ini, sepatutnya menjadi generasi penerus dengan keimanan yang kokoh.

Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa ketika seorang hamba yang tergolong masih muda pada usianya dapat menjaga akidah serta memanfaatkan masa muda untuk taat kepada Allah Swt. Dengan demikian, dalam menjaga akidah pun tidak terpaku pada usia, bahkan sudah dijelaskan oleh Ismail Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa mereka adalah golongan pemuda yang lebih siap dalam menerima kebenaran dan petunjuk daripada para terdahulu yang sombong dan tenggelam dalam kebathilan.