Anggie Pravita Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Musa dan Khidir: Kisah yang Membuat Nabi Musa Menyadari Keterbatasan Ilmunya

2 min read

sumber: walisongo.co

Dikisahkan pada masa lampau terdapat seorang nabi bernama Musa dan pengikutnya bernama Bani Israil. Mereka, yakni Bani Israil, adalah kaum yang istimewa karena mereka satu satunya kaum yang pernah memakan hidangan surga. Ada suatu riwayat hadis dari Bukhari dan Muslim yang mengisahkan bahwa suatu hari Musa berkhotbah di depan Bani Israil. Kemudian, ada sseeorang di antara mereka yang bertanya, “siapa kah orang yang paling berilmu?” Lantas Musa menjawab, “Akulah orang yang paling berilmu.”

Jawaban tersebut tentunya terkesan angkuh dan tidak menyadanrkan pengetahuannya kepada Allah. Kemudian Allah menegurnya agar ia berguru pada seorang laki laki yang berada di tempat bertemunya dua lautan yang tertuang dalam QS. al-Kahfi [18]: 65-78.

Mereka memulai perjalanan mereka, dan dalam prosesnya, Nabi Khidir segera memberikan pelajaran kepada Nabi Musa melalui tiga peristiwa.

Pertama, ketika mereka berada di atas kapal, Nabi Musa terkejut melihat Khidir melubangi kapal dengan melepas salah satu papan kapal.

Musa menganggap bahwa tindakan itu merusak dan merupakan tindakan jahat. Terlebih lagi, tindakan tersebut ditujukan kepada seseorang yang telah berbuat baik dengan mengangkut mereka tanpa meminta imbalan.

Nabi Musa yang lupa lantas bertanya, “Mengapa engkau melubangi perahu yang akibatnya akan menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya engkau telah berbuat satu kesalahan besar” (QS. al-Kahfi [18]: 71).

Khidir lantas mengingatkan Nabi Musa akan janjinya, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’”

Kemudian keduanya kembali melakukan perjalanan dan bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang bermain. Khidir lantas menghampiri dan membunuhnya.

Melihat kejadian tersebut, Musa menjadi tak sabar dan kembali mengingkari janjinya. Musa bertanya, “Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar” (QS. al-Kahfi [18]: 74).

Baca Juga  Dakwah Islam adalah Akhlak, Bukan Teriak

Khidir menjawab hal yang sama kepada Musa, “Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak akan mampu sabar bersamaku’” (QS. al-Kahfi [18]: 75).

Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan dan sampai ke sebuah desa yang dihuni oleh penduduk yang sangat pelit. Tidak ada seorang pun yang bersedia menerima mereka dengan baik. Akan tetapi, Khidir, yang tak terduga, justru memperbaiki sebuah dinding rumah yang hampir runtuh.

Semua peristiwa yang disaksikan oleh Nabi Musa membuatnya bingung dan memunculkan pertanyaan dalam pikirannya. Inilah yang membuat Musa akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan Khidir.

Sebelum berpisah, Nabi Khidir memberikan penjelasan atas tindakannya dan mengatakan, “Ini adalah saat kita berpisah; aku akan menjelaskan alasannya kepadamu, tindakan yang kamu tidak mampu bersabar terhadapnya” (QS. al-Kahfi [18]: 78).

Yang dilakukan oleh Khidir menurut kisah dari ayat di atas dapat ditarik beberapa makna. Alasan Khidir melubangi perahu yang di mana sesungguhnya itu adalah milik orang miskin yang hendak diambil oleh raja yang kejam bernama Hadad bin Badad adalah karena jika dibiarkan seperti sebelumnya maka ketika dirampas sang miskin akan kehilangan mata pencahariannya.

Dalam hal ini penulis mengklasifikasikannya sebagai kinerja akal atau logika yang membutuhkan pengamatan atau penelitian terhadap suatu keadaan sehingga masih berada pada ranah syariat.

Kisah yang kedua adalah saat Khidir membunuh anak kecil ketika sedang asyik bermain di pinggir pantai. Pada kenyataannya anak yang dibunuh Khidir kelak akan menjadi kafir dan berpotensi menyeret orang tuanya kepada kekafiran. Pada kisah yang kedua dapat diklasifikasikan sebagai bentuk kinerja akal dan kepekaan hati yang membutuhkan pemikiran, intuisi yang tajam, dan kebersihan hati untuk siap menerima petunjuk Tuhan sehingga maqam ini termasuk kategori hakikat.

Baca Juga  Kisah Nabi Yusuf dan Roda Kehidupan yang Selalu Berputar

Kisah yang ketiga yakni ketika Khidir membangun tembok rumah yang hampir roboh di negeri yang pelit. Rahasia batin ini pun tidak diketahui oleh Musa. Tembok yang hampir roboh itu milik anak yatim yang di bawahnya tersimpan harta benda yang apabila terlihat maka dikhawatirkan akan dijarah orang lain.

Pada kisah yang ketiga penulis mengklasifikasikannya sebagai bentuk aplikatif dari kesinambungan maqam syariat dan hakikat yang utuh menjadi maqam ma’rifatullah atau dalam bahasa lain isān yang berarti kita berperilaku hidup hanya untuk beribadah kepada Allah. Yakni, berperilaku baik kepada seluruh yang ada di alam semesta milik Allah dengan seakan-akan kita melihat-Nya dan jikalau tidak mampu maka niscaya Allah melihat kita.

Hal tersebut tentu sejalan dengan suri tauladan Rasulullah sebagai rahmat bagi alam semesta dan metode bagaimana kita bisa berjumpa dengan Allah kelak dengan cara beramal saleh.

Kala itu sesungguhnya pengetahuan Musa hanya berpaku pada ilmu syariat yang fokusnya hanya pada bentuk lahiriah (fikih), sedangkan Khidir telah sampai pada maqam hakikat atau ilmu ladunni sehingga ia dapat mengetahui rahasia Tuhan (Helfi dan Abdurrahman, 2019: 208-224). Perlu diingat bahwa maqam hakikat hanya bisa diraih saat seseorang telah melalui maqamat syariat. [AR]

Anggie Pravita Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya