Sudarto Murtaufiq Dosen Universitas Islam Lamongan

Apakah Berilmu Menjamin Dekat dengan Allah?

1 min read

Sebaik-baiknya orang baik adalah orang yang tidak merasa dirinya baik dan seburuk-buruknya seseorang adalah mereka yang merasa dirinya sudah baik. Seseorang pernah bertanya apakah ia bisa dekat dengan Allah padahal secara keilmuan (agama) ia sangat miskin? Maka, saya dengan tegas menjawab tentu saja! Bahkan Allah sendiri menjawab, ”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui isi hatinya dan Kami lebih dekat daripada urat lehernya,” (Q.S. Qāf: [50]: 16).

Jadi Allah itu sebenarnya sudah dekat dan yang perlu kita lakukan adalah “merasakan” dan menyadari kedekatan-Nya.  Untuk itu, hati seorang hamba haruslah bersih. Hati yang bersih ibarat kaca atau mata air yang bening sehingga memungkinkan cahaya itu bisa “menembus” relung hati hingga yang terdalam.

Percuma bila berilmu tapi hatinya tidak bersih hanya akan menjerumuskan seseorang ke dalam lembah kesombongan sebagaimana halnya iblis dahulu yang terkutuk karena kesombongannya sendiri menentang perintah Allah SWT. Jadi kalau Anda merasa tak pantas berdekatan dengan Allah karena miskin secara keilmuan, maka ketahuilah sesungguhnya Anda sudah selangkah lebih dekat dengan Allah dan ini jauh lebih baik daripada seseorang yang merasa hebat ilmu agamanya sehingga memandang rendah orang lain. Maka, orang tersebut bukan malah semakin dekat, namun semakin jauh dari Allah SWT.

Begitulah tandanya orang-orang yang baik yang dekat dengan Allah, mereka selalu merasa dirinya belum cukup baik dan karenanya terdorong untuk terus-menerus memperbaiki dirinya dengan meningkatkan keilmuan, ibadah, dan amal salehnya. Yang demikian ini tentu akan berbeda dengan mereka yang berilmu, namun merasa sudah pintar sehingga malas untuk belajar lagi dan menerima pendapat dari orang lain yang dianggapnya lebih “rendah” padahal apa yang dikatakannya adalah kebenaran.

Baca Juga  Dhikr al-Mawt [3]: Mengingat Kematian

Terlebih di bulan suci Ramadan ini, momen paling indah untuk mensucikan hati, merasakan kedekatan Allah adalah di kesunyian malam. Dalam shalat malam seperti inilah, maka seorang hamba benar-benar punya kesempatan untuk berdialog, menumpahkan seluruh curahan hatinya dengan Allah. Dalam sujud kita berdoa, betapa diri ini teramat lemah, kurang bersyukur atas berbagai nikmat-Nya, dan berharap untuk bisa dekat dengan-Nya, satu-satunya Dzat yang kita butuhkan untuk hidup di dunia ini dan sebaik-baiknya tempat bergantung dan berharap. [MZ]

Sudarto Murtaufiq Dosen Universitas Islam Lamongan

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *