Achmad Ridhodzillah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Filsafat Jawa: Jalan Kesempurnaan Hidup  

2 min read

Masyarakat Jawa merupakan bangsa Austronesia yang leluhurnya diperkirakan berasal dari Taiwan dan bermigrasi melalui Filipina untuk mencapai Pulau Jawa antara tahun 1500 SM hingga 1000 SM. Namun, menurut studi genetik yang terbaru, masyarakat Jawa bersama dengan masyarakat Sunda dan Bali memiliki rasio penanda genetik yang hampir sama antara genetik bangsa Austronesia dan Austroasiatik.

Ada juga yang mengatakan bahwa masyarakat Jawa merupakan keturunan Pithecanthropus erectus dan Homo sapiens. Pithecanthropus erectus, juga dikenal sebagai “Manusia Jawa”, adalah sejenis Homo erectus yang pertama kali ditemukan di Pulau Jawa, Indonesia. Namun, nama Pithecanthropus erectus berasal dari akar bahasa Yunani dan latin yang berarti manusia kera yang tegak.

Sebuah masyarakat selalu memiliki filsafatnya sendiri. Filsafat Jawa merupakan ilmu yang mempelajari tentang filsafat yang bertumpu pada pemikiran-pemikiran yang berakar pada budaya Jawa. Filsafat Jawa juga salah satu aspek terpenting dari kejawen.

Filsafat jawa menekankan pada aspek keseimbangan atau keharmonisan dalam kehidupan. Ia juga menekankan pentingnya gotong royong dan kerja sama. Konsep paling populer dalam filsafat jawa adalah manunggaling kawula lan gusti yang berarti menyatunya hamba dengan tuhan, yang dianggap kesempurnaan hidup.

Kemunculan ilsafat Jawa juga tidak dapat dilepaskan dari adanya pengaruh ajaran Hinduisme dan Buddhisme. Oleh karenanya, filsafat Jawa tidak dapat dipisahkan dari filsafat India. Filsafat Jawa tumbuh seiring dengan kemunculan aksara Jawa atau juga dikenal hanacaraka. Kemunculan hanacaraka membuat kesusastrawan Jawa juga semakin berkembang.

Dalam rumusan Romo Zoetmulder, kesatuan kosmos dan saling berhubungan semua di dalamnya merupakan poin filsafat Jawa. Dalam filsafat Jawa, dinyatakan bahwa manusia itu selalu berada dalam hubungan dengan lingkungannya, yaitu Tuhan dan alam serta menyadari kesatuannya. Maka, dalam perspektif filsafat Jawa, manusia adalah manusia-dalam-hubungan, sehingga demikian dalam mempergunakan kodrat kemampuannya selalu diusahakan kesatuan cipta-rasa-karsa.

Baca Juga  Kontra Narasi Khilafah HTI = Menodai Agama? Sungguh Argumen yang Pongah

Hubungan Tuhan, manusia, dan alam digambarkan oleh Ciptoprawiro bahwa Tuhan tidak dibayangkan seperti apa pun (dat kang tan kena kinayangapa), dekat tiada bersentuhan (cedhak tanpa singgolan), jauh tidak ada perbatasan (adoh tanpa wangenan). Tuhan disebut dengan bermacam-macam nama yang umumnya menggambarkan sifatnya, seperti Sang Hyang Taya, Wenang, Tunggal.

Sementara, pandangan filsafat Jawa perihal manusia juga cukup menarik. Manusia terdiri dari unsur-unsur yang menjadi sarana kembali: jasmani dan rohani. Jasmaninya kakang adhi ari-ari: air ketuban dan plasenta, lubang sembilan, serta panca indera. Rohaninya sedulur papat kalima pancer (empat saudara dan penuntun sebagai saudara kelima). Nafsu empat: muthmainnah, ammarah, lawwamah, dan supiah. “Aku” dengan kodrat kemampuan cipta rasa karsa. Pribadi atau ingsun suksma sejati sebagai penuntun aku.

Menurut Kusbandriyo dalam tulisannya, filsafat Jawa diartikan sebagai filsafat yang menekankan pentingnya kesempurnaan hidup. Manusia berpikir dan merenungkan dirinya dalam rangka menemukan integritas dirinya dalam kaitannya dengan Tuhan. Hal ini merupakan karasteritik yang dominan dan tidak dapat dilepaskan dengan kencenderungan hidup manusia jawa. Artinya, filsafat Jawa kerap identik dengan suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Ilmu kesempurnaan hidup ditunjukkan oleh Seh Amongraga bahwa pelaksanaan ilmu Tuhan dalam hidup ada empat hal, yaitu syariat, tarekat, makrifat, dan hakikat. Syariat wirid dalam menyebut kalimat lailaha ilallah mengikuti panjang keluarnya nafas. Tidak ada Tuhan kecuali Allah yang menjadikan semuanya. Tarekat wirid adalah lafal ilallah. Ilallah menuruti napas yang keluar masuk, bunyi makna hati, dan percaya kepada Tuhan.

Makrifat wirid ialah lafal hu, hu, hu menurut napas yang keluar dari hidung, dan dalam hati menyebut Tuhan itu abadi. Hakikat wirid adalah lafal Allah, lafal Allah mengikuti keluar masuk napas, bunyi makna hati, dan percaya kepada Allah.

Baca Juga  Memanajemen Pemerataan Kampung Moderasi

Ringkasnya, filsafat Jawa identik dengan jalan hidup untuk mencapai kesempurnaan. Keselarasan spiritual merupakan konsep prinsipiil untuk mencapai keharmonisan dan keseimbangan hidup, baik di secara jasmani maupun rohani. Dengan kata lain, budaya Jawa sangat menekankan pada penghormatan dan hidup selaras dengan alam

Terdapat pula fokus kuat terhadap dimensi batin (spiritual) agar dapat menempa pengalaman spiritual batin dan hubungan pribadi dengan yang ilahi. Lebih jauh, secara sosial, filosofi Jawa sangat menjujung tinggi nilai ketertiban dan keseimbangan dalam masyarakat. Artinya, orang Jawa sangat menghormati para tetua dan leluhur mereka.

Dalam acara seperti pernikahan, kelahiran, dan kematian, semuanya dilakukan dengan upacara yang agak rumit yang menggambarkan unsur budaya dan spiritualitas Jawa. Kebudayaan dan spiritualitas Jawa diekspresikan dengan seni tradisional Jawa yang menggabungkan cerita, musik, dan boneka. Sehingga, wayang kulit menjadi media untuk menyampaikan pelajaran moral dan filosofi. [AR]

Achmad Ridhodzillah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya