Armansyah Alumnus Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Mesir

Jika Ada yang Mudah Kenapa Memilih yang Sulit, Begitu Kata Syekh Yusuf al-Qaradhawi

2 min read

Foto: www.aljazeera.net
Foto: www.aljazeera.net

Dalam suatu kesempatan, Syekh Yusuf al-Qaradhawi pernah bercerita tentang kitab beliau, al-Halāl wa al-Harām fī al-Islām (Halal dan Haram dalam Islam). Cerita beliau cukup menarik dan menggelitik.

Seperti kita ketahui, dalam kitab tersebut Syekh al-Qaradhawi memberikan fatwa halal untuk beberapa perkara kontroversial, seperti seni lukis atau fotografi, permainan catur dan sejenisnya (dengan syarat tidak melalaikan dan tidak ada unsur judi), mendengarkan lagu atau nyanyian, bermain musik (dengan syarat-syarat tertentu), nonton film, mencukur janggut (beliau mengatakan mencukur janggut itu makruh), dan lain sebagainya.

Fatwa dan pandangan beliau di atas mendapat banyak kritik dan “serangan” dari kelompok ekstrem (mutashaddidūn) yang tidak senang beliau “menghalalkan” banyak hal yang menurut mereka “jelas-jelas haram”. Mereka geram dan mencemooh. Kata mereka, “Cocoknya judul buku ini diubah saja menjadi al-Halāl wa al-Halāl fī al-Islām. Toh hampir semua hal dihalalkan sama Syekh ini!”

Menanggapi cemoohan ini, Syekh al-Qaradhawi berkata, “Ya sudahlah, terserah kalian. Toh kalian memang penganut al-Harām wa al-Harām fī al-Islām.”

Beliau melanjutkan, “Orang-orang seperti ini gemarnya menyempitkan (mempersulit) yang halal, sementara saya lebih cenderung menyempitkan yang haram. Jangan mudah mengharamkan sesuatu. Bagi saya, hukum asal segala sesuatu adalah boleh (halal) menurut syariat. Allah tidak membatasi yang halal. Yang dibatasi oleh Allah adalah hal-hal yang haram.”

Selanjutnya, beliau menjabarkan manhaj atau metode yang digunakan dalam mengeluarkan fatwa. “Saya selalu berpegang pada manhaj al-tashdīd fī al-usūl wa al-taysīr fī al-furū’, yakni bersikap tegas dalam hal pokok dan bersikap longgar atau mudah dalam hal cabang. Jika ada dua pendapat yang setara (sama-sama mu’tabar dan punya landasan) di antara para ulama, di mana pendapat pertama cenderung pada prinsip kehati-hatian (ahwat) dan pendapat kedua cenderung memberikan kemudahan (aysar), maka saya akan memilih pendapat yang memudahkan.” Meski demikian, beliau menjelaskan beberapa pengecualian yang berlaku dalam kondisi tertentu.

Baca Juga  Belajar dari Masyarakat Rumpun Bambu

Ada orang yang bertanya kepada beliau, “Syekh, mengapa Anda memiliih manhaj [metode] seperti itu?”

Syekh Yusuf al-Qaradhawi mengatakan, “Sebab Rasulullah saw ketika dihadapkan pada dua pilihan, beliau selalu memilih yang lebih mudah. Jadi, manhaj taysīr ini senantiasa diperlukan, terlebih di zaman sekarang. Tapi, tidak apa-apa, silahkan jika ada yang berbeda pendapat dengan saya.” Pungkasnya.

Dalam khazanah fikih, kita mengenal apa yang disebut dengan shadā’id (hal-hal yang ketat) Ibnu ‘Umar dan rukhas (hal-hal yang longgar) Ibnu ‘Abbas. Sejarah mencatat bahwa Ibnu ‘Umar memang cenderung bermanhaj keras, baik untuk dirinya sediri maupun orang lain. Sampai-sampai, beliau menjauhkan anak-anak dari beliau karena khawatir pakaian beliau terkena air ludah mereka, yang akan menyebabkan kurang afdal digunakan untuk salat. Sementara Ibnu ‘Abbas cenderung meringankan (rukhas) dan menggendong anak-anak itu sambil berkata, “Air liur anak-anak ini bak wangi kemangi.”

Ada banyak contoh lain tentang perbedaan karakter dua sahabat mulia ini.

Syekh al-Qaradhawi mengibaratkan keduanya bagaikan Nabi Musa yang tegas dan Nabi Harun yang lunak. “Saya mencintai kedua sahabat ini. Saya bersimpuh di bawah duli telapak kaki mereka. Namun dalam manhaj fatwa, saya cenderung pada karakteristik Ibnu ‘Abbas,” jelas Syekh al-Qaradhawi seraya menjelaskan bahwa manhaj inilah yang paling dibutuhkan untuk menegakkan Islam di era modern sekarang ini.

Manhaj taysīr bukan berarti membuang teks-teks agama, baik Alquran maupun Sunnah Nabi, bukan pula upaya untuk mengubah yang muhkamāt (hukum yang jelas) mejadi mutashābihāt (hukum yang samar), atau mengotak-atik yang qat’i (pasti) menjadi zhannī (praduga). Bukan. Tapi manhaj ini adalah suatu upaya untuk mencari solusi bagi umat, menelusuri sumber-sumber kemudahan yang memang sudah ada dalam koridor syariat. Dalam konteks ini, tepatlah yang dikatakan oleh Imam Sufyan al-Tsauri, sebagaimana dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr.

Baca Juga  Tuhan, Manusia, dan Alam: Kosmologi dalam Tradisi Spiritual Islam (Bagian 1)

إنما العلم – أو الفقه – عندنا الرخصة من ثقة (عن ثبت)، أما التشدد فيحسنه كل أحد

“Yang disebut ilmu—atau fikih—menurut kami adalah memberi kemudahan dengan dasar yang kredibel. Sementara sikap mempersulit bisa dilakukan oleh siapa saja.” [AS, MZ]

Armansyah Alumnus Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Mesir

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *