

Khutbah Jumat dengan judul “Pelajaran Hidup dari Perjalanan Isra Mi’raj” ini mengajak kita membaca Isra Mikraj dari dimensi sejarah, refleksi diri, dan mengambil pelajaran hidup agar tidak tercerabut dari akar spiritual dan identitas keislaman. Melalui singgahnya Nabi saw. di tempat-tempat bersejarah para nabi terdahulu, Isra Mikraj mengajarkan pentingnya menghargai asal-usul, jejak perjuangan, dan nilai keteladanan dalam membangun keimanan umat Islam di tengah kehidupan modern.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِيمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المـصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَ الوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا المُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الـمُـتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Bulan Rajab sangat erat dengan peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. Perjalanan malam Nabi bersama Jibril mulai dari Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, sampai ke Sidratulmuntaha.
Hadirin salat Jum’at rahimakumullah,
Bagaimana peristiwa agung sekaligus menakjubkan itu bisa kita pahami dari perspektif manusia post-modern? Bagaimanpun akal manusia tidak akan bisa menjangkau peristiwa tersebut dengan logis. Ya, karena itu bagian dari mukjizat Nabi Muhammad saw. Disebut “mukjiat” itu untuk melemahkan akal kita—sebagai manusia.
Oleh karena itu, kita perlu mendekati peristiwa Isra Mikraj melalui pendekatan yang bisa kita pahami, misalnya beberapa tempat pemberhentian Nabi Muhammad saw. selama Isra.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ada beberapa tempat yang dikunjungi oleh Nabi bersama Jibril dalam peristiwa Isra.
Pertama, Nabi berhenti dan disuruh Jibril salat di tanah yang belum ia kenal, kelak menjadi tempat hijrahnya Nabi; Madinah. Tanpa adanya pertanyaan dari Nabi kepada Jibril ini bisa diambil pelajaran, selagi untuk ibadah mengapa harus dipertanyakan. Sehingga Jibril perlu menjelaskan tempat tersebut.
Kedua, Lanjutkan perjalanan sampai di sebuah desa Madyan—salah satu desa di negara Sam, tempat Nabi Musa as. berteduh dan berlindung dari kejaran Fir’aun kala itu. Sama, Nabi salat atas perintah jibril di bawah pohon kurma. Hal ini mengajarkan kita kebolehan untuk bertabaruk dengan asar (bekas peninggalan) sholihin dan rumah-rumah mereka.
Tempat ketiga adalah Gunung Sinai, dalam Al-Qur’an disebut dengan “sinin” dalam surat At-Thin, tempat Nabi Musa as. berbicara dengan Allah (dengan cara yang tidak diketahui). Sekali lagi, nabi sedang diajak jalan-jalan untuk kunjungi tempat-tempat syarat nilai sejarah.
Keempat, Nabi Muhammad saw. disuruh salat oleh Jibril di Betlehem, tempat kelahiran Nabi Isa as., satu-satunya putra saleh Siti Maryam. Hari ini, kita mengenalnya sebagai Baitul Maqdis.—Semoga saudara-saudara kita di Palestina selalu ditolong Allah dari kekejian israel. Amin.
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Apa yang bisa kita pelajari? Mari kita telaah ulang empat tempat yang dikunjungi oleh Nabi dalam peristiwa Isra, empat tempat itu syarat dengan sejarah para nabi terdahulu. Artinya, apa?
Kita perlu melihat Isra-nya nabi melalui dimensi sejarah. Setiap tempat dan masa memiliki sejarah yang tidak boleh kita lupakan saja sebagai manusia post modern.
Hadirin rahimakumullah,
Khotib teringat dengan kalam hikmah,
مَنْ تَرَكَ الاُصُوْلَ حَرُمَ عَليهِ الوُصُولَ
“Barang siapa yang melupakan “asal usul”nya, haram baginya untuk bisa sampai (pada kesuksesan.”
Isra menjadi momentum belajarnya Nabi Muhammad secara tidak langsung melalui tempat-tempat yang dikunjungi bersama Jibril.
Sebagai umatnya Nabi Muhammad saw. kita perlu meneladani dengan hal-hal kecil. Misalnya, kalau kita sering ziarah ke para wali Allah atau para kekasih-Nya, ya setidaknya jangan lupa berziarah ke keluarga sendiri yang sudah mendahului kita.
Dengan itu, setidaknya kita tidak sampai melupakan “asal-muasal” kita sebagai manusia. Tanpa bisa hargai “asal-muasal” kita, rasa-rasanya kita akan jauh dari kesuksesan di kemudian hari.
Tentu, “asal-muasal” bukan hanya tentang sosok keluarga saja. Tempat lahir, guru kita, gurunya orang tua, dan banyak lainnya juga termasuk “asal-muasal”. Kalau pepatah Jawa bilang, “Kacang ojok lali kulite!”
Maasyiral muslimin rahimakumullah,
Melalui Isra, nabi belajar kepada Nabi Musa saat sedang bermunajat di bukit Sinai, nabi juga belajar sebuah perjuangan dari Musa as. melawan Fir’aun hingga bertedu di Madyan, nabi juga belajar tentang perjuangan Siti Maryam dan Nabi Isa saat-saat krusial; proses melahirkan.
Artinya, berziarah ke tempat bersejarah harusnya bukan hanya rekreasi saja, melainkan harus bisa mengambil nilai dan pesan dari tempat tersebut.
Semoga khotbah singkat ini bisa bermanfaat kepada khotib dan jemaah agar selalu tingkatkan ketakwaan di hadapan Allah Swt.
هَدَانِي اللهُ وَاِيَّاكُمْ
أَقُوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khotbah II
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعدُ.
فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.