



اَلْحَمْد للهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ جَزِيْلِ النِّعَمِ بَاعِثِ نَبِيِّهِ محمد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجَوَامِعِ الْكَلَامِ، وَبَدَائِعِ الْحِكَمِ. أَرْسَلَهُ لِلنَّاسِ كَافَّةً بَشِـيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيًا إِلَيْهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، فَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَجَاهَدَ فِيْ رَبِّهِ جِهَادًا كَبِيْرًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، وَعَلَى آلِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ اللهُ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرَ تَطْهِيْرًا، وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ كَانَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ فِيْ الْاِقْتِدَاءِ نُجُمًا نِيْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Jemaah salat Jumat yang disayangi Allah Swt.,
Pernahkah kita merasa kecewa atas hasil dari apa yang kita usahakan? Pernahkah kita merasa khawatir atas keinginan dan harapan yang tidak terwujud? Atau, pernahkah sudah berusaha keras tapi belum berhasil? Jawabannya mungkin pernah, bahkan kita sering mengalaminya. Lantas kira-kira apa yang salah dari diri kita? Mari kira introspeksi diri bersama.
Terkadang kita lupa jati diri sebagai manusia, kendati kita diciptakan dengan akal dan keistimewaannya, tidak kemudian kita bisa mengontrol apapun yang kita inginkan. Selain akal, kita tercipta dengan segudang ketidakmampuan.
Jemaah salat Jumat yang dirahmati oleh Allah SWT.,
Betatapa pun keras usaha dan kuatnya tekad yang kita miliki, soal hasil, kita tetap harus berpasrah (tawakal) diri kepada Allah Swt. Mengapa demikian? Ya, karena kita memang tidak mampu memastikan hasil dari usaha tersebut. Kita harus tawakal, namun sayangnya hal itu acap kali kita lupakan.
Mari kita renungkan penggalan surah Ali Imran ayat 159 Allah berfirman,
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ
“Jika kamu sudah bertekad, maka berpasrahlah diri kepada Allah.”
Dari ayat tersebut, kita belajar bahwa saat kita bertekad atau memiliki keinginan atas sesuatu, sepatutnya kita tidak menanggalkan kepasrahan diri kepada Allah. Kita tetap harus mengusahakan, namun soal hasil tetap harus kira pasrahkan kepadaNya.
Yasir Abdur Rahman dalam kitab mausu’at al-akhlaq wa al-zuhdi wa al-raqaiq mengutip hadis riwayat Umar bin Khattab, bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,
لَوْ أنَّكُمْ تَتَوَكَّلُ عَلَي اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا
“Kalau kalian bersungguh-sungguh berpasrah diri kepada Allah dengan kepasrahan diri yang benar, maka Allah bakal memberi rezeki kepada kalian seperti Allah memberi rezeki pada burung. Burung terbang dengan kondisi lapar di pagi hari dan pulang dengan keadaan kenyang.”
Sabda Nabi Muhammad saw. tersebut mengajak kita untuk belajar dari burung. Saat ia berangkat dengan keadaan lapar, akankah ia pulang dengan keadaan lapar pula? Tentu tidak; sebaliknya, ia pulang dalam keadaan kenyang.
Apakah burung menyimpan makanan untuk hari esok? Tidak, ia berpasrah diri akan rezeki esok hari, ia akan tetap “bekerja” dan berusaha keesokan harinya agar bisa menyambung hidup.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebagai manusia, bekerja dan berusaha merupakan kewajiban, tapi jangan sampai kita melupakan Zat Pemberi rezeki dan Zat Yang Maha Berkehendak. Manusia tidak bisa lenggang dari harapan dan keinginan, setelah satu keinginan tercapai, pasti ada keinginan lainnya dan begitu seterusnya. Tidak salah jika kita memiliki keinginan dan harapan, yang salah saat kita tidak memasrahkan keinginan-harapan kita kepada Allah Swt. Zat Maha Berkuasa.
Lanjutan surah Ali Imran ayat 159,
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Sungguh Allah mencintai hamba-hambanya yang bertawakal.”
Jemaah salat Jumat yang dicintai Allah Swt.,
Imam Sha’rawi menjelaskan dalam Tafsir al-Sha’rawi bahwa tawakal merupakan buah dari iman. Lebih lanjut beliau mengingatkan kita, ibarat kita bercocok tanam di sawah, bibit unggul yang ditanam kemudian kita rawat dengan baik; rutin dikasih pupuk dan dialiri air. Kendati kita sudah maksimal dalam bekerja, jangan sampai kita beranggapan, “Wah, sawahku akan panen raya, karena aku sudah merawatnya dengan baik!”
Usaha itu kewajiban manusia, tetapi hasilnya adalah hak prerogratif Allah, Zat yang Maha Mengatur. Bertawakal adalah upaya kita untuk melibatkan Allah Swt. dalam setiap usaha dan kerja keras kita.
Betapa banyak kekecewaan yang kita rasakan, karena lupa untuk memasrahkan urusan kita kepada Allah Swt. Kita perlu menepi untuk berpasrah diri kepada Allah Swt., agar kita dicintai oleh Allah. Kalau Allah Swt. sudah mencintai kita, apa yang tidak mungkin bagi-Nya!
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Semoga khutbah singkat ini bisa mengantarkan kita semakin mendekat kepada-Nya, semoga pertolongan Allah selalu menyertai kita, semoga kita selalu memasrahkan harapan dan cita-cita kepada Allah Swt.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا اِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.