Nisa Asada Fat Ilma Arof Mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Kunci Kebahagiaan Ada di Sholat

3 min read

Kebahagiaan adalah topik yang sering dijadikan pembicaraan antara orang, terutama apa itu sebenarnya dan jalan apa yang ditempuh untuk mencapainya. Orang semakin mempertanyakan topik kebahagiaan di dunia saat ini. Karena sebagian orang beranggapan bahwa kemajuan teknologi saat ini akan mengantarkan manusia menuju gerbang kebahagiaan hidup yang sempurna. Namun anggapan tersebut ternyata jauh dari kebenaran, nyatanya itu adalah gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh pengaruh dunia  modern.

Menurut Zakiah Daradjat mengemukakan bahwa kebahagiaan ini selalu didambakan atau dicari oleh setiap insan. Di era kemajuan yang terus meningkat ini, seperti yang kita ketahui bersama, kebahagiaan masih dicari. Akan tetapi, sering terjadi kontradiksi dalam kehidupan manusia.

Seseorang sering merasa tidak bahagia meskipun dia memiliki cukup materi dan hal-hal eksternal seperti kekayaan, status, kekuasaan, ilmu pengetahuan, masa muda, dll. Semuanya itu hanya bersifat sementara. Banyak kesenangan dan fasilitas hidup dicapai dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan karena dengan ilmu hidup bertambah mudah danenak, tetapi kemudahan dan kesenangan lahiriah belum tentu membahagiakan.

Menurut Ibrahim Hamad al-Qu’ayyid, perdebatan ini karena kebahagiaan itu penting karena orang yang bahagia  cenderung berbuat baik atau sesuatu yang  positif. Hidup yang baik adalah hidup yang bahagia dan tenteram, yaitu keadaan jiwa yang terdiri dari ketenangan, kedamaian, rasa puas terhadap diri sendiri dan rasa puas terhadap ketetapan Allah SWT.

Menurut Al-Farabi, dalam buku yang dikutip  Muhammad ‘Utsman Najati, yang menyatakan bahwa kebahagiaan adalah perolehan kesempurnaan hakiki manusia dan merupakan tingkatan akal mustafad, dimana ia siap menerima pancaran semua objek rasional manusia.  Dengan demikian, perilaku berpikir yang dapat menciptakan kebahagiaan bagi manusia. Al-Farabi mengatakan bahwa mencapai ma’qulat merupakan bentuk kesempurnaan bagi seseorang. Kebahagiaan ini, menurut al-Farabi, adalah kebaikan yang dibutuhkan untuk dirinya sendiri.

Baca Juga  Sikap Ta’awun antara Altruisme dan People Pleaser

Hasan al-Bashri yang dikutip oleh Rosihon Anwar dan Mukhtar Solihin juga mengemukakan tentang kebahagiaan ialah mensucikan jiwa. Karena jiwa manusia adalah pancaran sifat suci Tuhan dan satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan manusia ke hadirat Tuhan, sehingga kebahagiaan yang sebesar-besarnya dapat dicapai. Maka dari itu manusia harus lebih dulu mengidentifikasikan eksitensi dirinya dengan ciri-ciri ketuhanan melalui penyucian jiwa yang bermula dari pembentukan pribadi yang bermoral dan berakhlak mulia.

Selaras dengan tujuan hidup tasawuf, para sufi percaya bahwa kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan spiritual. Para sufi berpendapat bahwa menikmati kehidupan duniawi bukanlah tujuan, melainkan hanya sebuah jembatan. Dari uraian sebelumnya dapat ditegaskan bahwa kebahagiaan dalam kajian psikologi, filsafat, dan tasawuf tidak semata diukur dari hal-hal yang bersifat materi, melainkan yang bersifat bukan materi, seperti halnya dalam melaksanakan perintah Allah, yakni sholat. Dalam melaksanakan sholat dilakukan terlebih dulu pensucian jiwa supaya semua keseluruhan amal itu mendatangkan keridhaan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنٍ فِيْ الصَّلَاةِ

“dan telah dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat.” (HR. An-Nasai [7/61] no. 3939, 3940, Ahmad [3/128] no. 14069. Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah [3/98 dan 4/424])

Sholat adalah ibadah yang merupakan salah satu rukun Islam. Ciri terpenting seorang mukmin sejati adalah menjalankan sholat wajib, yaitu lima waktu, dan ibadah dilakukan dengan iman karena diharapkan untuk ridha-Nya. Dan amalan mulia ini, agar diterima oleh Allah, harus ditiru dan dilaksanakan sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, baik melalui gerakan maupun bacaan. Sholat yang dilakukan dengan benar dan ikhlas, akan membuat hati bahagia, jiwa damai, dan menghilangkah kegelisahan hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengan sungguh-sungguh baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan darurat.

Baca Juga  Melihat Fenomena Generasi Sandwich dalam Al-Qur’an

Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Bila kedatangan masalah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad dalam al–Musnad [5/388] dan Abu Dawud [2/35]. Dihasankan al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Sholat merupakan sarana yang penting untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, apalagi ketika beribadah, ia merasa lebih dekat dengan Allah Ta’ala. Allah tempat para hamba mengadu, meminta pertolongan, dan hati orang mukmin tenang saat shalat. Itulah sebabnya Allah Ta’ala menyuruh kita untuk memperbanyak doa dan permintaan kita dengan berdoa kepada-Nya ketika jiwa kita bingung, tertekan, galau dan mengalami berbagai kesulitan berat dalam hidup. Dia juga berkata kepada pendamping Bilal: Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, “Wahai Bilal, ucapkan doa Iqama, buat kami damai dengannya.”

Dr. Hasan bin Ahmad bin Hasan al-Fakki mengatakan bahwa ketika doa digunakan sebagai pencipta ketentraman dan kedamaian (jiwa) dan sebagai terapi psikologis. Tidaklah mengherankan bahwa beberapa psikiater menganggap itu digunakan pada pasien mental sebagai terapi utama.

Seorang mukmin merasa senang dan gembira ketika ia berdoa dengan khusyuk dan jiwanya tenang, karena ia berkomunikasi dengan Tuhannya. Yang bisa menghilangkan kesulitan dan yang selalu memberi kebahagiaan disana sini.

Ibn al-Qayyim menjelaskan manfaat sholat. Beliau mengatakan bahwa shalat merupakan faktor dominan untuk memberi manfaat dunia dan akhirat serta menghilangkan keburukan dunia dan akhirat. Mencegah dosa, mengusir penyakit hati, mengusir luka fisik, menerangi hati, mencerahkan wajah, menyegarkan anggota badan dan jiwa, dan memelihara kesenangan, menghilangkan siksaan, mengirim rahmat dan menghilangkan tabir kekhawatiran. Jika kita mengajak orang lain untuk berbahagia dan jika Tuhan mengizinkannya, kita akan menjadi orang yang paling berbahagia.

Baca Juga  Belajar dari Viralnya Kehamilan Tak Direncanakan dan Pernikahan Usia Anak Di Ponorogo

من اسعد الناس ؟ من اسعد الناس

2“Siapa orang yang paling bahagia? Orang yang membahagiakan orang lain.”

Untuk mengajak orang lain bergembira, ya tentunya dengan menebar kebaikan. Itulah sebabnya Allah memerintahkan kita untuk menyebarkan kebaikan setelah shalat dan ibadah.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرْكَعُوا۟ وَٱسْجُدُوا۟ وَٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمْ وَٱفْعَلُوا۟ ٱلْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebaikan, supaya kamu mendapat kebahagiaan/ kemenangan ( Q.S.al-Hajj : 77).

Maka dari itu, Sholatlah! Maka akan Allah datangkan kebahagiaan berlimpah ruah seperti yang telah dijelaskan pada ayat-ayat diatas yang berkaitan dengan ibadah spiritual yang telah dicontohkan oleh Rasulullah , para nabi, para sahabat dan para sufi.

Nisa Asada Fat Ilma Arof Mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya