Akbar Wijaya Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Menelusuri Jejak Taoisme: Falsafah Keagamaan Tiongkok Kuno

2 min read

sumber: asianinspirations.com

Taoism atau Daoism merupakan tradisi filosofis dan keagamaan Tiongkok Kuno yang menekankan hidup selaras dengan Tao, yang dapat diterjemahkan sebagai “the way” atau “jalan”. Ide-ide dasar Taoisme sering dikaitkan dengan tokoh legendaris Lao-Tzu, meskipun terdapat banyak perdebatan dan ketidakpastian mengenai keberadaan historis dan identitas Lao-Tzu. Lao-Tzu secara tradisional dianggap sebagai penulis Tao Te Ching, teks utama ajaran Taoisme.

Lao-Tzu adalah seorang bijak yang hidup di Tiongkok Kuno, sekitar abad ke-6 SM. Dikatakan dia pernah bekerja sebagai penjaga catatan arsip di istana Dinasti Zhou. Seiring berjalannya waktu, karena kecewa pada korupsi dan kekacauan saat itu, dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan berkelana ke penjuru dunia. Sebelum keberangkatannya, ia menulis Tao Te Ching, sebuah teks ringkas dan mendalam yang merangkum prinsip-prinsip inti Taoisme.

Nama Lao-Tzu berarti Elder Teacher atau Guru Senior, dan diyakini bahwa ia memilih nama ini untuk menekankan kebijaksanaan dan keterpisahannya dari urusan duniawi. Namun, keakuratan sejarah keberadaan Lao-Tzu dan kepengarangan Tao Te Ching masih menjadi perdebatan ilmiah. Beberapa pakar berpendapat bahwa teks tersebut mungkin telah disusun dan diedit oleh banyak penulis seiring berjalannya waktu.

Terlepas dari ketidakpastian sejarah seputar Lao-Tzu, ajarannya dan Tao Te Ching memiliki pengaruh yang mendalam dan bertahan lama bagi perkembangan filsafat, budaya, dan spiritualitas Tiongkok. Taoisme sebagai tradisi filosofis dan keagamaan telah berevolusi dan berkembang selama berabad-abad dengan kontribusi dari berbagai pemikir dan praktisi sepanjang sejarah Tiongkok.

Penting dicatat bahwa Taoisme adalah tradisi yang beragam dengan aspek filosofis dan keagamaan, dan setiap individu dapat menafsirkan ajarannya secara berbeda. Beberapa mungkin lebih fokus pada aspek filosofis hidup selaras dengan Tao, sementara yang lain mungkin terlibat dalam ritual dan praktik keagamaan. Taoisme mempunyai dampak besar pada kebudayaan Tiongkok dan terus mempengaruhi banyak aspek masyarakat Tiongkok dan sekitarnya.

Baca Juga  [Resensi Buku] Menyoal Batasan Hijab dan Jilbab Perempuan

Sebagai sebuah ajaran keagamaan, konsep sentral Taoisme adalah Tao, yang sering digambarkan sebagai prinsip dasar yang menjadi sumber segala sesuatu. Ia tidak berbentuk, tidak dapat dijelaskan, dan di luar pemahaman manusia. Tujuan pengikut Taoisme adalah menyelaraskan kehidupan dengan Tao.

Terdapat juga yang disebut Wu Wei, yang sering diterjemahkan sebagai “tanpa tindakan” atau “tindakan tanpa usaha”. Ia adalah prinsip utama dalam Taoisme. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak boleh memaksakan sesuatu, melainkan cukup bertindak dengan cara yang alami dan spontan, membiarkan segala sesuatunya terjadi tanpa campur tangan yang tidak perlu.

Prinsip lain yang tak kalah penting dalam ajaran Taoisme ialah Yin-Yang, yang mengakui sifat dualistik alam semesta. Yin (aspek feminin) mewakili kualitas seperti kegelapan, kepasifan, dan penerimaan, sedangkan Yang (aspek maskulin) mewakili kualitas seperti cahaya, aktivitas, dan ketegasan. Keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan ini penting untuk keselarasan dan keseimbangan dalam kehidupan.

Lebih jauh, Taoisme menekankan pentingnya berhubungan dengan alam dan menjalani kehidupan yang sederhana dan ugahari. Alam dipandang sebagai cerminan Tao, dan dengan mengamatinya, seseorang dapat memperoleh pelajaran berharga tentang keseimbangan dan harmoni.

Ajaran Taoisme, sebagaimana telah disinggung, dikodifikasikan dalam karya Tao Te Ching. Ia adalah teks dasar Taoisme yang dikaitkan dengan orang bijak Lao-Tzu. Terdiri dari 81 bab pendek yang menawarkan kebijaksanaan dan bimbingan tentang bagaimana hidup sesuai dengan Tao. Ini mencakup berbagai topik, mulai dari kepemimpinan dan pemerintahan hingga perilaku pribadi dan spiritualitas.

Lebih jauh, beberapa cabang Taoisme mengeksplorasi upaya mencapai keabadian fisik melalui praktik seperti qigong dan meditasi. Yang lain fokus pada alkimia batin, yang mencari transformasi dan pencerahan spiritual.

Baca Juga  Gus Baha’: Mati Karena Membela Nabi Pasti Syahid, Kalau Selain Nabi Belum Tentu

Pada praktiknya, taoisme mencakup berbagai praktek, termasuk meditasi, qigong (latihan penanaman energi), Tai Chi (seni bela diri yang berakar pada Taoisme), dan feng shui (penataan benda agar selaras dengan lingkungan alam).

Selain itu, Taoisme memiliki pengaruh yang signifikan terhadap budaya dan politik Tiongkok. Pendekatan ini sering menganjurkan pendekatan yang pasif dan tidak campur tangan terhadap pemerintah dan kehidupan, mendukung intervensi pemerintah yang minimal dan lebih mengutamakan proses alami.

Sebagaimana tradisi keagamaan pada umumnya, Taoisme juga mencakup mitologi yang kaya dengan dewa, keabadian, dan legenda. Kisah-kisah ini sering kali berkisar pada pencapaian keabadian atau pencerahan dan merupakan bagian integral dari budaya Tao.

Juga, Taoisme telah memasukkan unsur-unsur dari tradisi agama dan filosofi Tiongkok lainnya, seperti Konfusianisme dan Buddhisme. Akibatnya, terdapat berbagai aliran dan cabang Taoisme dengan keyakinan dan praktik yang berbeda-beda.

Taoisme sebagai jalan hidup saat ini memiliki hubungan yang dapat dikatakan cukup kompleks dan terus berkembang dengan masyarakat modern baik di Tiongkok maupun di berbagai belahan dunia. Pada era saat ini, prinsip Taoism modern juga mencoba untuk menjawab berbagai tantangan yang ada pada dunia modern. [AR]

Akbar Wijaya Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya