Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Kisah Cinta Sufi (4): Khusrau dan Syirin – Kerinduan Memang Teramat Menyakitkan

3 min read

https://www.arabamerica.com/12-ways-express-love-arabic/
https://www.arabamerica.com/12-ways-express-love-arabic/

(Disadur dari Tales from the Land of the Sufis, karya Mojdeh Bayat dan Mohammad Ali Jamnia)

Orang jatuh cinta memang selalu begini. Sikapnya menyusahkan orang. Kenekatannya tak pernah bisa dijelaskan. Memang jatuh cinta tidak bisa dijelaskan. Karena seandainya dijelaskan secara jujur pun oleh Syirin kepada bibinya, bibinya hanya akan tertawa karena menganggap keponakannya sedang halu.

Dengan suara tegas dan ketetapan yang sangat, Syirin berkata kepada Syapur, “Aku akan berangkat ke Persia sendiri. Pastikan tidak ada seorang pun yang mengetahui keberangkatanku. Karena jika dayang-dayangku tahu, mereka akan melapor ke bibiku. Bibiku pasti akan segera mengirim pasukan untuk menangkapku dan dibawa kembali ke Armenia.

Syapur meyakinkan Syirin bahwa dia akan mengelabuhi dayang-dayang agar tidak mengetahui kepergiannya. Syirin diminta pergi lebih dulu dengan menyamar sebagai lelaki demi keselamatannya di sepanjang perjalanan. Syapur sudah menyiapkan pakaian laki-laki untuk Syirin. Syapur akan menyusul kemudian setelah dirasa sang Putri sudah jauh dan tak mungin terkejar.

Setelah berganti pakaian laki-laki, Syirin langsung menaiki kudanya yang bernama Syabdiz. Syabdiz adalah adalah kuda paling baik dan paling kencang larinya di negeri itu. Tak ada seorang pun yang bisa mengejar Syirin saat menunggangi Syabdiz. Syapur yang menyusul dua jam setelahnya ketinggalam bermil-mil jauhnya di belakang Syirin.

Ketika Bibi Mahin mendapatkan laporan bahwa Syirin menghilang dari perkemahannya, gadis itu sudah pergi terlalu jauh. Tak ada satu pun orang di Kerajaan Armenia yang tahu ke mana perginya Putri Syirin.

Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan, agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta.

***

Di Kerajaan Persia, hari-hari berlalu dalam ketenangan. Raja Hurmuz memimpin rakyatnya dengan kebijaksanaan dan kedermawanan. Hampir tidak ada keluhan rakyat karena hak-haknya dizalimi. Di segenap penjuru negeri, tidak terlihat kemiskinan. Yang ada hanyalah kemakmuran yang membahagiakan.

Hari itu, Raja Hurmuz beserta rombongannya meninggalkan Madain untuk perjalanannya ke beberapa daerah. Untuk sementara, kerajaan diserahkan ke Khusrau, hitung-hitung memberi kesempatan magang.

Baca Juga  Kejujuran Seorang Penjaga Kebun

Dasar pemuda bandel, memanfaatkan ketiadaan sang Raja, Khusrau mencetak uang gambar dirinya, alih-alih gambar sang Raja. Dia sudah diingatkan oleh beberapa pejabat bahwa tindakannya itu sangat tidak bisa diterima. Mengganti gambar Raja dengan dirinya di mata uang kerajaan berarti memberitahu kepada dunia luar bahwa di Kerajaan Persia telah ada pergantian raja. Gambar di mata uang menandakan siapa yang menjadi raja di kerajaan tersebut.

Tapi siapa yang berani melarang Khusrau jika sang Pangeran sudah menghendaki. Saat sang Raja kembali, dia sangat murka kepada putranya.Semua orang di kerajaan meriut ketakutan. Para penasehat kerajaan yang sebelumnya dipesan akan mendampingi Khusrau dengan benar hanya bisa diam di tempatnya.

Di tengah kemarahan, sang Raja mengeluarkan titah, “Aku ingin Khusrau keluar dari ibukota dan jangan coba-coba berani pulang ke mari!”

Tak jarang, kenakalan remaja yang semula hanya dianggap main-main menghasilkan dampak yang sangat menghancurkan. Khusrau jelas tidak berniat melakukan kudeta. Dia hanya iseng membuat mata uang bergambar dirinya. Dia pikir, mengapa mata uang kerajaan bergambar ayahnya yang sudah tua. Tua akan terlihat cool jika dibandingankan dengan uang bergambar seorang pemuda tampan berambut gondrong.

Bahkan, Khusrau pun tahu bahwa tidak semua pejabat tinggi kerajaan setia kepada ayahnya. Tapi memberitahu ayahnya tentang persoalan ini tidak semudah membalik tangan. Ketidaksetiaan terhadap raja akan berujung gantungan. Kalau dia tidak bisa memberi bukti kuat tentang ketidaksetiaan pejabat kerajaan, bisa-bisa dia yang akan digantung.

Khusrau akhirnya keluar dari kerajaan. Ke mana arah tujuannya? Tidak tahu harus ke mana. Dia hanya menarik tali kekang kudanya sesuai dengan kata hatinya. Kata hati itulah yang membuatnya mengarahkan laju kudanya ke Kerajaan Armenia. Selama ini dia sesungguhnya telah lelah menunggu kedatangan Syapur yang berjanji akan membawa Putri Syirin bersamanya.

Baca Juga  Waktu dalam Islam dan Kisah Dinasti yang Runtuh karena Kencing

Di tengah perjalanan, Khusrau berhenti di sebuah sungai. Dia lelah. Kudanya yang dipacu dengan sangat kencang juga butuh istirahat. Dituntunnya pelan-pelan kudanya menuju sungai. Tapi, dia kaget karena di sungai ada seorang gadis cantik yang sedang berenang dengan gerakannya yang tangkas. Begitu cantiknya perempuan itu sehingga Khusrau bimbang, adakah ia manusia ataukah bidadari. Tapi ia merasa pernah melihat gadis itu. Entah di mana?

Ia bersembunyi di balik semak-semak. Ia menarik nafas dan nyaris tersedak ketika gadis itu keluar dari sungai dengan ketelanjangannya. Seketika Khusrau malu melihat ketelanjangan gadis itu. Dia memalingkan mukanya. Tak biasanya dia memiliki rasa hormat terhadap tubuh perempuan. Toh selama ini dia sudah terbiasa bercinta dengan banyak gadis cantik.

Begitu ia menoleh kembali, dia kaget karena perempuan itu telah berpakaian laki-laki. Khusrau menengadahkan wajah memandang ke langit, menikmati kebingungannya beberapa saat. Dia mendengar ringikan kuda. Dia menoleh. Sudah tidak ada apa-apa di sana. Hanya bekas hentakan kaki kuda yang mengepulkan sedikit debu tanah.

Dengan menunggangi kudanya, dia menjelajah daerah di sekitar untuk menemukan bidadari yang barusan dilihatnya. Setelah berputar-putar, dia tidak menemukan siapa-siapa. “Kuda macam apa yang larinya lebih cepat dari angin itu?” batinnya.

Khusrau masih harus menempuh berjalanan bermil-mil lagi untuk sampai di ibukota Armenia. Dari jauh, dia melihat seseorang menunggang kuda. Tampak sekali dia memaksa kudanya untuk berlari sekencang mungkin seakan sedang mengejar atau dikejar sesuatu. Setelah dekat, ternyata penunggang kuda itu adalah Syapur.

Khusrau senang sekali bertemu sahabatnya kembali. Dia menceritakan peristiwa yang terjadi di kerajaan hingga dia diusir. Dia ingin meminta suaka ke Mahin di Armenia sekaligus ingin berjumpa dengan Putri Syirin. Syapur juga menceritakan apa saja yang sudah dilakukan dan mengatakan bahwa Syirin ke Persia. Khusrau pun sadar bahwa perempuan yang dilihatnya di sungai itu pastilah Syirin.

Baca Juga  Abu Nuwas, Sang Sufi yang Akhirnya Bertobat

Betapa inginnya Khusrau memutar haluan kudanya untk kembali ke Persia. Tapi itu tak mungkin. Ayahnya sangat marah dengan tindakan kekanak-kanakannya. Tanpa dukungan dan perlindungan ayahnya, hidupnya pasti terancam oleh para pejabat istana yang culas. Sekalipun ketika dia meninggalkan istana, dia sangat khawatir dengan ayahnya karena dikelilingi oleh para pejabat pengkhianat. Tapi dia harus menjauh dulu. Setelah kemarahan ayahnya reda, dia akan kembali ke Persia dan menghaturkan sungkem memohon maaf.

Saat tiba di Persia, Syirin mengetahui sang Pangeran yang menjadi alasannya minggat dari Armenia telah kabur. Tapi apa yang mau dilakukan? Kembali ke Armenia? Tidak tidak sanggup menanggung malu dan kemarahan bibinya.

Raja Hurmuz yang diberitahu siapa Putri Syirin dan ihwal kedatangannya memperlakukannya dengan sangat baik. Seperti putrinya sendiri, ia membangunkan rumah besar dan indah di tanah milik Khusrau di ekat Madain. Ratusan dayang diperintah Raja untuk melayaninya. Tapi hatinya tetap terasa sepi. Bukan ini alasannya jauh-jauh datang ke mari.

Di Armenia, Ratu Mahin menerima Khusrau dan Syapur dengan penuh hangat. Dia tinggal di vila kerajaan. Tidak ada yang kurang sedikit pun dalam fasilitas dan pelayanan. Khusrau merasa apa yang didapatkan di kerajaannya, itu juga didapatkan di sini. Tapi hatinya pilu. Hatinya dicekam kerinduan yang sangat untuk bertemu Syirin.

Setelah yakin bahwa Syirin tidak mungkin kembali sendiri, diutuslah syapur untuk menjemput Syirin di Persia, dan membawanya pulang ke Armenia. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bibi Mahin telah mengetahuinya. Sang Pangeran bahkan telah tinggal di istananya. Segera pulanglah karena kerinduan teramat menyakitkan sekedar untuk menunda pertemuan.

Kerinduan tidak menuntut apapun selain perjumpaan” [MZ]

(BERSAMBUNG)

Ustaz Ahmad Z. El-Hamdi Ustaz Milenial Tinggal di Sidoarjo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *