Ahmad Zainul Hamdi Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian

Dewasa dalam Berdemokrasi

3 min read

Sebagaimana yang ditulis  Allen dan Parne dalam buku Shattered: Inside Hillary Clinton’s Doomed Campaign, malam terakhir pemilihan Presiden AS, saat Hillary Clinton dan para penasehat politiknya masih meyakini bahwa dia akan memenangkan pertarungan melawan Donald Trump, kabar buruk datang dari Florida, tambang suara penting Partai Demokrat, bahwa dia kalah.

Seketika, Bill Clinton meledak kemarahannya. Hillary termangu tak percaya bahwa mimpinya menjadi presiden perempuan pertama Amerika Serikat harus pupus bahkan oleh orang yang hidupnya dipenuhi skandal.

Di tengah situasi yang menegangkan sekaligus mengharukan itu, masuk telepon dari Gedung Putih yang menyatakan bahwa Presiden Barack Obama meminta Hillary mengakui kekalahannya. Kisah itu sampailah pada episode, ketika Obama langsung menelepon Hillary dan mengatakan: “You need to concede” (“Kamu haru mengakui kekalahan”). Hillary Clinton kemudian minta telepon kepada stafnya untuk menelepon rivalnya saat itu juga dan mengucapkan dua kata yang tak pernah diharapkannya: “Congratulations, Donald”.

Itu adalah sepenggal kisah bagaimana orang-orang besar berdemokrasi. Perasaan kecewa bagi mereka yang kalah adalah hal umrah. Tapi pemimpin yang dewasa dalam berdemokrasi adalah dia yang sanggup melampaui luka hatinya dan menerima kenyataan bahwa lawannya telah mengalahkannya.

Inilah dewasa dalam berdemokrasi. Demokrasi tidak hanya tentang mendapatkan kemenangan dan mengalahkan lawan, tapi juga kesanggupan untuk mengakui kemenangan rivalnya melalui mekanisme elektoral yang telah disepakati bersama.

Demokrasi dianggap sebagai sistem pemerintahan yang baik bukan karena dia tidak memiliki cacat dalam dirinya. Banyak pihak yang telah mengkritik demokrasi. Kelebihan demokrasi adalah memberi kesempatan kepada siapapun untuk merebut tampuk kepemimpinan melalui cara-cara terhormat, sehingga peralihan kepemimpinan tidak menghancurkan keadaban hidup bersama.

Baca Juga  Ada Apa Dibalik Jargon "Kembali pada al-Qur'an dan Sunnah"?

Saat ini, kita sedang mendapatkan teladan mulia dari para pimpinan kita. Prof. Masdar Hilmy, MA., Ph.D, sebagai incumbent terlibat dalam kompetisi untuk menjadi rektor UINSA Surabaya kedua kali. Tentu saja dia mengerahkan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk memenangkan persaingan. Pada akhirnya dia kalah. Yang terpilih sebagai Rektor UINSA Surabaya periode 2022-2026 adalah Prof. Akh Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D.

Di hari Ketika Prof. Akh. Muzakki dilantik di Jakarta, Prof. Masdar Hilmy memberi ucapan selamat secara terbuka: “Saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Prof. Akh Muzakki sebagai Rektor UINSA Surabaya periode 2022-2026. Selamat bekerja untuk mengantarkan UINSA semakin jaya.”

Apakah sejak awal Prof. Masdar berharap memberi ucapan selamat atas kemenangan rivalnya? Saya kira tidak. Sebagai orang yang terlibat dalam kompetisi, pasti dia menginginkan kemenangan. Mungkin yang terbersit di benaknya adalah susunan kalimat ucapan terimakasih kepada berbagai pihak yang mengantarkannya menjadi Rektor UINSA kedua kali. Mungkin. Tapi Ketika dia kalah, dia langsung memberi ucapan selamat kepada Prof Akh Muzakki sedalam apapaun kekecewaan yang mungkin dirasakannya. Seperti Hillary Clinton yang mengucapkan “Congratulations, Donald”.

Pun, tak ada sikap berlebihan dari Prof. Akh Muzakki yang keluar sebagai pemenang. Respon yang sangat bersahaja dan elegan tampak dari pengakuannya terhadap pemimpin sebelumnya. Secara terbuka, beliau menulis:

“Prof Masdar itu ilmuan keren. Prof Masdar itu pimpinan kita semua. Dan kita semua belajar banyak dari beliau. Ilmunya bak samudera luas. Membuat banyak dari kita nyaman belajar dan meneladani beliau. Empat tahun saya belajar dari beliau di Manajemen UINSA ini. Makasih Prof Masdar atas semua kemuliaan itu. Moga saya terus bisa meneladani beliau. Kemuliaan yang beliau tunjukkan moga bisa membekali kita semua untuk menata dan mengelola UINSA ke depan dengan maksimal. Makasih Prof Masdar. Makasih semua bapak ibu atas segala doa kebaikan untuk kepemimpinan UINSA ke depan.”

Pengakuan dan saling hormat di antara dua orang besar ini adalah teladan yang luar bisa bagi siapa saja. Tidak semua orang sanggup menjadi dewasa dalam menerima kekalahan dan mendapatkan kemenangan. Kompetisi bagi orang-orang berjiwa kerdil akan melahirkan dendam dan penyingkiran. Tapi bagi orang-orang yang berjiwa besar, persaingan tidak akan menjerumuskannya dalam perpecahan dan perusakan karena dendam yang terus-menerus dilanggengkan.

Baca Juga  Melacak Akar Sejarah Gerakan Purifikasi Dalam Islam

Saya langsung teringat kesaksian Pak As’ad Said Ali dalam buku Perjalanan Intelijen Santri. Pak As’ad berkisah, ketika Gus Dur dilengserkan dari kursi Presiden dan ditawari oleh para pendukungnya untuk mengambil solusi politik inkonstitusional, Gus Dur menolak dan menyatakan seperti ini:

“…dalam urusan politik, Presiden harus berpegang teguh pada konstitusi sekuat-kuatnya. Kalau sampai saya setuju dengan usulan itu, Indonesia akan seperti Amerika Latin, silih berganti terjadi kudeta. Bisa dibanyangkan kalau seorang Kyai dan Ketua NU mengawali dan menjadikan negara dan rakyatnya saling bunuh rebutan kekuasaan. Saya tidak mau sejarah mencatatnya demikian. Saya mengutamakan keselamatan rakyat, bukan kekuasaan, karena kekuasaan itu sepenuhnya hak Tuhan, kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kapan akan mencabutnya. …Negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini harus menjadi negara hukum dan demokrasi, sehingga terwujud keadilan dan kemakmuran”.

Ketika membaca bagian ini saya tepekur dan menitikkan air mata. Demokrasi bisa memunculkan para demagog. Demokrasi juga bisa dimanipulasi untuk membenarkan dendam dan penyingkiran. Tapi demokrasi di tangan manusia-manusia agung akan mewujudkan kedamaian, keadilan dan kemakmuran.

Hari ini, ketika saya menikmati kopi pahit di kantin kampus, saya berkali-kali menghela nafas haru. Saya tak bisa menyembunyikan keharuan di hati di antara gelak tawa khas warung kopi. Saya mensyukuri dalam hidup ini dianugerahi para pemimpin mulia yang memberi teladan bagaimana berdemokrasi secara dewasa.

Tidak ada yang paling ingin saya nyatakana di penghujung tulisan ini kecuali ucapan selamat kepada Prof. Akh Muzakki atas amanah yang dititipkan Allah untuk menjadi Rektor UINSA Surabaya. Engkau adalah pemimpin kami, kepada siapa kami akan mendengarkan arahan untuk melanjutkan perjalanan sebagai warga kampus.

Baca Juga  Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Pada saat yang sama, terimakasih sedalam samudera atas seluruh dedikasi Prof. Masdar beserta timnya yang telah menahkodai perahu UINSA Surabaya selama empat tahun. Di tangan orang-orang seperti kalian berdua kejayaan UINSA Surabaya ke depan bukanlah mimpi, tapi kenyataan yang pasti akan tergapai. Insya Allah! (mmsm)

Ahmad Zainul Hamdi Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian