Ahmad Zainul Hamdi Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dan Senior Advisor Jaringan GUSDURian

Gus Dur dan Nyanyian Kesatria yang Menguras Air Mata: Catatan tentang Film High Noon in Jakarta

2 min read

I do not know what fate awaits me
I only know I must be brave
And I must face a man who hates me
Or lie a coward, a craven coward
Or lie a coward in my grave

[Aku tidak tahu takdir apa yang sedang menungguku
Yang kutahu hanya aku harus berani
Aku harus menghadapi lelaki yang membenciku
Atau (aku akan) mati sebagai pengecut, pengecut yang penakut
Atau (aku akan) terbaring sebagai pengecut di kuburku]

Di atas adalah sepenggal lirik lagu High Noon (Do Not Forsake Me) yang dinyanyikan Tex Ritter. Entah apa yang ada di benak Gus Dur saat ia melagukannya. Kepada orang-orang yang menemaninya saat berolahraga di lingkungan istana, saat dia menjabat sebagai Presiden RI ke-4, dia berkisah secuil cerita film di balik lagu itu. Adalah seorang sherif di hari di mana ia akan melangsungkan perkawinan dengan gadisnya, tapi harus pergi menemui bandit yang datang ke kotanya untuk menuntut balas.

Do not forsake me, oh my darlin’
On this, our weddin’ day
Do not forsake me, oh my darlin’
Wait, wait along

[Jangan tinggalkan aku, kekasih
Di hari pernikahan kita
Jangan tinggalkan aku, kekasih
Tunggulah sebentar saja]

Di salah satu scene film High Noon in Jakarta, tampak adegan Bu Sinta pamit mau pergi keluar kota. Gus Dur memintanya agar jangan terlalu lama, karena kalau terlaku lama dia akan mencarinya. Adegan yang tampak “semarak dengan gurau” itu mengabarkan kepada kita tentang seorang kesatria yang ingin selalu bersanding dengan istrinya. Saat dia harus menghadapi situasi negara yang sedemikian pelik sebagai presiden, salah satu sumber kekuatannya adalah cinta yang diberikan kekasihnya (istrinya).

Baca Juga  Mengintegrasikan Filsafat, Sains, dan Agama

Bagaimana nasib akhir kesatria itu? Di depan wartawan dari berbagai media internasional saat lawatan kenegaraannya ke berbagai negara, dia dengan sangat berani mengatakan “I will ask him to resign” (Aku akan memintanya untuk turun). Dia meminta Jenderal Wiranto, salah satu orang kuat sisa Orde Baru yang dianggap paling bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran HAM berat di Timor Leste (dahulu Timor Timur), untuk turun dari jabatannya sebagai Menkopolkam.

Kesatria itu berhasil mengalahkan “the man who hates him”. Tapi, itu bukan akhir kisahnya. Gus Dur akhirnya dilengserkan oleh kekuatan Orbais yang masih sangat kuat saat dia terpilih menjadi presiden. 24 Oktober dia dilantik menjadi Presiden RI ke-4, 23 Juli 2001 dia dimakzulkan oleh MPR dengan alasan yang sampai kini tak pernah bisa dibuktikan.

Tiap kestaria pada akhirnya akan mati. Tidak ada satu pun juara yang tak pernah kalah dalam hidupnya. Tapi, nilai seorang kesatria bukan ada pada apakah dia mati atau tidak, bukan pada apakah dia kalah atau menang, tapi ada pada cara menghadapi pertarungan. Ini adalah tentang seni menghadapi kematian.

Gus Dur jelas tahu persis risiko yang dihadapinya. Mungkin dia menang, mungkin dia kalah. Tapi baginya, martabat seorang kesatria tidak ditentukan pada kemenangan atau kekalahan. Kemenangan dan kekalahan adalah bagian dari sebuah permainan. Nilainya ada pada keberanian menyuarakan kebenaran dan bertindak benar.

Tidak heran jika salah satu dari sembilan nilai Gus Dur yang menjadi pegangan Jaringan GUSDURian adalah “Kekesatriaan”. Nilai ini menjelaskan bahwa:

“Kekesatriaan bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminkan integritas pribadi: penuh rasa tanggung jawab atas proses yang harus dijalani dan konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istikamah. Kekesatriaan yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apapun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya.”

Baca Juga  Tasawuf di antara Orisinalitas dan Produk Impor

Apakah seorang kesatria memiliki rasa takut? Sang Sherif dalam film High Noon jelas memiliki kekhawatiran. Dia hanyalah seorang sherif, dia bukan superman yang terbuat dari besi dan serat baja. “I must be brave (Aku harus berani),” katanya. Keberanian bukan datang sebagai sesuatu yang ada begitu saja (taken for granted). Keberanian adalah sebuah keputusan, karena di seberang sana orang bisa memilih untuk menjadi pengecut.

Apakah Gus Dur memiliki ketakutan? Gus Dur bukan tokoh mitos. Dia adalah manusia seperti kita. Yang membedakannya dari kita adalah pilihannya untuk menyuarakan kebenaran, berlaku benar, dan berani ambil risiko atas pilihannya. Kesatria tak selalu memenangkan pertarungan melawan para bandit.

Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur menyatakan:

“Dalam kehidupan nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita, yang bukan tokoh mitos, yang punya anak, istri, dan keluarga, mengenal rasa takut. Meski takut, kita jalan terus, berani melompati pagar batas ketakutan tadi, mungkin di situ harga kita ditetapkan.”

Untukmu Gus, aku menjura hormat; Selaksa doa untukmu! [MZ]

Ahmad Zainul Hamdi Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dan Senior Advisor Jaringan GUSDURian

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *