Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ketika Orang Madura Naik Haji

2 min read

Setiap bulan Zulhijah, yang terlintas dalam benak kita adalah ibadah haji. Berbicara haji di Indonesia tidak bisa melepaskan Madura sebagai daerah yang cukup antusias melaksanakan ibadah haji. Tempo hari, di sebuah ghardu (baca: gazebo) seorang kakek berusia 80 tahun menikmati obrolan seputar ibadah haji bersama rekan-rekannya. Pemandangan ini terjadi di Desa Bancamara, Dungkek, Sumenep. Saya bersykur bisa mendengar secara langsung warga yang mempunyai tekad dan cita-cita besar untuk berangkat ke tanah suci. Mekkah adalah kota paling dirindukan sepanjang hayat, kira-kira begitu.

Jika pernah mendengar bahwa masyarakat Madura memiliki etos kerja tinggi, perantau ulung, dan semacamnya, jangan lupa di alam bawah sadar mereka ada sebuah impian untuk bisa ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. selain untuk menafkahi keluarga, menunaikan ibadah haji adalah pilihan utama. Keinginan mengunjungi makam rasulullah adalah alasan paling esensial dari pelaksanaan ibadah haji.

“Tidak apa-apa saya menjual tanah sangkol dan ternak, asal bisa berangkat haji.” Ujar seorang kakek sambil menikmati asap rokok Oepet (rokok khas orang tua di Madura yang diproduksi di Kota Malang). Konon, bagi warga Desa Bancamara, haji adalah puncak dari ritual agama yang utama. Belakangan, marak orang-orang menjual tanah untuk berangkat ke tanah suci. Lumayan, harga tanah di pulau dengan kadar oksigen terbesar kedua sedang naik daun. Primadona. Ada banyak investor yang mengincar tanah di Desa Bancamara (desa yang berada di Pulau Giliyang).

Pada awalnya, sebelum berangkat, si calon jamaah haji akan mengawali dengan bersedekah kepada warga yang ekonomi pas-pasan, anak-anak yatim di lingkungan sekitar dan warga lanjut usia. Tak cukup dengan bersedekah, calon jamaah haji akan melaksanakan slametan sebagai modal untuk mempertajam spiritual sebelum sowan ke makan rasulullah. Slametan inilah yang bagi sebagian orang luar “kota” akan dianggap sebagai topeng tradisi yang biayanya cukup mahal. Bayangkan saja, si calon jamaah haji rela menghabiskan uang jutaan rupiah untuk mengundang kolega, saudara, dan tetangga untuk berdoa bersama di rumahnya.

Baca Juga  KH. Zainul Arifin Pohan dan Rukun Tetangga: Refleksi 76 Tahun Indonesia Merdeka

Selebihnya, seperti yang dikatakan si kakek di awal, ibadah haji adalah impian, cita-cita dan mungkin juga puncak paling purna dari pelaksanaan rukun Islam. Haji bukan semata-mata ibadah dengan Allah SWT. ada dimensi kemanusiaan di dalamnya. Aspek-aspek hablum minannas tetap jalan seiring dengan pelaksanaan ibadah haji di Mekkah. Saya pernah membayangkan, seperti apa rindu masyarakat Giliyang terhadap tanah suci? Kenapa mereka rela menjual beberapa aset pribadi dan bekerja keras bahkan sampai bertahun-tahun tidak pulang ke rumah demi menginjakkan kaki di tanah suci.

Mungkin ini terlalu berlebihan bagi yang belum pernah mengunjungi Pulau Giliyang. Tapi ada satu hal yang menarik, biaya sosial ibadah haji ada yang melebihi ongkos berangkat haji. Biaya sosial inilah yang saya maksud adalah slemetan, ngaji, biaya orang yang mengantar ke kota, hotel di kota saat pemberangkatan dengan kapasitas seratus sampai dua ratus orang yang mengantar ke kota. Belum lagi perahu yang disewa dari Pulau Giliyag menuju pelabuhan Kecamatan Dungkek (yang akses ke kota masih 30 menit dengan mobil). Sekali lagi, bagi calon jamaah haji dari Pulau Giliyang uang dan harta benda yang lain tidak ada maknanya dari pada ziarah langsung ke makam rasulullah.

Spirit ibadah haji di masyarakat kepulauan ini mungkin berbeda dengan Madura di daratan. Entah dari ritual dan tradisi yang dilaksanakan. Uniknya, di Pulau Giliyang selain slemetan juga ada tradisi ngaji setiap malam selama si calon haji berada di Mekkah. Tradisi ini lakukan setiap malam, ada yang mengundang tetangga, ada pula yang bentuknya sukarela, siapa saja bisa hadir untuk mendoakan jamaah haji yang berangkat ke tanah suci. Lagi-lagi, semangat ibadah haji ini bukan sekadar motif agama, di dalamnya ada motif ekonomi karena dilakukan oleh mereka yang sudah mampu secara ekonomi dan pula ada motif sosial untuk menaikkan kelas sosial di masyarakat.

Baca Juga  Pribumisasi Islam Adalah Idealisme Gus Dur (1)

Ibadah haji bagi masyarakat Pulau Giliyang bukan hanya ibadah yang transenden, melainkan ada aspek-aspek budaya yang mendorong di belakangnya. Selain itu, ada tradisi-tradisi lokal yang menjadi bagian dari proses pelaksanaan haji. Di sana ada banyak kearifan lokal yang dijunjung tinggi, sebut saja misalnya seperti dhamar kambhang (lilin minyak yang ada di atas tutup cangkir) yang menjadi simbol keselamatan bagi jamaah haji. Sebelum berangkat menetukan tanggal, hari dan jam keebrangkatan disesuaikan dengan tanggal lahir.

Terakhir, selamat menunaikan ibadah haji bagi umat Islam yang melaksanakan. Semoga jadi haji mabrur.

Moh Syaiful Bahri Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta