Dr. Bashrowi Peneliti Gender, Alumni S3 Unair dan S3 UPI YAI Jakarta

Perempuan Karir di Tengah Dominasi Pandemi

3 min read

Membaca tulisan Erma Soraya di Arrahim.id (04/05/2020) dengan judul “Sekolah Covid-19: Suara perempuan Karir di Saat WFH,” sangat menarik untuk diaminkan. Betapa tidak, perempuan karir yang setiap harinya berjibaku di dunia kerja modern harus kembali pada pekerjaan domistik di tengah kerja official formal by online, saat suasana 3B (belajar, bekerja, dan beribadah) di rumah.

Berbagai contoh yang diberikan oleh penulis (Erma Soraya) perlu dicontoh oleh perempuan pada umumnya. Jangan sampai terjadi seperti yang saat ini marak. Perempuan berhenti bekerja begitu menikah. Mereka menganggap bahwa pekerjaan hanya sebagai pelengkap sampai pernikahan datang. Seolah mereka telah menyerah dan menerima kenyataan bahwa dirinya hanya memiliki waktu untuk bekerja sebelum bersuami dan beranak. Bila dipaksakan pun, masih banyak yang beranggapan akan sulit naik jenjang hingga karir tertinggi.

Anggapan seperti itu telah lama sekali hendak dihapus, namun apa boleh dikata, hingga hari ini, anggapan itu masih melekat dan sulit untuk dihilangkan. Kesulitan hingga saat ini yaitu dalam membentuk solidaritas antar-perempuan untuk mengatakan bahwa saya mampu, saya bisa, dan saya sanggup untuk melakukan seluruh kompetensi secara professional.

Berbagai upaya tengah dibangun oleh para perempuan karir. Mereka giat sekali mengkapanyekan gerakan perempuan agar berkarir, karena karir sebagai salah satu ciri paling penting dalam kehidupan sosial perempuan. Bahkan, karir juga dapat mempengaruhi cara berperilaku, cara berfikir, dan cara merasakan sesuatu.

Islam mempunyai pandangan mengenai perempuan berkarir, tidak pernah menyudutkan atau membedakan wanita di manapun dan dalam sudut pandang apa pun.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Taubah [9]: 71)

Baca Juga  Feminisme Islam: Gerakan Perlawanan Budaya Patriarki

Di sini jelas bahwa, perempuan mempunyai kesempatan, kedudukan, dan tentu derajat yang sama dengan laki-laki. Yang membedakan hanyalah pada perannya saja. Masing-masing saling melengkapi dan menyeimbangkan.

Tidak Perlu Silau dengan Realitas

Saat ini segala pos bisnis utama, politik dan semua bidang strategis-vital didominasi laki-laki. Dunia olahraga pun mayoritas didominasi laki-laki. Pertanyaannya, Apakah benar dunia ini sedang dihuni oleh masyarakat yang patriarkal?

Perempuan era millennial perlu bersikap professional dalam segala hal, baik kompetensi, cara berfikir, maupun bersikap. Situasi sosial yang melatarbelakangi kapasitas perempuan sangat berbeda-beda, dan mayoritas masih dibayangi oleh dominasi laki-laki, akhirnya suara keras yang digemborkan oleh perempuan karir di era modern saat ini menjadi seperti tidak bersambut.

Apalagi di saat dominasi Korona terjadi, profil diri, status, dan segala unggahan pada gadget mereka lebih banyak yang menonjolkan hal yang pertama, sementara hal kedua yang berdampak positif justru tidak pernah dimunculkan.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS Al Baqarah : 30)

Dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa, manusia adalah hamba Allah. Wanita juga seorang khalîfah fî al-ard. Wanita pu bisa melakukan sesuatu untuk memberikan kontribusi bagi umat dan bagi masyarakat. Dengan demikian, wanita pun mempunyai peran dalam membangun bumi demi kesejahteraan umat.

Momentum Covid-19seperti inilah yang paling pas untuk dijadikan starting point dalam upaya menggalang kekuatan. Banyak kritik yang disampaikan untuk para perempuan karir, bahwa cita-cita keadilan, integritas, dan dorongan untuk menciptakan sesuatu yang berharga dinilai banyak pihak belum mampu berkontribusi dalam menggapai cita-cita bersama.

Baca Juga  Perempuan di Bilik Musala al-Lathifiyyah Tambakberas

Seluruh faktor sosial budaya yang membelenggu gerakan para perempuan karir perlu disingkirkan jauh-jauh. Perempuan harus mampu terlibat jauh dan mendalam pada setiap langkah korporasi mulai dari perencanaan, implementasi, dan pelaksanaan kegiatan baik yang bersifat rekontruksi maupun rehabilitasi.

Sesungguhnya, kerja di sebuah organisasi atau korporasi dalam satu titik hidup perempuan sangat memberi warna dalam kehidupan mereka. Hal itu dapat membentuk perempuan menjadi efektif dan berdampak positif bagi keluarga, masyarakat, dan negara. Ketika perempuan sejahtera, diharapkan semua juga sejahtera.  Karena seluruh harta yang dimiliki akan ikhlas digunakan untuk menutup seluruh kebutuhan keluarga, masyarkat, bahkan negara.

Saatnya Lahir Srikandi Handal

Momentum dominasi Covid-19 merupakan saat tepat bagi lahirnya gerakan perempuan yang lebih mengarah pada bidang kewirausahaan, kepemimpinan dan kemandirian. Platform untuk berkolaborasi baik langsung maupun melalui media virtual—apalagi di saat WFH—diharapkan mampu menginspirasi dan memberdayakan perempuan ke arah kemajuan dan equality.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ: 124)

Dalam hal ini, laki-laki dan perempuan mempunyai peran yang sama. Termasuk dalam pendidikan, bersosialisasi di masyarakat, kehidupan yang layak, turut serta dalam membangun masyarakat adalah hal-hal yang tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan.

Gadget yang selalu ditangan harus menjadi ruang terdekat dalam mengakses potensi-potensi srikandi lain yang berprestasi luar biasa hingga menginspirasi dan memberi contoh dalam berekonomi, bermasyarakat dan berorganisasi. Berbagai platform yang didiskusikan dalam gadget hendaknya isu leadership, kebebasan berekspresi, entrepreneurship, kesetaraan, keadilan, dan isu kontemporer bermanfaat lainnya.

Sebagai catatan akhir, gerakan para perempuan karir yang selama ini mendapat kritikan harus didukung sepenuhnya oleh semua pihak. Kebulatan suara dukungan dan tekad yang membaja untuk menjadi perempuan karir yang handal diharapkan mampu menjadi obat ampuh bagi ketidakefektifan gerakan perempuan. Semoga. [FM]

Dr. Bashrowi Peneliti Gender, Alumni S3 Unair dan S3 UPI YAI Jakarta

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *