Siti Roisadul Nisok Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Bunyai Ainur Rohmah: Potret Otoritas Perempuan dalam Kepemimpinan Pesantren

2 min read

Foto: merdeka.com saat Puti Guntur bertemu Bunyai Ainur Rohmah
Foto: merdeka.com saat Puti Guntur bertemu Bunyai Ainur Rohmah

Pesantren selalu identik dengan seorang pengasuh atau pemimpin, yaitu seorang kiai dan bunyai. Namun kebanyakan Bunyai hanya dianggap sebagai pelengkap keberadaan kiai di dalam pesantren. Bahkan mungkin saat kiai wafat, kepemimpinan pesantren tidak sedikit yang digantikan oleh putranya, akan tetapi hal ini berbeda dengan Bunyai Ainur Rohmah. Sosok perempuan cantik nan tangguh kelahiran Surabaya, 1 Januari 1955 ini memiliki kontribusi besar bagi pesantrennya.

Bunyai Ainur Rohmah atau yang akrab dipangil “Bunda, Neng Nur atau Bu Nur” oleh santri dan mayarakat sekitar, merupakan pengasuh pesantren mahasiswa putri An-Nuriyah yang berlokasi di Wonocolo, Surabaya. Pesantren tersebut didirikan bersama suaminya alm. Abuya K.H. Fathoni, yang pada awalnya pesantren tersebut merupakan sebuah rumah sederhana dari bambu.

Dalam rumah sederhana tersebut, Bunyai Ainur bersama Abuya Fathoni memanfaatkannya dengan melakukan pengajaran ayat-ayat suci Alquran bagi warga sekitar Wonocolo, baik dari anak-anak sampai dengan remaja. Lambat laun pengajaran di lembaga tersebut menunjukkan perkembangan yang signifikan. Tepat pada tahun 1985 bangunan pesantren telah berdiri atas bantuan dermawan Hj. Madaniyah bersaudara.

Namun, selang tujuh tahun pasca-berdirinya pesantren, Abuya Fathoni meninggal dunia akibat penyakit paru-paru yang dideritanya. Sehingga membuat Bunyai Ainur menyandang status janda pada usia yang bisa dibilang cukup muda, 37 tahun.

Kemudian beliau memutuskan tidak menikah lagi hingga sekarang. Meskipun tanpa suami, ketangguhan dan kesabaran yang dimiliki Bunyai Ainur berhasil bertahan hingga bisa menghidupi keempat putra dan putrinya sampai bisa menempuh pendidikan tinggi. Selain itu, tanggung jawab pesantren masih kuat dipegangnya, bahkan dalam berdakwah. Hal ini menunjukkan peran ganda sebagai perempuan tidak mempengaruhi kesejahteraan keluarga.

Kontribusi Bunyai Ainur sudah tidak dapat dihitung lagi dalam mengembangkan pesantren An-Nuriyah. Banyak ikhtiar spiritual yang dilakukan beliau dengan sepenuh hati. Seperti yang dikatakan oleh cucunya, Gus Alaika M. Bagus Kurnia PS, yang sekarang juga menjadi dosen di STIKES Surabaya. “Mbah itu juga rajin puasa mutih dan puasa ngrowot. Puasa mutih dilakukan beliau sangat lama, mungkin dari saya kecil sampai saya SMA”. Ujar Gus Alaika.

Baca Juga  Trilogi Tasawuf pada Atap Masjid Kuno Nusantara

Pengajaran yang dilakukan beliau kepada santrinya sama halnya pesantren salaf lainnya, sebab awalnya pesantren An-Nuriyah bukanlah pesantren mahasiswa, namun karena UIN Sunan Ampel makin berkembang, jadi banyak mahasiswa yang tinggal di pesantren An-Nuriyah.

Bunyai Ainur selau mengajak santrinya agar jangan sampai meninggalkan salat fardu berjemaah, karena pahala serta faedahnya sangat besar dibandingkan salat sendiri. Selain itu juga mengistikamahkan membaca wirid pasca-salat jemaah, di mana banyak amaliah dan ijazah dari guru beliau yang dirangkum oleh Bunyai Ainur dalam buku Risālat al-Yawmīyah. Pembacaan manākib, Yāsin Fadilah, atau amalan lain di bulan-bulan tertentu juga rutin dibaca, begitu pula puasa-puasa sunnah.

Beliau juga sangat gemar bersedekah, loman kepada santri-santrinya. Apabila beliau diberi sesuatu oleh orang lain, maka beliau membagikan lagi kepada banyak orang. Seakan-akan ibadah sedekah sudah menjadi hobi bagi Bunyai. Bahkan saya pernah mendengar cerita langsung dari beberapa orang, kalau Bunyai pergi umrah, bandara Juanda rame seperti pasar karena dikerumuni banyak orang yang ingin mendapatkan berkah dari udik-udikan atau uang yang diberikan Bunyai kepada orang-orang tersebut.

Bunyai Ainur juga selalu berpesan kepada santrinya untuk istikamah mengamalkan shalawat burdah, karena memiliki faedah yang sangat besar dalam kehidupan. Apa saja yang diinginkan jika Allah menghendaki, akan terwujud. Hal itu terbukti lewat pesantren, yang mulanya merupakan rumah sederhana dan sekarang menjelma menjadi pesantren mahasiswa yang besar dengan empat lantai dan memiliki kurang lebih empat ratus santriwati.

Hadirnya pesantren An-Nuriyah, memiliki banyak pengaruh pada mahasiswa yang tinggal di pesantren, karena di tengah zaman yang progresif, mereka tidak hanya bebas mencari ilmu dunia di lingkungan kampus, tetapi ilmu akhirat juga diperdalam di pesantren.

Baca Juga  Tuhan, Manusia, dan Alam: Kosmologi dalam Tradisi Spiritual Islam (Bagian 2)

Ikhtiar dan hobi sedekah Bunyai Ainur yang bisa dikatakan sebagai timbal balik besarnya pesantren An-Nuriyah saat ini. Beliau juga melarang keras anak dan cucunya untuk melakukan monopoli ekonomi di pesantren, jadi hadirnya pesantren juga berpengaruh kepada masyarakat sekitar yang banyak membuka usaha seperti laundry, parkir motor, warung makan sebagai penghasilan mereka dan untuk menunjang kebutuhan santri.

Pesan yang cukup saya ingat dari beliau adalah “Kerjo’o gawe Allah, uripmu bakal dijamin Allah, ga usah nggoleki duit, duit seng teko marani kowe”. [Kerjalah dengan niat karena Allah, maka hidupmu akan dijamin oleh-Nya. Jangan mencari uang, karena uang yang akan mencarimu].

Yang bisa saya tangkap dari pesan beliau adalah libatkan Allah dalam urusan apapun, segala pekerjaan diniatkan sebagai ibadah. Allah janji akan mempermudah urusan baik itu urusan dunia maupun akhirat dan tentunya rezeki akan mengalir terus.

Walaupun sudah bertahun-tahun hidup tanpa suami, namun tidak menghalangi kiprah beliau untuk mengembangkan pesantren putri mahasiswa tersebut. Hingga kini meskipun usianya sudah sepuh, kebijakan dan tanggung jawab pesantren masih teguh dipegangnya, hanya saja beberapa bidang pengajaran yang dikelola oleh anak dan cucunya.

Kiprahnya juga tak hanya berhenti di pesantren saja, beliau juga merupakan sesepuh dai perempuan kota Surabaya, sekaligus menjadi dewan penasehat PC Muslimat NU Surabaya dan dewan penasehat Forum Muballighot kota Surabaya-Sidoarjo. [MZ]

Siti Roisadul Nisok Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *