Budhy Munawar-Rachman Dosen pasca sarjana STF Driyarkara Jakarta

Ke Mana Arah Pembaharuan Islam Di Indonesia? (3)

3 min read

Sebelumnya: Ke Mana Arah Pembaharuan Islam… (2)

Lalu bagaimana mengatasi situasi seperti ini? Langkah mendasar pertama adalah pendekatan kebudayaan atau pendidikan. Pendekatan kebudayaan dan pendidikan ini adalah dengan reaktualisasi pemikiran‐pemikiran keislaman yang dapat menjadi sumber kultural untuk kembali merajut kebinekaan kita yang sudah mulai terkoyak itu.

Lewat berbagai forum, berbagai kelompok sosial, dan lembaga pendidikan terutama pergurun tinggi, pemikiran‐pemikiran keislaman itu harus disosialisasikan kembali. Pemikiran‐pemikiran keislaman demikian telah banyak dikembangkan oleh para pendahulu kita di tanah air tercinta ini, seperti tergambar dalam keempat buku ini, yang menegaskan bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah reaktualisasi pemikiran Islam.

Tanpa menafikan sumbangsih besar dari pemikir‐pemikir lain yang mendahului kita, kiranya pemikiran‐pemikiran keislaman dan keindonesiaan Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid lebih dari cukup untuk mendudukan Islam dalam keindonesiaan yang modern atau beradab, untuk merajut kembali kebinekaan negara‐bangsa kita. Kalau disederhanakan pemikiran Nurcholish Madjid tentang apa yang disebut sebagai ide “desakralisasi kehidupan dunia sosial.” Sementara pemikiran Abdurrahman Wahid adalah “Pribumisasi Islam.”

De-sakralisasi Kehidupan Dunia Sosial yang menjadi perhatian utama Cak Nur adalah fakta bahwa umat Islam di dunia sudah lama terbelakang dari berbagai aspek kehidupan. Sebagai orang yang beriman, Cak Nur percaya tidak ada yang salah pada dokrin‐doktrin dasar Islam. Keterbelakangan itu karena umat Islam secara umum telah lama mengidentikan budaya dan tradisi yang terbelakang yang menyelimuti hidup umat sehari‐hari, yang merupakan ciptaan sejarah, hasil tafsiran terhadap Islam yang ketinggalan zaman, dengan doktrin‐doktrin dasar Islam.

De‐sakralisasi kehidupan sosial (social world) secara luas adalah membedakan antara yang sakral dan profan, antara yang ilahiah dan yang duniawi, antara doktrin‐doktrin dasar Islam dan tatanan kehidupan sosial yang diciptakan manusia dalam sejarah. Doktrin‐doktrin dasar itu universal, sementara tafsiran terhadapnya yang menciptakan tatanan kehidupan sosial adalah ciptaaan manusia yang bersifat hadis, baru, temporer, dan berubah‐ubah sesuai dengan perubahan zaman yang bersifat niscaya.

Baca Juga  Tren Program Tahfidz di Sekolah dan Maklumat Nyanyian Bebas (1)

Sementara Pribumisasi Islam Abdurrahman Wahid meniscayakan bahwa Islam sebagai doktrin pokok dipercaya universal tapi juga melingkup keragaman sosial budaya dalam rentang sejarah bangsa masing‐masing. Keragaman sosial‐budaya karena itu tidak mungkin bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Misalnya bahasa yang sangat beragam. Berbahasa lokal, seperti bahasa Indonesia atau bahasa daerah lain dalam kehidupan sehari‐hari tidak akan bertentangan dengan doktrin dasar Islam bila dibedakan antara doktrin dasar Islam dan budaya.

Islam tidak identik dengan Arab. Islam universal, sementara budaya Arab adalah lokal. Islam Indonesia tidak harus, dan tidak pantas, mengikuti budaya Arab. Berislam dengan budaya Indonesia yang seharusnya dikembangkan dan digalakan umat Islam Indonesia. Toleransi. Kontektualisasi Islam pada keragaman sosial‐ budaya akan melahirkan Islam yang beragam secara sosial‐budaya, dan karena keragaman ini maka toleransi adalah suatu keniscayaan untuk menegakkan keberagaman sosial‐buadaya Islam dalam terang universalitas doktrin‐doktrin dasar Islam.

Di tengah‐tengah maraknya politik identitas akhir‐akhir ini, narasi tentang pembaharuan Islam makin kurang populer. Refleksi tentang pembaharuan Islam, yang dikemukakan oleh Ulil Abshar Abdalla, patut dikutip di sini, “Orang‐ orang yang kita kenang hari ini memulai karir pemikiran mereka pada masa ketika dorongan ke arah pembaharuan masih cukup besar. Mereka hidup di zaman ketika narasi tentang pembaharuan masih disambut dengan antusiasme yang tinggi.

Mereka bekerja sebagai intelektual dan aktivis pada saat ketika pemba‐ haruan dipandang sebagai sumber harapan: pembaharuan adalah cara yang efektif untuk memajukan umat. Banyak kalangan berharap bahwa gerakan pembaharuan ini akan menerobos kejumudan umat dan membawa mereka ke tanah terang yang diharapkan. Para pembaharu, pada zaman itu, juga dianggap sebagai “hero‐hero kecil” yang disambut dengan senyum lebar. Tentu saja, gambaran saya di atas agak penuh dengan penyederhanaan dan hiperbola.

Baca Juga  Mengucapkan Selamat di Hari Raya

Saya tahu, bahwa pada zaman mereka, para pembaharu itu juga mendapat serangan yang sangat hebat (ingat laporan‐laporan majalah Media Dakwah pada zaman itu). Mereka juga mendapat hujatan dan cemoohan. Tetapi, secara umum, tanggapan‐tanggapan atas narasi pembaharuan di masa lalu masih bisa membanggakan kita karena dilakukan dalam bentuk percakapan intelektual, debat, dan polemik yang merangsang pemikiran.

Hujatan memang ada. Tuduhan kafir juga dilemparkan. Tetapi, percakapan yang produktif masih cukup dominan. Umat pun tampaknya juga bisa menerima pikiran‐pikiran “nakal” dari para pembaharu ini dengan dada yang masih lumayan lapang.” (h. 172)

Ulil melanjutkan,

“Sekarang ini, kita hidup di zaman yang agaknya berbeda. Pembaharuan pemikiran Islam dicurigai sebagai sumber penyesatan umat. Agak sulit melakukan percakapan yang produktif saat ini mengenai agenda pembaharuan, karena suasana sosial‐kebudayaan umat Islam saat ini dipenuhi dengan kecurigaan, labelisasi, penyesatan, pengkafiran, dsb. Salah sebab yang membuat komunikasi intelektual saat ini begitu sulit adalah kuatnya gejala takfir (kafir‐mengkafirkan) di tengah‐tengah umat saat ini. Hal ini diperparah lagi dengan polarisasi politik setelah era demokrasi terbuka, terutama dalam dua tahun terakhir…. Narasi pembaharuan Islam di belahan dunia manapun agak susah dibicarakan lagi. Perhatian sebagian orang lebih banyak diarahkan kepada hal‐hal yang sifatnya lebih “politis” – misalnya, menyangkut isu‐isu politik identitas, Islamofobia, bangkitnya narasi kanan di Barat, maraknya salafisme, bangkitnya narasi jihad, dsb. Usaha‐usaha menelaah secara kritis terhadap tradisi klasik Islam seperti pernah menjadi keprihatinan para intelektual Muslim pada dekade 80an dan 90an menjadi kurang populer lagi.” (h. 174)

Penerbitan tetralogi esai ini dimaksudkan untuk mencerahkan mahasiswa atau anak muda dan meneruskan cita‐cita dan semangat pembaharuan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), dan Cak Nur (Prof Nurcholish Madjid). Tidak bisa dibayangkan, bagaimana masa depan Islam dan massa Muslim di Indonesia tanpa Gus Dur dan Cak Nur.

Baca Juga  Menghancurkan Hegemoni Nafsu Ketika Berpuasa

Dalam hal ini, esai‐esai para inteligensia dalam tetralogi ini setidaknya telah merefleksikan kegelisahan dan perspektif pemikiran dan jiwa atau batin mereka, sebagai sumbangsih pencerahan intelektual. Esai‐esai dalam tetralogi ini spektrum‐nya luas, ada yang serius dan mendalam, ada yang renyah, reflektif, dan beragam pokok pikiran, sebagai ikhtiar memenuhi bacaan kebutuhan para mahasiswa, dosen, dan masyarakat secara umum.

Beberapa penulis yang dihimpun dalam buku tetralogi esai ini, di antaranya Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Ahmad Syafii Maarif, Goenawan Mohamad, Soedjatmoko, Azyumardi Azra, Jalaluddin Rakhmat, Utomo Dananjaya, Vedi R Hadiz Yudi Latif, Ulil Abshar Abdalla, Budhy Munawar-Rachman, Ahmad Gaus AF, Ihsan Ali Fauzi, Rizal Ramli, Hariman Siregar, Herdi Sahrasad, Burhanuddin Muhtadi, Daniel Dhakidae, Dinna Wisnu, M Alfan Alfian, Ahmad Baso, Ahmad Najib Burhani, Ahmad Suaedy, Mochtar Pabottingi, Muhamad Ali, Airlangga Pribadi, Ignas Kleden, Ratno Lukito, Syaiful Arif, Hendrajit, Hilman Latif, Moh. Shofan, Dedi Tabrani, Hairus Salim HS, Muhammad Ridho Agung, Ayang Utriza Yakin, M. Jadul Maula, KH Muhammad Yusuf Chudlori, Mohamad Asrori Mulky, dan masih banyak yang lain.

Tetralogi ini ibarat ensiklopedi pemikiran Islam Indonesia yang telah mewarnai wacana pembaruan Islam di Indonesia sejak awal masa Orde Baru sampai hari ini [MMSM].

Budhy Munawar-Rachman
Budhy Munawar-Rachman Dosen pasca sarjana STF Driyarkara Jakarta