Tradisi Kupatan sebagai Bentuk Budaya Syawalan Di Jawa
Ketupat memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan syawalan yaitu memaafkan satu sama lain untuk kembali ke kesucian (fitrah).
Ketupat memiliki makna filosofis yang berkaitan erat dengan syawalan yaitu memaafkan satu sama lain untuk kembali ke kesucian (fitrah).


Salah satu keringanan yang diberikan untuk tidak puasa adalah ketika dalam perjalanan. Akan tetapi puasa yang gugur itu wajib diganti di lain hari luar bulan Ramadhan


Agama semestinya membawa seseorang untuk berbuat adil, bukan justru membuka praktik hukum rimba atas nama agama.


Nabi yang menjadi utusan Allah untuk menyampaikan risalah-Nya diingatkan agar tidak perlu bersedih hanya karena adanya orang-orang yang tidak membenarkan risalahnya dan tidak beriman kepada Allah.


Kebutuhan ada batasnya, sedang kerakusan tidak ada batasnya.


al-Qur’an menyediakan dirinya untuk menjadi petunjuk bagi siapapun, termasuk kita yang bukan siapa-siapa ini.


Alam raya merupakan manifestasi Tuhan. Menjaga alam raya bukan hanya karena mereka dibutuhkan manusia, tapi karena cinta terhadap alam raya. Cinta ini tumbuh tanpa tanya apa dan mengapa. sebagaimana mawar yang sedang mekar, ia mekar tanpa alasan mengapa ia mekar.


Jagad raya merupakan tanda (sya’air) bagi orang-orang beriman untuk menghormatinya. Sedangkan, tradisi Kekristenan, St. Francis of Assisi berpandangan bahwa jagad raya adalah 'unity'. Bahwa rahmat Tuhan itu hadir untuk seluruh mahkluknya, dan tidak terkhusus kepada manusia saja


Alasan dari perasaan cinta itu adalah tanpa adanya alasan.


Rasio kita tidak mungkin sanggup memahami esensi Allah berdasarkan hukum-hukum rasio inderawi manusia.

