Dawam M. Rohmatulloh Dosen INSURI dan IAIN Ponorogo, pengelola Omah Jurnal Sunan Giri Ponorogo, kini menempuh studi doktoral di Universiteit Utrecht, Belanda. Ber-#postitoergosum melalui akun IG @kang_dawam.

Ramadan Perdana di Belanda: Ngaji dan Buber Virtual bareng Komunitas Muslim Indonesia

3 min read

fimela.com

Kurang lebih 1 juta dari 17-an juta penduduk, populasi umat Islam di Belanda tentu saja bukan angka yang sedikit. Lembaga riset demografis global terkemuka, Pew Research Center (2017) dan Statista Research Department (2020), menyuguhkan angka di kisaran 5 hingga 7 persen. Artinya, keberadaan orang Islam di negeri kincir angin ini bukan fenomena langka.

Dari seratus orang Belanda, sekurangnya lima di antara mereka adalah muslim. Mungkin analogi tersebut terlalu berlebihan, tetapi setidaknya hal tersebutlah yang saya alami selama dua bulan tinggal di Overvecht, salah satu kota setingkat kecamatan di Utrecht, Belanda.

Di kawasan ini, keberadaan orang Islam ya nyimpar nyandung, kata orang Jawa, alias ada di mana-mana. Menyusuri jalanan Tigris and Bostondreef dengan sepeda, naik bus nomer 1 atau 3 ke Centrum, apalagi datang ke Winkelcentrum de Klop atau yang lebih besar di Seinedreef Overvecht, kemungkinan untuk bertemu orang Islam cukup besar.

Tentu saja yang saya maksud adalah muslim dari Turki atau Maroko yang memang mengisi populasi 5 persen dari penduduk Belanda. Tentang banyaknya muslim Turki dan Maroko ini, kebutuhan besar-besaran negeri Belanda terhadap pekerja asing (gastarbeiders) pada paruh akhir abad ke-20 menjadi alasannya. Jadi, dapat dimengerti ketika cukup banyak masjid dan sekolah muslim milik komunitas Turki atau Maroko di Belanda.

Tapi esai ini bukan tentang muslim di Belanda, melainkan sekedar berbagi pengalaman saya menjalani Ramadan perdana di negeri kincir angin ini. Apalagi dalam suasana kuncitara (lockdown) cerdas dan tertarget – pemerintah Belanda menyebutnya intelligent dan targeted lockdown.

Saya menginjakkan kaki di Utrecht tanggal 5 Maret 2020, tepat seminggu sebelum Perdana Menteri Mark Rutte dan Menteri Kesehatan Bruno Bruins mengumumkan protokol penanganan covid-19. Protokol tersebut berkonsekwensi ditutupnya seluruh universitas, termasuk Universiteit Utrecht, dimana saya baru saja tiba untuk memulai pekan perdana.

Baca Juga  Nasionalisme Menurut KH Bisri Mustofa dalam Tafsir al-Ibriz

Selain itu, protokol ini juga mencegah kegiatan perkumpulan massa, tentu saja termasuk salat Jum’at yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat muslim. Belakangan, pada 21 April silam, protokol pencegahan pertemuan massal tersebut diperpanjang hingga setidaknya 1 September.

 Ramadan di Utrecht

Mengalami bulan Ramadan perdana di Belanda dalam suasana terdampak pandemi global covid-19 ini membawa kesan yang sungguh nano-nano. Di satu sisi, saya adalah pendatang baru yang perlu adaptasi terhadap kehidupan umum sehari-hari, maupun untuk menjalani ibadah puasa di musim panas yang mencapai 17 jam, bahkan hampir 18 jam di hari-hari akhir Ramadan ini.

Kuncitara tentu saja menguntungkan karena saya bisa berlama-lama di rumah sambil sesekali keluar ketika jenuh atau perlu belanja. Namun di sisi lain, keberadaan saya di sini adalah untuk belajar; situasi tak menentu dengan keharusan bekerja dari rumah tak ayal menjadi tantangan tersendiri.

Dalam kondisi yang demikian, memang tak ada solusi yang lebih tepat selain menjalani semampunya dan sebaik-baiknya, dengan harapan wabah ini segera berakhir dan kehidupan bisa berjalan normal kembali. Sebelum itu terjadi, tetap taat pada protokol pemerintah, ikhlas pada qudratullah, dan yang paling penting, jalani tugas dengan semestinya. Dapat tugas puasa ya jalani puasa semampunya. Dapat tugas ikut kelas dan pertemuan lain secara daring ya ikuti juga sebaik-baiknya.

Beruntungnya, di Belanda cukup banyak hal yang memudahkan saya untuk menjalani bulan Ramadan ini. Tak hanya karena tinggal di Overvecht, seperti saya singgung di atas, dimana suasana kehidupan muslim secara umumnya cukup kental, juga karena keberadaan komunitas muslim Indonesia yang berbasis di sini.

Melalui Stichting Generasi Baru (SGB), sebuah yayasan perkumpulan, muslim Indonesia yang tinggal di Utrecht dan sekitarnya aktif mengadakan kegiatan jam’iyyah.

Jika dalam kondisi normal, SGB rutin mengadakan buka puasa (bahkan hingga sahur) bersama, maka dalam kondisi pandemi ini diganti dengan membagi menu buka puasa yang harus diambil sendiri oleh jama’ah, tiap hari Sabtu: kemudian dinikmati bersama dari rumah masing-masing. Ya, bersama, karena tetap diadakan buka puasa bersama secara daring melalui ruang konferensi virtual Zoom.

Baca Juga  Kritik M. Said Ramadhan al-Būtī terhadap Konsep Maslahat Najm al-Dīn al-Tūfī [1]

Tak hanya buka bersama, SGB Utrecht juga mengadakan pengajian tematik online yang disiarkan melalui kanal YouTube tiap pekan, tahsin al-Qur’an melalui aplikasi Zoom 2 kali sepekan, dan pengumpulan sekaligus distribusi zakat, infaq, dan shadaqah. ZIS yang terkumpul oleh SGB ini nantinya akan disalurkan bagi mustahiq yang ada di Indonesia.

 Ngaji Pasan Virtual

Selain bersama komunitas yang ada di kota tempat saya tinggal, sebagai nahdliyyin, saya juga terbantu oleh keberadaan PCI Nahdlatul Ulama Belanda yang kebanyakan penggeraknya ada di Den Haag (Masjid Al-Hikmah), Amsterdam (Masjid Al-Ikhlash), dan Leiden.

Tiap hari selama bulan Ramadan, saya dapat menyimak ngaji pasan di kanal YouTube NU Belanda atau, yang lebih interaktif, dengan bergabung melalui ruang konferensi virtual Zoom. Bicara tentang ngaji pasan, tentu saja pengajian kitab yang “dibalah” secara khas pesantren. Bukan tematik atau berbasis tanya jawab, melainkan mengkaji teks dalam naskah kitab tersebut secara runtut dengan penjelasan yang mumpuni.

Sepengetahuan saya, terdapat dua pengajian model ini di lingkungan NU Belanda. Yang pertama disampaikan oleh Rais Syuriyah, KH Nur Hasyim Subadi, dengan kitab al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu yang digelar tiap jam 20.00 CEST hingga menjelang waktu Maghrib.

Kemudian ada juga kitab al-Mar’ah Baina as-Syari’ah wa al-Hayah yang diantarkan tiap jam 18.00 CEST oleh Nyai Hj. Zaimatus Sa’diyah, dosen IAIN Kudus yang kandidat PhD di Radboud University Nijmegen. Menariknya, keduanya sama-sama Azhari, alumnus Al-Azhar Mesir.

Selain melalui payung NU Belanda, ada juga kegiatan yang rutin digelar oleh PPME Al-Ikhlash Amsterdam (AIA), bahkan sejak sebelum masuk bulan Ramadan. Tiap pekan, di saluran media sosialnya, PPME AIA mengadakan siaran daring Tausiah Jum’at sebagai pengganti suasana Jum’atan yang ‘diliburkan’.

Baca Juga  Futur atau Mendung Rohani

Sedangkan di bulan Ramadan, ditambah juga dengan tartil al-Qur’an mulai pukul 20.30 CEST sampai waktu Maghrib, dilanjutkan dengan kajian tematik pukul 22.00-23.00 CEST yang diisi oleh beberapa profesor dan pengasuh pesantren di Indonesia, serta para imam masjid Al-Ikhlash dan Al-Hikmah. Di kanal PPME AIA bahkan juga disiarkan Salat Tarawih secara langsung dari masjid yang terletak di Badhoevedorp Amsterdam ini.

Belakangan saya juga tahu, ada satu komunitas pengajian kitab Nashaihul Ibad di “kota santri”-nya Belanda, Leiden. Sayangnya, pengajian kitab karya ulama Nusantara Syekh Nawawi Banten ini tidak disiarkan secara luas, masih terbatas untuk komunitas Halaqah Diniyah Leiden–yang kebanyakan anggotanya juga mahasiswa Indonesia di Leiden. 

Purwaneka kegiatan dalam situasi terkuncitara di Belanda yang saya catat di atas, belum termasuk dengan saat sesekali saya berkesempatan menyimak ngaji pasan yang digelar oleh banyak masyayikh di Tanah Air.

Perbedaan zona waktu antara Belanda dan Indonesia menjadi berkah, apalagi jika dengan memasukkan penyelenggara kajian daring dari belahan dunia lain seperti PCINU Tiongkok, PCINU Mesir, PCINU Australia, PCINU FREU, hingga komunitas-komunitas muslim Indonesia lainnya di Jerman, Inggris, dan di mana saja.

Semestinya suasana Ramadan tidak pernah terputus tiap siang dan malamnya. Namun, bagaimana jika ternyata ibadah naum fi shaum (tidur saat berpuasa) menjadi lebih kuat tarikan magnetnya? Wallahu a’lam. (AA)

Dawam M. Rohmatulloh Dosen INSURI dan IAIN Ponorogo, pengelola Omah Jurnal Sunan Giri Ponorogo, kini menempuh studi doktoral di Universiteit Utrecht, Belanda. Ber-#postitoergosum melalui akun IG @kang_dawam.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *