Dhiya Muhammad Pengajar di Pesantren al-Misykat Demak Jawa Tengah

KH. Majid Kamil Maimoen, Sang Pengkaji Shahih Bukhari

3 min read

Kemarin malam senin tanggal 21 Dzul Qa’dah, Indonesia kembali kehilangan putra terbaiknya. Sosok yang dengan ikhlas berkhidmah untuk ilmu agama, bangsa dan negara. Sosok yang low profile. Beliau selalu tawādhu’ dan mengajarkan ilmunya melalui perilaku sebelum melalui ucapan dan kata-kata. Ya, kita kehilangan sosok mulia, beliau adalah Allahu Yarham Syaikhuna Abuya KH. Majid Kamil Maimoen.

Menurut saya pribadi,—santri-santri yang lain bisa berbeda tentunya—, kenangan paling berkesan dan membekas dengan beliau adalah saat mengkaji kitab Sahīh Bukhārī di musala utama Pondok Pesantren al-Anwar Sarang, setiap bakda Maghrib. Saya melihat beliau benar-benar menikmati saat momen-momen ngaji tersebut. Nampak rasa nyaman dari gestur tangan beliau menjelaskan. Sangat nampak sekali beliau asyik bercengkrama dengan Hadits-hadits Nabawiyah yang dikumpulkan oleh Imam Bukhārī dalam buku babon tersebut. Ya, akhirnya kami para santri yang ikut mengkaji pun terbawa keasyikan beliau itu.

Bagi sebagian santri, mungkin ada rasa bahwa ngaji dengan Abuya Majid Kamil ini membosankan. Terlebih lagi, lama tidak khatam-khat. Omongan seperti itu, benar-benar pernah saya dengar sendiri keluar dari mulut salah satu santri. Saya bisa menebak bahwa keinginannya ya hanya ikut khataman kitab dan dapat makna saja. Bukan mengkaji materi kitab tersebut.

Tapi bagi santri-santri yang benar-benar ingin mengkaji Sahīh Bukhārī, “Sanadan wa Matnan wa Fiqhan”, maka majelis Abuya Kamil adalah majelis yang tepat. Kita tidak hanya disuguhi makna perkata dari redaksi Hadits Nabawi, tapi juga varian analisis ala Ahlul Hadits yg sangat-sangat menarik. Dalam tulisan ini, saya akan menuliskan beberapa contoh catatan-catatan saya dulu, saat Talaqqī Hadits Bukhārī pada beliau.

1. Bab permulaan wahyu.

Saat kajian Sahīh Bukhārī sampai pada Hadits ke-3 dari Bab ke-1, yakni Bab “Kayfa Kāna Bad’ al-Wahyi”. Tepatnya pada kisah pertemuan pertama Baginda Nabi Muhammad Saw dengan Malaikat Jibril As. Yang mana dalam Sahīh Bukhārī, Hadits ini diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah RA. Dalam membahas Hadits ini, saya menuliskan dalam catatan pinggir:

Baca Juga  KH. Thalhah Rani: Ulama Ahli Tajwid dari Indragiri Hilir Riau

قال شيخنا ماجد: قال العلماء إن هذا الحديث إما من مراسيل الصحابة لأن سيدتنا عائشة لم يعاصر هذا الأمر أو أخذته من رسول الله مباشرة.

“Syaikhuna Majid berkata: Para ulama berkata bahwa Hadits ini (memiliki dua kemungkinan) adakalanya ini termasuk Marāsil Sahabat sebab Sayyidatuna Aisyah tidak ada satu masa dengan peristiwa ini atau beliau mengambil kisah ini langsung dari Rasulullah”

Ya, tentunya kita tahu, bahwa Hadits ini mengisahkan awal mula baginda Nabi saat menerima Wahyu. Saat Sayyidatuna Khadijah masih hidup. Lalu ia menyelimuti baginda Nabi, saat Baginda Nabi pulang dari gua Hira. Nah, anehnya Hadits ini diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah, yang tentunya secara pasti belum pernah “menangi” kejadian ini. Ada yang musykil dalam riwayat ini, “Bagaimana mungkin Siti Aisyah meriwayatkan sesuatu yang beliau tidak menangi sama sekali?”.

Jawabannya ada pada penjelasan Syaikhuna Majid Kamil yang saya catat di atas.

Dalam catatan berikutnya, saya juga mencatat:

عند شيخنا ماجد عن شيخه (السيد) محمد علوي (المالكي الحسني): إن خديجة أول من أسلم على الإطلاق

“Menurut guru kami, Syaikhina Majid dari guru beliau, (Sayyid) Muhammad Alawī (al-Mālikī al-Hasanī): bahwa (Sayyidah) Khadijah adalah orang pertama yang masuk Islam, secara Mutlak”

Ya, dalam masalah siapakah sosok pertama orang yang masuk Islam, memang terjadi banyak pendapat para ulama. Ada yang mengatakan sahabat Abu Bakar, ada yang mengatakan sahabat Ali, Sayyidah Khadijah dan masih banyak yang lain.

Tetapi, berangkat dari Hadits permulaan Wahyu tersebut di atas, Abuya Majid Kamil memilih pendapat—sebagaimana Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki—bahwa Siti Khadijah lah sosok pertama yang masuk Islam secara absolut. Ini tentunya menarik, sebab tidak seperti yang kita ketahui selama ini.

Baca Juga  Quraish Shihab: Nabi Muhammad Sebagai Nabi dan Manusia

2. Ketelitian pada Ta’līq Hadits atau bukan.

Hal menarik dalam majelis ngaji Sahīh Bukhārī Abuya Majid adalah analisa beliau. Sering sekali beliau menyebutkan bahwa Hadits ini, ada potensi mu’allaq jika begini, tapi jika begini tidak. Contoh pada Hadits ke-2 dari Bab ke-1 kitab Sahīh Bukhārī. Saat sampai pada redaksi:

قالت عائشة رضي الله عنها ولقد رأيته ينزل عليه الوحي…. إلخ

Dalam catatan pinggir, saya menuliskan keterangan:

في وجود الواو وعدمه خلاف. من قال بوجوده يفهم أن هذا الحديث بسند قبله. ومن قال بعدمه بينهم خلاف. بعضهم قال إن هذا من معلقات البخاري لكن للاستئناس. وقال غيره إن هذا الواو محذوف ومقدر. اتنهى شيخنا ماجد.

“Dalam masalah adanya huruf واو (sebelum kalimat قالت ) dan tidak adanya, terjadi khilāf. Ulama yang berpendapat bahwa ada huruf wāwu, maka ia memahami bahwa dawuh Sayyidah Aisyah di atas, itu diriwayatkan dengan sanad seperti sanad sebelumnya.

Adapun orang yang berpendapat tidak ada wāwu, maka antara mereka sendiri juga ada khilaf. Sebagian mengatakan bahwa dawuh Sayyidah Aisyah di atas ini termasuk Hadits-hadits Mu’allaq dalam Sahīh Bukhārī, tetapi disebutkan, untuk sekadar Isti’nās (penguat) saja. Adapun yang lain, mengatakan bahwa huruf Wawunya dibuang dan dikira-kirakan (artinya dawuh Aisyah, diriwayatkan dengan sanad sebelumnya dan bukan Mu’allaq)”

Sampai sedetil ini beliau membahas, menjelaskan, memaaparkan dengan lugas, asyik, dan komprehensif. Andaikan Sahīh Bukhārī dikaji dengan pola seperti beliau ini, saya yakin, sebenarnya kalangan santri tidak akan kalah kajian Haditsnya dengan kaum sebelah, yang gembar-gembor selalu mengajak kembali pada Hadits Nabawi.

Seingat saya, ada tiga kitab pokok yang selalu beliau bawa saat hendak mengkaji Sahīh Bukhārī di musala setiap bakda Maghrib. Yakni Fath al-Bāri karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalānī, Irsyād al-Sāri karya Imam al-Qasthallānī dan Umdat al-Qāri karya Badruddin al-‘Aini. Terkadang juga beliau menyertakan kitab Syarh Tarājim al-Bukhārī yang kalau tidak salah dianggit oleh Imam Waliyyudīn al-Dihlāwi.

Baca Juga  Gus Nadirsyah Hosen, Muslim Milenial Pejuang Kemanusiaan

Ada banyak catatan menarik dalam kajian beliau. Semoga di lain waktu, ada catatan lain yang mengulas tentang beliau, baik dari saya atau para santri. Mari kita sama-sama tengadahkan tangan kita untuk berdoa dan membacakan surah al-Fatihah untuk guru kita yang baru saja kembali pulang untuk bertemu sang kekasih, Baginda Nabi, Simbah Maimoen dan Abuya Sayyid Muhammad al-Maliki. [MZ]

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله واجعل الجنة مثواه. آمين

Dhiya Muhammad Pengajar di Pesantren al-Misykat Demak Jawa Tengah