Ja'far Dosen Pascasarjana UIN Sumatera Utara Medan

Syeikh Hasan Ma’shum dari Sumatera: Figur Penting Organisasi al-Jam‘iyyah al-Washliyah

3 min read

Syeikh Hasanuddin b. Muhammad Ma’shum b. Abi Bakar al-Deli al-Sumatrawi dilahirkan di Labuhan Deli, Sumatera Timur, pada hari Sabtu pada tanggal 17 Muharram 1301 H, bertepatan dengan tahun 1884 M. Syeikh Hasan benar-benar mewarisi bakat dari sang ayah yang bernama Syeikh Muhammad Ma’shum yang dikenal sebagai ahli dalam bidang tasawuf, bahkan merupakan seorang hartawan yang berpangkat Syahbandar bergelar Datuk. Sejak kecil Syeikh Hasan telah menampakkan sifat zuhud dan ilmuwan, meskipun berasal dari keluarga hartawan.

Pada tahun 1894, Syeikh Hasan akhirnya melanjutkan studi agama ke Makkah. Tidak kurang dari 20 tahun, Syeikh Hasan menimba ilmu-ilmu agama di Haramain (Makkah dan Madinah). Selama di Haramain, ia belajar ilmu-ilmu agama Islam kepada para ulama seperti Syeikh ‘Abd al-Salām, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syeikh Ahmad Hayat, Syeikh ‘Abd al-Hamīd al-Quddūs, Syeikh ‘Utsmān Tanjung Pura, Syeikh ‘Abd al-Qādir al-Mandilī, Syeikh Saleh Bafadil, Syeikh Sa‘id Yamanī, Syeikh ‘Abd al-Karīm Dgestanī, Syeikh ‘Ali Malikī, Syeikh Muhammad Khayyath, dan Syeikh Āmīn Ridwān. Hasan mengkaji karya-karya akademik seperti ilmu tauhid dari mazhab Asy‘arīyah, ilmu fiqh dari mazhab Shāfi‘īyah, dan ilmu tasawuf dari tarekat Khalwatīyah dan Naqshabandīyah.

Sebagai pelajar agama selama 20 tahun, ia menyadari bahwa semua ilmu agama Islam seperti tauhid, fiqh dan tasawuf sangat penting, sehingga ia harus menemui dan mengikuti pelajaran dari para ulama Haramain, dan akhirnya mengantarkannya menjadi seorang ulama dan benteng mazhab Sunni.

Sebagai pelajar agama, Syeikh Hasan memiliki ketekunan tinggi sehingga mendapatkan legitimasi dari ulama dan pelajar di Haramain karena mampu menguasai materi-materi agama dengan maksimal. Bukti pertama, Syeikh Hasan dipercaya sebagai wakil Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang memiliki banyak murid. Hasan mulai mengajar banyak murid di Masjid al-Haram, Makkah. Bukti kedua, Syeikh Hasan menulis empat kitab berbahasa Arab selama belajar dan mengajar di Makkah seperti Durār al-Bayān, Kutufāt al-Thanīyah, As‘āf al-Murīdīn, dan Fath al-Wadūd. Belakangan keempat kitab berbahasa Arab tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab-Melayu dan diterbitkan di Medan Deli. Dalam usia 32 tahun, kedudukan sebagai guru di Makkah menjadi indikasi bahwa Syeikh Hasan diakui sebagai ulama berbakat, sedangkan keberadaan empat karya berbahasa Arab tersebut menjadi bukti kepakarannya dalam bidang tauhid, fiqh dan tasawuf. Pada periode ini, ia telah menjadi seorang syeikh, ulama terkenal di Makkah, dan memiliki sejumlah murid di Masjid al-Haram.

Baca Juga  Mengenal Ibrahim bin Adham, Seorang Pangeran yang Meniti Jalan Sufi

Syeikh Hasan mendapatkan kepercayaan dari Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (mufti Kerajaan Hijaz dan Imam Mazhab Shāfi‘ī di Masjid al-Haram) sebagai pengajar di Masjid al-Haram. Banyak ulama-ulama Nusantara pernah berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib, dan di antara mereka adalah KH. Hasyim Asy‘ari yang mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah. Sanad intelektual Syeikh Ahmad Khatib bersambung sampai kepada pendiri dan ulama-ulama mazhab Shāfi‘īyah dan Ash‘arīyah. Sebab itulah, Syeikh Hasan dan murid-muridnya dari organisasi al-Washliyah juga memiliki hubungan intelektual dan spiritual dengan ulama-ulama mazhab Shāfi‘īyah dan Asy‘arīyah. Fakta tersebut membuat al-Washliyah dapat dikatakan sebagai salah satu benteng mazhab Sunni di Indonesia.

Sebagai guru di Masjid al-Haram, Syeikh Hasan kerap berinteraksi dengan ulama-ulama Makkah dari berbagai bangsa untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaan yang terjadi di dunia Islam, khususnya Nusantara. Sekadar contoh, ia pernah menghadiri rapat ulama-ulama Makkah yang dipimpin oleh Syeikh Sayyid ‘Abd Allah (mufti mazhab Shāfi‘i di Makkah) dan Syeikh ‘Abd Allah Sarrāj (hakim agung dan pemimpin ulama Hijaz) dan dihadiri oleh ulama-ulama Sunni dari mazhab Shāfi‘ī, mazhab Mālikī dan mazhab Hanbalī seperti Syeikh ‘Abd Allah b. Ahmad, Syeikh Darwīsh Amīn, Syeikh Muhammad ‘Alī Husayn, Syeikh ‘Abd Allah b. ‘Abbās, Syeikh ‘Abd al-Qādir b. Sābir Mandiling, Syeikh Mahmūd Fatānī, dan Syeikh Hasanuddin b. Muhammad Maksum Medan Deli Sumatra. Di antara masalah yang dibahas dan diputuskan adalah larangan mengikuti pemikiran Ibn Taymīyah dan Ibn al-Qayyim al-Jawzīyah, dan tidak boleh menjadi makmum bila imam salatnya adalah pengikut Ibn al-Qayyim al-Jawzīyah. Ulama-ulama tersebut, termasuk Syeikh Hasan, mendasari paham mereka dengan paham Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah yang berhaluan Shāfi‘īyah, Mālikīyah, dan Hanbalīyah.

Baca Juga  Dari Munang hingga I Nyoman Dekker dan Laboratorium Pancasila Pertama di Indonesia dan Dunia

Relasi Syekh Hasan Ma’shum dengan Al Jam’iyatul Washliyah

Relasi Syekh Hasan Ma’shum dengan Al Jam’iyatul Washliyah ibarat hubungan guru dengan murid. Syeikh Hasan adalah Guru Besar sekaligus penasihat yang utama bagi Al Jam’iyatul Washliyah. Empat bulan setelah Al Jam’iyatul Washliyah berdiri, yang baru saja hendak membersarkan usahanya, kehilangan Al Ustadz M. Arsyad Thalib Lubis sebagai seketaris I perhimpunan ini, terpaksa berangkat ke Meulaboh (Aceh Barat) untuk memenuhi panggilan kaum muslimin menjadi guru di sana. Hingga pada awal Juli 1931 Al Jam’iyatul Washliyah memiliki susunan pengurus yang mana Syeikh Hasan sebagai salah satu penasihatnya. Pada akhir tanggal 10 Desember 1993, telah disahkan berdirinya Majelis Fatwa Al Jam’iyatul Washliyah, dan Syeikh Hasan termasuk salah satu dalam susunan anggotanya.

Pada tanggal 24 Juli 1934, diadakan Rapat Besar yang dihadiri oleh segenap anggota dan guru-guru serta pimpinan Al Jam’iyatul Washliyah, hingga dengan hasil pemungutan suara Pemilihan Anggota Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, Syeikh Hasan terpilih menjadi salah seorang dari tiga Advisor Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (Syeikh Hasan, Syeikh Muhammad Yunus dan Syeikh Ilyas Kadhi). Al Jam’iyatul Washliyah seakan mendapatkan kekuatan baru, apalagi ketika penduduk Sumatra Timur mengetahui Syeikh Hasan sebagai Advisornya. Dalam waktu singkat, Al Jam’iyatul Washliyah menjadi populer dan berdirilah cabangnya di mana-mana dan madrasahnya tumbuh berkembang.

Pada tanggal 8 Juli 1934, Al Jam’iyatul Washliyah cabang Pancur Batu (Arnhemia) melangsungkan perayaan maulid yang pertama sekali didaerah tersebut dengan penuh kegembiraan, Syeikh Hasan turut hadir bersama Kadhi Haji Ilyas didalamnya. Pada tanggal 17 Januari 1935, Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah menetapkan pemeriksa madrasah, Syeikh Hasan sebagai penasihat turut menandatangani ketetapan itu menurut keputusan rapat pengurus besar. Pada tanggal 5 Maret 1934, di rumah Syeikh Hasan yang berlokasi di jalan puri Medan, diadakan ujian guru-guru Al Jam’iyatul Washliyah yang dihadiri oleh Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah. Guru-guru peserta ujian kemudian diberikan surat izin mengajar atas tanda tangan Syeikh Hasan dan Sultan Amaluddin Sani (Sultan Deli).

Baca Juga  Abdurrahman Jami': Ulama Sufi, Penyair Klasik Iran dan Penutur Kisah Cinta Yang Agung

Salah satu usaha Al Jam’iyatul Washliyah dalam bidang ekonomi pada awal berdirinya adalah dengan dibentuknya Badan Chazanah al-Islahiyah Al Washliyah. Pokok-pokok pikiran mendirikan badan ini adalah untuk memperhatikan usaha Al Jam’iyatul Washliyah yang akan membutuhkan finansial seperti pemeliharaan anak yatim dan miskin, dakwah Islam, penyantunan para mualaf dan pendirian masjid-masjid, madrasah-madrasah dan kursus-kursus untuk umat Islam. Pendirian badan ini bertujuan untuk mencari dana demi terealisasinya usaha-usaha Al Jam’iyatul Washliyah tersebut. Ide ini dilontarkan oleh Syeikh Hasan dan beliau juga merangkap sebagai penasihat di dalam mengawasi badan ini. Rapat pendirian badan ini dilaksanakan di kediaman Syeikh Hasan yang berlokasi di jalan puri Medan, pada tanggal 31 Maret 1935. Syeikh Hasan kemudian juga menjadi bagian Majelis Mumtahin Al Jam’iyatul Washliyah, yang pada tanggal 16 sd 20 November 1935, bertempat di Padangbulanweg 190 diadakan Imtihan Umumi Al Jam’iyatul Washliyah yang pertama. [MZ]

Ja'far Dosen Pascasarjana UIN Sumatera Utara Medan

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *