Abdurrahman Jami’: Ulama Sufi, Penyair Klasik Iran dan Penutur Kisah Cinta Yang Agung

Abdurrahman Jami’, Penyair Klasik Iran dan Penutur Kisah Cinta Yang Agung

Tentu kita tidak asing dengan sebuah kisah cinta agung antara Zulaikha dan Yusuf As yang diabadikan dalam Alquran. Kisah cinta tersebut kemudian dituturkan kembali oleh sosok Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami’, atau yang kemudian dikenal dengan nama Abdurrahman Jami’.

Abdurrahman Jami’ adalah penyair klasik besar Iran, sebagaimana disebut dalam otobiografinya yang berjudul Rasyahi Bal fi Syarhi Hal (Pancaran Kenangan untuk Biografi). Lewat otobiografinya tersebut, para penulispun mempunyai gambaran tentang kehidupan dan karakter maestro sufi sekaligus sastra itu. Jami’ sendiri lahir pada tahun 1439 M atau 817 H di distrik Jam, provinsi Khurasan. Dia lahir 500 tahun setelah al-Hallaj yang hidup pada masa penuh dengan gejolak.

Jami’ terlahir dari seorang ayah yang merupakan sosok berpendidikan, sekaligus ulama Fiqh di distrik Jam. Sedangkan kakeknya adalah ulama terkemuka Isfahan yang pindah ke Khurasan dan menetap di distrik tersebut.

Ketika berusia lima tahun, Jami’ pindah ke kota Herat. Dia mengawali studi belajar bahasa Arab di bawah bimbingan Junaid Ausuli, dan kemudian masuk ke Madrasah Nizhamiyah di bawah bimbingan Samarqandi. Ketika usia lima belas tahun, Jami’ telah berhasil merampungkan pelajarannya karena bakatnya luar biasa.

Selama belajar di Herat, Jami’ mampu membaca dan menulis, dia kemudian mulai mempelajari Alquran dan menghafalkannya. Setelah berhasil menghafalkan Alquran, dia lalu belajar Tata Bahasa, Logika, Filsafat, Matematika, Astronomi serta Fiqh, Tafsir, dan Hadis.

Walaupun sudah menguasai berbagai bidang ilmu, namun ia merasa ilmu-ilmu tersebut belum cukup. Baginya ilmu yang bersifat lahiriah di atas tidaklah cukup, sehingga waktu masih muda dia sudah mempelajari dunia spiritual hingga mengalami perkembangan yang sangat cepat. Melalui dzikir dan pengalaman spiritual, dia akhirnya masuk ke tingkat yang mana hijab kebenaran mampu disingkap.

Setelah berada di ditingkatan tersebut, Jami’ kemudian diberi tanggung jawab untuk menggubah puisi. Dalam otobiografinya sendiri, Jami’ tidak menceritakan lebih jauh tentang kehidupannya. Namun banyak penulis di zamannya yang menulis tentangnya sebagaimana dijelaskan dalam buku Tales from the Land of the Sufis karya Mojdeh Bayat dan Muhammad Ali Jamnia.

Setelah itu, Jami’ pindah ke Samarkand dan melanjutkan pendidikan dengan Tabrizi yang juga guru Agha Baik, wazir agung pada waktu itu. Hubungan ini menyebabkan para tokoh Samarkand mengenal sosok Jami’, dan mulai mengagumi karyanya. Di Samarkand, Jami’ tinggal selama sembilan tahun dan setelah itu dia kembali lagi ke Herat.

Di masa hidupnya, Tasawuf telah mapan dan banyak Syekh Sufi seperti Syah Ni’matullah Wali, Muhammad Nurbakhshsh, Baha’uddin Naqsyaband yang meletakkan fondasi beberapa tarekat besar di Iran dan India. Di eranya juga, terjadi invansi tentara Mongol dan bangsa Tartar. Namun setelah itu, kondisi perdamaian di wilayah Persia relatif tenang dan mapan.

Kondisi tenang dengan tidak adanya perang tersebut pada akhirnya memberikan kesempatan bagi bangsa Persia untuk bersinar kembali, khususnya di kota Herat yang menjadi tempat Jami’ menghabiskan sebagian besar hidupnya. Di masa inilah, sang penguasa yang bernama Raja Syahrukh juga menjadi seorang pelindung seni dan berbagai macam sains dan tasawuf.

Bahkan sosok sosok Raja Syahrukh ketika mengunjungi sebuah toko, yang pertama kali dia kunjungi adalah khanaqah setempat dan gurunya. Minat sang raja terhadap bidang-bidang di atas, membuat kota Herat menjadi kota pusat seni dan sains. Sehingga Jami’ pun hidup di tengah masyarakat di mana k sastra dan seni mencapai puncak kemajuannya.

Dengan banyaknya ulama dan cendekiawan yang ada waktu itu, Jami’ kemudian tumbuh dan berkembang dalam waktu yang relatif cepat. Sebagai seorang yang ahli matematika dan ilmuwan, dia dihormati atas ilmu yang dimilikinya dan mereka memujinya atas berbagai kontribusi Jami’ dalam bidang sastra dan puisi.  Salah satu karya yang membicarakan Jami’ adalah Tadzkari Maikhana (Kenangan Kedai Minuman yang ditulis oleh Qazwani pada 1650 M).

Dalam kehidupannya, Jami’ juga pernah menduduki jabatan di sekolah yang dibangun Raja Syahrukh dan mengajar di sana. Bahkan Jami’ dipandang olrh banyak orang pada masa itu layaknya seperti Ibnu Arabi, karena ia menulis komentar dan uraian kritis terhadap bagian Fushush al-Hikam.

Abdul Ghafur Lari dalam Talameh (huruf terucapkan) mengatakan, Jami’ meninggalkan Herat pada saat sedang jatuh cinta dengan seseorang perempuan. Untuk menghindari hasrat tersebut, dia pergi ke Samarkand dan asyik menekuni ilmu pengetahuan. Hingga suatu malam dia sangat sedih memikirkan kekasihnya, ketika dalam sebuah bayangan dia melihat Syekh Sufi Kasyghari berkata, “saudaraku, pergi dan carilah seorang kekasih yang tidak bisa engkau biarkan pergi.

Jami’ pun bersenandung;

Sang kekasih menyeru dari kedai minuman, “datanglah!”

Lalu berilah aku anggur cinta, cawan dari cawan.

Kubebaskan diriku dari belenggu logika dan nalar.

Lalu kumulai meratap dan menangis untuk bersatu.

Setelah melihat hal tersebut, Jami’ pun sangat terpengaruh hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali menuju Herat untuk menemui Syekh Kasyghari. Dalam waktu relatif singkat, dia telah berhasil menempuh tahap-tahap yang sulit di jalan spiritual dan mencapai tingkat kesempurnaan yang tinggi.

Pada 1482 M, Syekh Kasyghari wafat. Jami’ kemudian belajar di bawah bimbingan Khwaja Ahrar yang mana kedua gurunya tersebut berasal dari tarekat Naqsyabandiyah.

Ketika umur 50 tahun, Jami’ bertemu dengan Khwaja Muhammad Parsa yang memberinya sepotong gula. Khwaja Parsa sendiri adalah Syekh Besar Naqsyabandiyah, yang akhirnya juga mempengaruhi sosok Jami’ menisbatkan pada tarekat tersebut.

Dan ketika umur 64 tahun, Jami’ berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka yang sedih karena ditinggal Jami’ mengatakan bahwa setiap amal kebaikan yang dilakukannya sama nilainya dengan menunaikan haji dengan berjalan kaki.

Setelah dari Makkah, Jami’ pergi ke Syiria kemudian ke Mesir dan Iraq lalu kembali lagi ke Herat. Di negeri-negeri tersebut, Jami’ juga banyak mendapatkan penghormatan. Hingga akhirnya beliau wafat di usia 81 tahun.

Beberapa hari sebelum meninggal, Jami’ sempat mengunjungi beberapa desa tetangga. Sekali waktu dia pergi ke sebuah desa yang tidak pernah diperhatikannya secara khusus, walaupun dia pernah tinggal di sana cukup lama. Muridnya yang merasa khawatir kemudian pergi kesana untuk menyusulnya dan setelah sampai di desa tersebut, ternyata dia berkata, “kita harus memutuskan ikatan.

Tiga hari sebelum meninggal, Jami’ memanggil beberapa murid dekatnya dan berkata, “Jadilah saksiku bahwa aku sama sekali tidak punya ikatan dengan apa pun atau siapa pun.” Jumat pagi, ia merasa kematiannya tiba. Dia melakukan shalat dan kemudian duduk dzikir, dan di tengah hari, ia pun meninggal.

Ketika para Sufi mengetahui bahwa Jami’ akan meninggal, banyak dari mereka yang sangat sedih. Merekapun berkumpul di rumahnya, sebagian dari mereka menangis pelan-pelan, sementara sebagian lain sibuk melantunkan zikir.

Tetapi ada salah seorang yang membaca Alquran dengan suara keras dan mengganggu yang lain. Akhirnya, Jami’ mengangkat kepalanya dan berkata, “Demi Allah, aku akan mati jika engkau tidak menghentikan keributanmu!

Jami’ adalah sosok penutur kisah cinta agung Yusuf Zulaikha. Kisah Yusuf Zulaikha sendiri sangat akrab di kalangan orang orang Yahudi dan Kristen dari kitab kejadian di bibel. Episode tentang Zulaikha yang menggoda Yusuf menjadi kisah cinta yang menyentuh, yang di dalamnya hasrat Zulaikha kepada Yusuf yang utama dan tampan secara spiritual menggambarkan ketundukan jiwa manusia kepada Kekasih Ilahi. [AA]

0

Alumnus Islamic Studies, International University of Africa, Sudan. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.